Sabtu, 14 April 2018

Sekolah Tidak Penting?

Beberapa video, artikel dan media-media yang digunakan belakangan ini mengkritisi tentang pentingnya sekolah dan pendidikan tinggi. Apakah menjamin kesuksesan atau tidak? Bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang salah atau apalah-apalah. Pertama, mengkritisi sesuatu atau berpandangan salah benar tentang sebuah hal adalah hal yang tidak bisa disalahkan. Termasuk mengkritisi sistem pendidikan juga tidak salah. Sah-sah saja, artinya orang tersebut sadar dengan apa yang sedang dilakukan.

Masalahnya begini, pendidikan adalah sebuah kesempatan. Saya pribadi beranggapan bagaimanapun juga pendidikan adalah hal sangat penting. duduk diperguruan tinggi itu adalah hal istimewa buat saya, kenapa? karena tidak semua orang diberikan anugrah bisa kuliah. Ada yang sampai SD, SMP atau SMA mungkin juga ada yang tidak kuliah. So, apakah saya merasa lebih sukses dari mereka?

Jadi begini, apa indikator orang dikatakan sukses dan tidak sukses?
1. Uang banyak sukses?
2. Punya perusahaan sukses?
3. Keluarga bahagia sukses?
4. Rumah bagus, mobil mewah atau apa?

Jadi sukses itu apa dulu? sampai kita bisa tahu, lebih sukses mana yang pendidikan tinggi sama yang nggak pendidikan tinggi?
Saya pun tidak mengklaim diri saya lebih sukses dari yang lain, karena standard sukses rasanya hanya dibentuk oleh orang-orang yang secara nggak sadar kita terima begitu saja.

Bagaimana dengan orang yang biasa-biasa saja, sederhana tetapi dia mau berbagi dan hidupnya jadi berkat buat sekitar?
Atau
Pengusaha kaya raya punya banyak uang tapi tidak peduli sesama malah hidupnya jadi batu sandungan?

So, bagaimana definisi sukses menurut anda? Sampai anda bisa judge orang sukses dan tidak sukses.

Kalau sukses diukur dari rumah mewah, berarti saya belum sukses karena saya belum punya rumah mewah.
Kalau sukses diukur dari uang banyak, berati saya belum sukses karena saya belum punya uang banyak.
Kalau sukses diukur dari mobil mewah, berarti saya belum sukses karena saya belum punya mobil mewah.
Agree?

Analoginya begini sih.
Murid nggak mau ya dibilang bodoh hanya karena standard nilai?
Saya juga nggak mau dibilang nggak sukses hanya karena standard tidak punya rumah mewah, tidak punya banyak uang dan lain sebagainya hehe

Murid jaman sekarang bisa protes ya kalau dibilang bodoh dengan acuan nilai matematika, ipa, bahasa dan lain sebagainya?
Eh tapi bilang seenaknya guru gak bisa ngajar hanya karena satu perkara haha. Bisa nggak pertanyaannya diubah jadi
"guru sukses ngajar dalam hal apa dulu?"
sama kayak permintaan murid
"murid pinter dalam hal apa dulu?"

Bukan salah sih mengkritisi, yang salah itu kalau mendewakan satu sudut pandang sebagai kebenaran yang hakiki hehe.
Coba lihatnya juga dari sudut pandang yang lain.
Susah memang kalau memperdebatkan sistem mana yang paling baik, siapa yang paling sukses atau siapa yang paling benar.

Kalau saya begini saja, diluar pandangan sekolah dan pendidikan penting atau tidak penting, selama saya punya kesempatan belajar dan mendapatkan kesempatan mengeyam pendidikan tinggi saya akan gunakan kesempatan itu sebaik mungkin.

