Jumat, 23 Maret 2018

Pilih Kasih?

Menurut studi yang pernah saya baca seobjektif-objektifnya manusia pasti mempunyai sisi subjektif. Meskipun orang tersebut sudah berusaha sedemikian rupa untuk bersikap netral dan adil, pasti ada satu ketika manusia melakukan apa yang dikehendaki hatinya.

Beberapa waktu lalu saya "diprotes" oleh beberapa murid saya yang menganggap bahwa saya bersikap tidak adil dengan alasan lebih dekat dengan si A dan si B sedangkan dengan si C tidak dekat. Sebenarnya begini, saya sebagai pendidik tidak ada niat atau maksud untuk bersikap tidak adil, tetapi kembali lagi tidak semua anak bisa diperlakukan sama.

Contohnya, si A bisa diperlakukan dengan kata-kata yang halus dan dia nurut, berbeda dengan si B kalau diperlakukan dengan kata-kata yang halus "ngelunjak". Kasus lain misalnya, si X meskipun akrab dan sering pergi diluar jam tetapi ketika di sekolah tetap bisa bersikap sebagai murid, tapi si Y belum tentu, ketika merasa dekat kayaknya dimanapun dia berada tidak bisa memposisikan diri.

Ada pula pertimbangan-pertimbangan lain yang membuat saya harus "jaga jarak" dengan anak-anak tertentu, yang pertama pastinya berkaitan dengan attitude atau sikap. Kalau sang anak "kurang sopan" dalam menjalin komunikasi dan keakaban pasti saya akan jaga jarak. Kalau si anak akrab layaknya ibu dan anak, bercanda sesuai dengan porsi dan mengasihi dengan tulus pasti hati saya akan terasa dan mampu membedakan mana anak-anak yang tulus dan mana anak-anak yang "ada maunya".
Overall, saya tetap mengasihi mereka dengan porsi yang dibutuhkan.

Diluar faktor internal kedekatan saya dengan anak, ada pula faktor eksternal. Ada banyak anak yang tahu saya, tetapi sangat sedikit anak yang mendekat. Anak-anak yang hanya bertemu saya ketika pagi dan dikelas saya pasti tingkat kedekatannya akan berbeda dengan anak yang pagi, istirahat pertama, istirahat kedua sampai pulang sekolah masih datang ke meja dan bergurau.

Ada beberapa anak yang memang dia datang, bukan saya yang memanggil, bukan saya yang mengajak dia bercanda diwaktu istirahat, tetapi karena dia yang punya inisiatif datang dan menyapa.

Komunikasi di luar pun juga mempengaruhi tingkat kedekatan saya dengan anak. Saya tidak pernah merahasiakan nomor hape dari anak-anak saya. Setiap anak yang meminta nomor hape pasti saya berikan. Ada anak-anak yang komunikasi setiap ada kesempatan dan ada anak-anak yang komunikasi kalau memang ada butuhnya aja, misalnya tanya PR, tanya ulangan dan tanya besok pulang jam berapa atau ada pelajaran nggak?

Dari keseluruhan anak yang saya kenal hanya ada 2 anak yang mejalin komunikasi intens dengan saya, ada nggak ada keperluan dia selalu sapa. Otomatis saya akan sangat dekat dengan kedua anak ini. Bahasan kami bisa tentang programming, olimpiade, kangen kangen an, pamer makanan dll. Ya hanya 2 anak ini yang mau membuka diri.

Disisi lain, ada anak-anak yang menganggap saya "pilih kasih", saya tidak membenarkan diri saya atas semua sikap dan tindakan saya, bagaimanapun juga saya manusia yang mungkin masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi karena keterbatasan saya menjangkau semua anak dan keterbatasan saya sebagai manusia saya tidak bisa melayani semua anak dengan sama rata.
Lagi pula, anak-anak yang dekat dengan saya memang anak-anak yang mau mendekat ke saya. Sedangkan yang lain hanya memandang saya dari kejauhan dan ketika saya dekat sama anak lain menilai saya tidak adil, kadang lucu juga.
Ya saya tidak bisa menghentikan apapun penilaian orang atau anak ke saya, prinsipnya apapun penilaian mereka terhadap saya, saya sudah melakukan yang terbaik dan saya tetap mengasihi mereka.

Kemudian saya merefleksikan apa yang terjadi dengan lebih dalam tentang relasi kita dengan Tuhan, ada banyak yang percaya Tuhan tetapi tidak mendekat kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan kalau ada butuhnya saja, apakah salah kalau pada akhirnya Tuhan memberikan dan menunjukan mujizat-mujizatnya kepada anak-anakNya yang setiap saat datang dan menyapa Nya?
Apakah Tuhan tidak adil?
Tapi tetap Tuhan tidak terbatas, yang perlu kita lakukan hanya mau mendekat dan menyapa, ada atau tidak ada keperluan sekalipun.

Manusia saja begitu, apalagi Tuhan?