Minggu, 08 April 2018

Tanpa Kepastian

"jadi Mbak sudah selama itu menunggu tanpa kepastian?"
"hidupku pasti, karena aku dijamin oleh Tuhan, bukan oleh manusia"
"hmm oke"

Girls, gimana perasaan kalian kalau sedang menjalin sebuah hubungan "tanpa status" hanya berdasarkan pada iman dan keyakinan? setia menjaga hati buat seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan kita?
kalau aku sih No, hehe. Bukan karena gengsi atau apa-apa ya, tetapi saya nggak sanggup.

Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang perempuan. Sebenarnya saya tidak terlalu peduli siapa dia, yang saya tahu dia sudah punya "pacar" saat itu, ya karena dengan mata kepala saya sendiri saya melihat bahwa dia pergi bersama dengan seorang laki-laki. Beberapa minggu kemudian (setelah pertemuan pertama) saya kembali berkontak dengan dia. Ya, bagi yang mengenal saya pasti akan bertanya "tumben?", saya juga nggak tau kenapa saya bisa membuka diri saja untuk dia. Btw, diawal perkenalan saya sudah lupa siapa namanya, saya cuma salaman kemudian dia ngucapin namanya siapa yaudahlah lewat gitu aja hehe.

Ternyata, pikiran saya menganggap bahwa dia sudah berpacaran itu salah. Rupanya dia hanya menjalin sebuah komitmen tanpa status "pacaran". Kok bisa? saya juga nggak tau kenapa dia bisa menjalani hubungan semacam itu. Kalau dibandingkan dengan saya, dia memiliki prinsip hidup yang jauh berbeda dengan prinsip hidup saya. Ya kalau saya sih, sebulan dicuekin cowok ya ngapain bertahan? hehe.

Kemudian saya tanya-tanya lagi lebih jauh mengenai hubungannya. Ya benar memang dia wanita yang sangat kuat. Intinya begini, dia menyukai seorang laki-laki, saya tahu laki-laki ini baik dan juga memberikan respon yang baik pula, tetapi tidak memberikan status "pacar". Si Mbak tetap berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik, meskipun saat ini si Mbak tidak melihat tanda-tanda yang baik. she life by faith!

Jujur sih, saya kagum. Masih ada gitu ya jaman sekarang wanita seperti dia. Memperjuangkan seseorang tanpa kepastian dari manusia.

Overall, it's OK.

God has prepared the best something for her.

Apa pendapatmu guys?
saya setuju dengan apa yang dia lakukan, tapi saya tidak akan menjalani apa yang dia jalani saat ini hehe

Kamis, 29 Maret 2018

Mencapai Mimpi

Tahun kelima saya menjalani kuliah yang seharusnya saya bisa menyelesaikan empat tahun dengan asumsi bahwa pendidikan S1 seharusnya ditempuh selama 4 tahun. Apakah saya ingin kuliah molor? ya nggak lah. siapa pula yang nggak ingin segera lulus dan bebas dari tekanan bantin skripsi?

Ketika saya bertemu dengan teman seangkatan nggak sedikit dari mereka yang bertanya
"kapan lulus Fik?"
"kayak e kamu pinter deh, kok gak lulus-lulus?"
"semangat Fik"
"ternyata S1 gak butuh pinter tok ya Fik"

Entah sindiran, ejekan atau apalah saya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang menurut mama saya senyuman saya adalah senyuman yang paling manis.

Ketika saya bertemu dengan adek kelas
"masih di kampus ce?"
"wee senior ku"

Saya pun tidak tahu apa tendensi mereka berkata seperti itu. Bahkan ketika bertemu dengan dosen saya

"Fik, kamu dulu kan asisten dosen terus, harusnya nggak sulit lah Tugas Akhirnya"

Nggak jauh dari kejadian-kejadian itu saya bertemu dengan staff kampus

"Ealah Fik, kok nggak lulus-lulus sih. Eman-eman waktumu"

Dan lain sebagainya, yang kalau saya tulis mungkin 1000 halaman A4 tidak cukup dengan font 12pt, spasi 1,5 times new roman (abaikan).

Dalam batin saya hanya bertanya balik tanpa saya sampaikan secara lisan
"kamu yang lulus 4 tahun atau 3,5 tahun atau yang sudah bekerja, apakah sudah mencapai mimpi?"
eh sebelum itu
"apakah punya mimpi?"

Saya kecewa dan ada kesedihan ketika saya harus mengulan topik tugas akhir saya dari 0, saya harus berjuang kembali dari awal. Bimbingan setiap minggu dan formalitas lainnya yang harus saya jalani lagi. Plus saya harus bayar uang kuliah lagi dan itu beban yang sangat menjengkelkan, kebijakan yang saya rasa cukup tidak masuk akal. Tapi yasudahlah, toh Tuhan mencukupkan semuanya.

Btw, kembali ke sebuah mimpi. Pada usia 13 tahun, saya duduk di kelas 3 SMP (kalau nggak salah). Saat itu saya punya seorang guru matematika yang sangat saya kagumi, namanya Bu Hendriati. Entah sejak kapan saya mengagumi beliau, intinya saya menjadikan dia adalah sosok panutan saya. Sampai saya punya sebuah mimpi karena saya melihat sosok beliau.

Mimpi saya adalah suatu saat saya akan menjadi guru matematika seperti beliau. Itu adalah mimpi dan passion saya sejak saya duduk dibangku SMP, saya memperjuangkan mimpi saya juga sejak saat itu.

Setelah lulus SMA saya mencoba keberuntungan saya untuk daftar di salah satu Universitas Negeri dengan jurusan pendidikan matematika, ternyata tidak lolos. Kemudian saya mendaftar di jurusan pendidikan fisika karena saya pikir tidak terlalu jauh dengan matematika, ternyata juga tidak lolos. Tidak berhenti saya mendaftar di jurusan Matematika Murni, hasilnya sama tidak lolos. Sampai saya juga tidak tahu kenapa saya bisa masuk di Teknik Informatika. Tapi minimal kebanggan saya bisa disebut sebagai anak teknik.

Awalnya saya tidak punya harapan lagi untuk mencapai mimpi saya, rasanya mustahil kok mimpi saya dengan pendidikan saya saat ini. Seorang teknik dan pendidik, latar belakang yang berbeda.
Suatu saat tanpa tendensi apapun, dengan kemampuan sederhana yang saya miliki, saya ingin membuatkan website secara cuma-cuma di SMP saya dulu sekolah. Saya tidak mengejar gaji, semata-mata memang saya ingin memberi. Tidak disangka ternyata saya ditawari untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan tawaran tersebut, saya tidak peduli gaji, tidak peduli pandangan orang lain. Itu adalah mimpi saya.

Usia saya saat itu 20 tahun dan saya sudah mencapai tujuan saya sebagai seorang guru matematika, saya merasakan bagaimana harus membuat perangkat belajar dan lain-lain. Btw, saya juga manusia biasa tidak semua hal bisa saya lakukan dalam waktu yang bersamaan.

Saya sudah mencapai mimpi saya sebelum studi saya selesai. How About you?
Kita punya Tuhan yang sama, kalau Tuhan memampukan saya untuk mencapai mimpi saya, Tuhan yang sama juga bisa melakukannya dalam hidupmu.
Langkah pertama, milikilah sebuah mimpi.

Jumat, 23 Maret 2018

Pilih Kasih?

Menurut studi yang pernah saya baca seobjektif-objektifnya manusia pasti mempunyai sisi subjektif. Meskipun orang tersebut sudah berusaha sedemikian rupa untuk bersikap netral dan adil, pasti ada satu ketika manusia melakukan apa yang dikehendaki hatinya.