Yang saya mau hanya, sini loh mendekat kalau memang mau dekat. Jangan hanya memandang dari kejauhan kemudian menilai orang lain "tidak adil".

God Bless :)

Rabu, 14 Februari 2018

Pasangan Hidup dan Materi

Hari minggu itu, sengaja saya dan seorang anak yang cukup dekat dengan saya pergi ke tempat makan baru. Kebetulan saat itu masih ada promo, jadi makanannya sangat murah dan enak. Ya, namanya juga promo.

Karena menu yang kami pesan adalah menu promo, wajar kalau kami harus menunggu beberapa saat sampai makanan itu datang.
Setelah sekitar setengah jam kami menunggu, makanan tersebut juga belum diantar kemeja saya. Untungnya saat itu ada 4 orang cowok yang duduk disebelah meja saya. Mereka tidak memesan menu promo, ya wajar kalau makanannya datang lebih cepat.

Kemudian mereka mulai bercakap-cakap. 1 dari 4 cowok disitu adalah perokok dan 3 teman yang lainnya cukup terganggu dengan asap rokoknya. Tapi karena keempat anak ini berteman, 3 teman yang lainnya menoleransi kebiasaan merokok 1 temannya ini.

Sambil makan mereka bercerita tentang seorang cewek. Oke, saya tertarik untuk mendengarkan cerita mereka. Bukan bermaksud nguping, tapi karena pembicaraan mereka cukup keras dan pas ada disebelah saya jadilah saya mendengar semua yang mereka bicarakan, sambil menunggu makanan datang.

Cowok 1 : Eh, gimana cewekmu?
Cowok 2 : Biasa, gak mau dijemput kalau aku nggak pakek Ninja
Cowok 3 : Kemakan lagu e Nella Kharisma
Cowok 4 : Iya, Lek gak Ninja gak Oleh Dicinta
Cowok 1 : Lagu e Setan a itu?

Widih, saya langsung speechless ketika cowok itu mengatakan "lagu setan". Ketiga teman yang lainnya ketawa saja mendengar temannya diperlakukan seperti itu oleh ceweknya.

Dipikiran saya saat itu, eh berarti beneran ya ada cewek yang masih memandang materi untuk mendapatkan seorang cowok?

Saya tidak mengatakan bahwa materi dari seorang cowok itu tidak penting, materi itu penting. Kenyataannya kita tidak bisa bertahan hidup tanpa materi. Bagaimanapun juga kita membutuhkan uang untuk membeli setiap kebutuhan hidup kita. Tetapi ini bukanlah satu-satunya indikator yang harus digunakan untuk menentukan siapa pasangan hidup kita. Pasangan hidup disini saya berbicara tentang pacar atau seseorang yang sedang menjalin komitmen dengan kita.

Bagi saya dari sudut pandang perempuan, materi itu salah satu yang harus dipertimbangkan, tetapi tidak menjadi satu-satunya.
Jauh akan lebih baik ketika seorang perempuan mau berjuang bersama dan saling melengkapi satu sama lain, mendukung dan saling memperhatikan. Meskipun saat itu, laki-laki yang sedang menjalin komitmen dengan kita belum mempunyai materi yang melimpah. Selama laki-laki tersebut mempunyai kemauan kerja dan berusaha yang terbaik, tidak ada yang salah.

Menjadi pendukung kepada laki-laki yang kita kasihi, bukan hanya sekedar menuntut laki-laki untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Kemudian percakapan mereka berlanjut

Cowok 2 : Cewek begitu masih kamu pertahankan?
Cowok 1 : Buat diajak jalan aja, dari pada kesepian, kalau nikah ya gak mau
Dan kembali ketiga teman yang lainnya hanya tertawa.

Oh oke, jadi saya bisa menyimpulkan bahwa itu cowok hanya mempermainkan cewek itu saja. Meskipun saya tidak mengenal siapa mereka, percakapan beberapa menit tadi cukup membuat saya memahami sisi lain dari laki-laki.

Ya tentu saja, si cewek hanya melihat si cowok dari sisi materi saja. Otomatis si cowok juga hanya akan menjadikan si cewek ini teman jalan atau nongkrong saja, bukan untuk menikah.

Konsep laki-laki baik akan mendapatkan perempuan yang baik dan laki-laki yang tidak baik akan mendapatkan perempuan yang tidak baik. Kecuali jika salah satu memaksakan kehendak manusiawinya. Misal perempuan baik memaksa hidup dengan laki-laki yang tidak baik dengan mengatasnamakan "cinta"
Cinta itu Buta tetapi Kasih Melihat

Pada intinya adalah kita akan mendapatkan apa yang sama dengan apa yang ada pada diri kita saat ini. Kalau saat ini kita menjadi pribadi yang baik, jangan khawatir pasangan kita tidak baik. Selama kita berjalan seturut dengan Kehendak Tuhan.
Roma 8:28

Minggu, 04 Februari 2018

H-1 Ulang Tahun

Saya menuliskan ini karena beberapa orang sudah pada heboh dengan hari esok.
"Cieee yang besok ulang tahun"
"Senyum-senyum karena besok hari special"
dan lain sebagainya. saya tidak ingin pamer kalau besok saya ulang tahun, tetapi saya juga tidak akan mengelak kalau besok adalah ulang tahun saya. Jujur saya paling tidak suka ketika harus diminta kapan tanggal lahir saya secara klasikal (public). bagi saya tanggal lahir saya adalah privasi saya.