Beberapa waktu lalu saya "diprotes" oleh beberapa murid saya yang menganggap bahwa saya bersikap tidak adil dengan alasan lebih dekat dengan si A dan si B sedangkan dengan si C tidak dekat. Sebenarnya begini, saya sebagai pendidik tidak ada niat atau maksud untuk bersikap tidak adil, tetapi kembali lagi tidak semua anak bisa diperlakukan sama.

Contohnya, si A bisa diperlakukan dengan kata-kata yang halus dan dia nurut, berbeda dengan si B kalau diperlakukan dengan kata-kata yang halus "ngelunjak". Kasus lain misalnya, si X meskipun akrab dan sering pergi diluar jam tetapi ketika di sekolah tetap bisa bersikap sebagai murid, tapi si Y belum tentu, ketika merasa dekat kayaknya dimanapun dia berada tidak bisa memposisikan diri.

Ada pula pertimbangan-pertimbangan lain yang membuat saya harus "jaga jarak" dengan anak-anak tertentu, yang pertama pastinya berkaitan dengan attitude atau sikap. Kalau sang anak "kurang sopan" dalam menjalin komunikasi dan keakaban pasti saya akan jaga jarak. Kalau si anak akrab layaknya ibu dan anak, bercanda sesuai dengan porsi dan mengasihi dengan tulus pasti hati saya akan terasa dan mampu membedakan mana anak-anak yang tulus dan mana anak-anak yang "ada maunya".
Overall, saya tetap mengasihi mereka dengan porsi yang dibutuhkan.

Diluar faktor internal kedekatan saya dengan anak, ada pula faktor eksternal. Ada banyak anak yang tahu saya, tetapi sangat sedikit anak yang mendekat. Anak-anak yang hanya bertemu saya ketika pagi dan dikelas saya pasti tingkat kedekatannya akan berbeda dengan anak yang pagi, istirahat pertama, istirahat kedua sampai pulang sekolah masih datang ke meja dan bergurau.

Ada beberapa anak yang memang dia datang, bukan saya yang memanggil, bukan saya yang mengajak dia bercanda diwaktu istirahat, tetapi karena dia yang punya inisiatif datang dan menyapa.

Komunikasi di luar pun juga mempengaruhi tingkat kedekatan saya dengan anak. Saya tidak pernah merahasiakan nomor hape dari anak-anak saya. Setiap anak yang meminta nomor hape pasti saya berikan. Ada anak-anak yang komunikasi setiap ada kesempatan dan ada anak-anak yang komunikasi kalau memang ada butuhnya aja, misalnya tanya PR, tanya ulangan dan tanya besok pulang jam berapa atau ada pelajaran nggak?

Dari keseluruhan anak yang saya kenal hanya ada 2 anak yang mejalin komunikasi intens dengan saya, ada nggak ada keperluan dia selalu sapa. Otomatis saya akan sangat dekat dengan kedua anak ini. Bahasan kami bisa tentang programming, olimpiade, kangen kangen an, pamer makanan dll. Ya hanya 2 anak ini yang mau membuka diri.

Disisi lain, ada anak-anak yang menganggap saya "pilih kasih", saya tidak membenarkan diri saya atas semua sikap dan tindakan saya, bagaimanapun juga saya manusia yang mungkin masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi karena keterbatasan saya menjangkau semua anak dan keterbatasan saya sebagai manusia saya tidak bisa melayani semua anak dengan sama rata.
Lagi pula, anak-anak yang dekat dengan saya memang anak-anak yang mau mendekat ke saya. Sedangkan yang lain hanya memandang saya dari kejauhan dan ketika saya dekat sama anak lain menilai saya tidak adil, kadang lucu juga.
Ya saya tidak bisa menghentikan apapun penilaian orang atau anak ke saya, prinsipnya apapun penilaian mereka terhadap saya, saya sudah melakukan yang terbaik dan saya tetap mengasihi mereka.

Kemudian saya merefleksikan apa yang terjadi dengan lebih dalam tentang relasi kita dengan Tuhan, ada banyak yang percaya Tuhan tetapi tidak mendekat kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan kalau ada butuhnya saja, apakah salah kalau pada akhirnya Tuhan memberikan dan menunjukan mujizat-mujizatnya kepada anak-anakNya yang setiap saat datang dan menyapa Nya?
Apakah Tuhan tidak adil?
Tapi tetap Tuhan tidak terbatas, yang perlu kita lakukan hanya mau mendekat dan menyapa, ada atau tidak ada keperluan sekalipun.

Manusia saja begitu, apalagi Tuhan?

Yang saya mau hanya, sini loh mendekat kalau memang mau dekat. Jangan hanya memandang dari kejauhan kemudian menilai orang lain "tidak adil".

God Bless :)

Rabu, 14 Februari 2018

Pasangan Hidup dan Materi

Hari minggu itu, sengaja saya dan seorang anak yang cukup dekat dengan saya pergi ke tempat makan baru. Kebetulan saat itu masih ada promo, jadi makanannya sangat murah dan enak. Ya, namanya juga promo.

Karena menu yang kami pesan adalah menu promo, wajar kalau kami harus menunggu beberapa saat sampai makanan itu datang.
Setelah sekitar setengah jam kami menunggu, makanan tersebut juga belum diantar kemeja saya. Untungnya saat itu ada 4 orang cowok yang duduk disebelah meja saya. Mereka tidak memesan menu promo, ya wajar kalau makanannya datang lebih cepat.

Kemudian mereka mulai bercakap-cakap. 1 dari 4 cowok disitu adalah perokok dan 3 teman yang lainnya cukup terganggu dengan asap rokoknya. Tapi karena keempat anak ini berteman, 3 teman yang lainnya menoleransi kebiasaan merokok 1 temannya ini.

Sambil makan mereka bercerita tentang seorang cewek. Oke, saya tertarik untuk mendengarkan cerita mereka. Bukan bermaksud nguping, tapi karena pembicaraan mereka cukup keras dan pas ada disebelah saya jadilah saya mendengar semua yang mereka bicarakan, sambil menunggu makanan datang.

Cowok 1 : Eh, gimana cewekmu?
Cowok 2 : Biasa, gak mau dijemput kalau aku nggak pakek Ninja
Cowok 3 : Kemakan lagu e Nella Kharisma
Cowok 4 : Iya, Lek gak Ninja gak Oleh Dicinta
Cowok 1 : Lagu e Setan a itu?

Widih, saya langsung speechless ketika cowok itu mengatakan "lagu setan". Ketiga teman yang lainnya ketawa saja mendengar temannya diperlakukan seperti itu oleh ceweknya.

Dipikiran saya saat itu, eh berarti beneran ya ada cewek yang masih memandang materi untuk mendapatkan seorang cowok?

Saya tidak mengatakan bahwa materi dari seorang cowok itu tidak penting, materi itu penting. Kenyataannya kita tidak bisa bertahan hidup tanpa materi. Bagaimanapun juga kita membutuhkan uang untuk membeli setiap kebutuhan hidup kita. Tetapi ini bukanlah satu-satunya indikator yang harus digunakan untuk menentukan siapa pasangan hidup kita. Pasangan hidup disini saya berbicara tentang pacar atau seseorang yang sedang menjalin komitmen dengan kita.

Bagi saya dari sudut pandang perempuan, materi itu salah satu yang harus dipertimbangkan, tetapi tidak menjadi satu-satunya.
Jauh akan lebih baik ketika seorang perempuan mau berjuang bersama dan saling melengkapi satu sama lain, mendukung dan saling memperhatikan. Meskipun saat itu, laki-laki yang sedang menjalin komitmen dengan kita belum mempunyai materi yang melimpah. Selama laki-laki tersebut mempunyai kemauan kerja dan berusaha yang terbaik, tidak ada yang salah.

Menjadi pendukung kepada laki-laki yang kita kasihi, bukan hanya sekedar menuntut laki-laki untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Kemudian percakapan mereka berlanjut

Cowok 2 : Cewek begitu masih kamu pertahankan?
Cowok 1 : Buat diajak jalan aja, dari pada kesepian, kalau nikah ya gak mau
Dan kembali ketiga teman yang lainnya hanya tertawa.

Oh oke, jadi saya bisa menyimpulkan bahwa itu cowok hanya mempermainkan cewek itu saja. Meskipun saya tidak mengenal siapa mereka, percakapan beberapa menit tadi cukup membuat saya memahami sisi lain dari laki-laki.

Ya tentu saja, si cewek hanya melihat si cowok dari sisi materi saja. Otomatis si cowok juga hanya akan menjadikan si cewek ini teman jalan atau nongkrong saja, bukan untuk menikah.

Konsep laki-laki baik akan mendapatkan perempuan yang baik dan laki-laki yang tidak baik akan mendapatkan perempuan yang tidak baik. Kecuali jika salah satu memaksakan kehendak manusiawinya. Misal perempuan baik memaksa hidup dengan laki-laki yang tidak baik dengan mengatasnamakan "cinta"
Cinta itu Buta tetapi Kasih Melihat

Pada intinya adalah kita akan mendapatkan apa yang sama dengan apa yang ada pada diri kita saat ini. Kalau saat ini kita menjadi pribadi yang baik, jangan khawatir pasangan kita tidak baik. Selama kita berjalan seturut dengan Kehendak Tuhan.
Roma 8:28

Minggu, 04 Februari 2018

H-1 Ulang Tahun

Saya menuliskan ini karena beberapa orang sudah pada heboh dengan hari esok.
"Cieee yang besok ulang tahun"
"Senyum-senyum karena besok hari special"
dan lain sebagainya. saya tidak ingin pamer kalau besok saya ulang tahun, tetapi saya juga tidak akan mengelak kalau besok adalah ulang tahun saya. Jujur saya paling tidak suka ketika harus diminta kapan tanggal lahir saya secara klasikal (public). bagi saya tanggal lahir saya adalah privasi saya.

Loh kan enak, banyak yang ngucapin?
Ngomong-ngomong masalah ucapan, saya tidak terlalu suka diucapkan oleh 1000 orang karena notifikasi social media, atau karena orang lain mengucapkan duluan kemudian yang lainnya ikut-ikutan mengucapkan selamat ulang tahun. Apakah itu berkesan? bagi saya tidak :)
Itu juga salah satu alasan saya menyembunyikan tanggal lahir saya di sosial media.

Disisi lain saya sama sekali tidak bermaksud menolak niat baik atau ucapan serta doa-doa baik dari orang lain.

Beberapa waktu lalu, saya dimintai data untuk dituliskan dalam sebuah buku parenting, termasuk tanggal lahir. Kalau saya sebenarnya cukup Nama Lengkap, Posisi dan Alamat, yah nomor hape kalau perlu.
Tanggal Lahir? Buat apa?
Tapi karena data itu diminta, okelah saya berikan dan jujur saya kurang nyaman ketika tanggal lahir saya harus terpampang di sebuah buku dan disebar luaskan. Banyak orang jadi tau kapan saya lahir dan kapan saya ulang tahun.

Bagi saya, tidak masalah orang lain tahu kapan ulang tahun saya, toh kenyataannya memang saya ulang tahun. Tetapi dari segi esensi keberhargaan saya dihati setiap orang menjadi sangat penting.

Pun demikian saya.
Dengan sangat mudah saya akan tau kapan ulang tahun Papa saya, kapan ulang tahun Mama saya, kapan ulang tahun Kakak saya, bahkan saya ingat kapan ulang tahun pacar pertama saya.
Mama saya 1 Januari, Papa 9 Januari, Kakak Saya 25 Oktober, Pacar pertama saya 15 April, Pacar kedua saya 5 Desember dan (si dia) 30 Januari hehe. Dengan sangat mudah saya menyebutkan tanggal-tanggal tersebut, tanpa saya perlu pengingat atau reminder. Kenapa?
Alasannya sederhana, karena mereka berharga dihidup saya. (kalau mantan pacar sudah tidak berharga, tetapi pernah berharga sehingga saya masih mengingatnya)

Ketika saya berharga untuk orang lain, saya yakin mereka tidak membutuhkan pengingat atau reminder kapan ulang tahun saya. Orang-orang yang menganggap saya berharga akan selalu menuliskan saya pada lubuk hati mereka dan mereka akan selalu ingat kapan hari special saya. that's my point. Itulah juga sebabnya mengapa saya sangat menghargai orang yang tidak pernah saya beritahu kapan ulang tahun saya dan dengan inisiatif akan bertanya "ulang tahunmu kapan?" yang pasti saya akan menjawab dengan jujur.

Bagi saya, akan lebih berharga 1 orang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya karena saya berharga dihidupnya, dibandingkan 1000 orang yang mengucapkan selamat ulang tahun karena reminder sosial media atau karena orang lain mengucapkan kemudian ikut-ikut mengucapkan hehe.

Ngomong-ngomong, hari ini saya baru saja bertemu dengan Ibu Rohani saya. Ibu yang selalu mendoakan dan membimbing saya dalam Iman. Saya bercerita tentang seseorang yang saya suka dan memang saya sedang menaruh hati kepada orang tersebut. Ditengah-tengah pembicaraan kami sang Ibu berkata "Nak, besok kita tidak berjumpa tetapi Ibu mau ucapkan selamat ulang tahun yang ke 22"

Saya tidak pernah memancing Ibu untuk mengingat kapan ulang tahun saya. FYI, Ibu Rohani saya ini adalah seorang gembala gereja yang mempunyai banyak jemaat dan ada pula beberapa anak yang sangat dekat dengan Ibu. Saya adalah salah satu diantara mereka. Ketika Ibu mengucapkan hal tersebut, poin yang saya ambil adalah "Saya berharga dihidup Ibu Rohani saya". Ibu tidak pernah memasang reminder, Ibu tidak melihat dari sosial media, tetapi Ibu tahu kapan hari special saya karena saya juga orang yang special untuk Ibu.

Saya juga sangat yakin bahwa besok, ketika saya bangun dan membuka mata. Papa, Mama dan Kakak saya akan melakukan hal yang sama tanpa saya ingatkan. Kenapa? Sekali lagi karena saya berharga untuk mereka.

Terimakasih banyakkkk untuk orang-orang yang termasuk kategori mengingat ulang tahun saya tanpa reminder dan menjadikan saya adalah orang special. Saya sangat menghormati dan yang pasti saya pun akan menempatkan kalian sebagai orang special di hati saya.

Sabtu, 27 Januari 2018

Sudah Lepaskan Saja

Bagaimanapun juga kamu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Masa-masa mulai mengenal, dekat dan akhirnya kau memutuskan untuk pergi adalah keputusanmu. Kau tidak sepenuhnya salah. jika diawal aku bersusah payah untuk melupakan, aku mencoba untuk mengenal yang lain tetapi sampai saat ini Tuhan belum mengijinkan aku untuk kembali jatuh hati. Aku hanya terdiam dan sesekali berpikir, kalau kau memutuskan pergi sepihak dan disini aku hanya bisa diam lantas memang benar aku tidak melakukan usaha apapun.

Seharusnya ini tidak pernah terjadi, seharusnya aku tidak mengenalmu, seharusnya dulu aku mengabaikanmu saja, ketimbang sekarang aku harus menanggung rasa rindu yang sesekali hadir.

Menangis dengan tiba-tiba ketika aku melihat smartphone ku yang tidak ada notifikasimu. Ah sudahlah.

Goresan dalam 5 menit.