Loh kan enak, banyak yang ngucapin?
Ngomong-ngomong masalah ucapan, saya tidak terlalu suka diucapkan oleh 1000 orang karena notifikasi social media, atau karena orang lain mengucapkan duluan kemudian yang lainnya ikut-ikutan mengucapkan selamat ulang tahun. Apakah itu berkesan? bagi saya tidak :)
Itu juga salah satu alasan saya menyembunyikan tanggal lahir saya di sosial media.

Disisi lain saya sama sekali tidak bermaksud menolak niat baik atau ucapan serta doa-doa baik dari orang lain.

Beberapa waktu lalu, saya dimintai data untuk dituliskan dalam sebuah buku parenting, termasuk tanggal lahir. Kalau saya sebenarnya cukup Nama Lengkap, Posisi dan Alamat, yah nomor hape kalau perlu.
Tanggal Lahir? Buat apa?
Tapi karena data itu diminta, okelah saya berikan dan jujur saya kurang nyaman ketika tanggal lahir saya harus terpampang di sebuah buku dan disebar luaskan. Banyak orang jadi tau kapan saya lahir dan kapan saya ulang tahun.

Bagi saya, tidak masalah orang lain tahu kapan ulang tahun saya, toh kenyataannya memang saya ulang tahun. Tetapi dari segi esensi keberhargaan saya dihati setiap orang menjadi sangat penting.

Pun demikian saya.
Dengan sangat mudah saya akan tau kapan ulang tahun Papa saya, kapan ulang tahun Mama saya, kapan ulang tahun Kakak saya, bahkan saya ingat kapan ulang tahun pacar pertama saya.
Mama saya 1 Januari, Papa 9 Januari, Kakak Saya 25 Oktober, Pacar pertama saya 15 April, Pacar kedua saya 5 Desember dan (si dia) 30 Januari hehe. Dengan sangat mudah saya menyebutkan tanggal-tanggal tersebut, tanpa saya perlu pengingat atau reminder. Kenapa?
Alasannya sederhana, karena mereka berharga dihidup saya. (kalau mantan pacar sudah tidak berharga, tetapi pernah berharga sehingga saya masih mengingatnya)

Ketika saya berharga untuk orang lain, saya yakin mereka tidak membutuhkan pengingat atau reminder kapan ulang tahun saya. Orang-orang yang menganggap saya berharga akan selalu menuliskan saya pada lubuk hati mereka dan mereka akan selalu ingat kapan hari special saya. that's my point. Itulah juga sebabnya mengapa saya sangat menghargai orang yang tidak pernah saya beritahu kapan ulang tahun saya dan dengan inisiatif akan bertanya "ulang tahunmu kapan?" yang pasti saya akan menjawab dengan jujur.

Bagi saya, akan lebih berharga 1 orang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya karena saya berharga dihidupnya, dibandingkan 1000 orang yang mengucapkan selamat ulang tahun karena reminder sosial media atau karena orang lain mengucapkan kemudian ikut-ikut mengucapkan hehe.

Ngomong-ngomong, hari ini saya baru saja bertemu dengan Ibu Rohani saya. Ibu yang selalu mendoakan dan membimbing saya dalam Iman. Saya bercerita tentang seseorang yang saya suka dan memang saya sedang menaruh hati kepada orang tersebut. Ditengah-tengah pembicaraan kami sang Ibu berkata "Nak, besok kita tidak berjumpa tetapi Ibu mau ucapkan selamat ulang tahun yang ke 22"

Saya tidak pernah memancing Ibu untuk mengingat kapan ulang tahun saya. FYI, Ibu Rohani saya ini adalah seorang gembala gereja yang mempunyai banyak jemaat dan ada pula beberapa anak yang sangat dekat dengan Ibu. Saya adalah salah satu diantara mereka. Ketika Ibu mengucapkan hal tersebut, poin yang saya ambil adalah "Saya berharga dihidup Ibu Rohani saya". Ibu tidak pernah memasang reminder, Ibu tidak melihat dari sosial media, tetapi Ibu tahu kapan hari special saya karena saya juga orang yang special untuk Ibu.

Saya juga sangat yakin bahwa besok, ketika saya bangun dan membuka mata. Papa, Mama dan Kakak saya akan melakukan hal yang sama tanpa saya ingatkan. Kenapa? Sekali lagi karena saya berharga untuk mereka.

Terimakasih banyakkkk untuk orang-orang yang termasuk kategori mengingat ulang tahun saya tanpa reminder dan menjadikan saya adalah orang special. Saya sangat menghormati dan yang pasti saya pun akan menempatkan kalian sebagai orang special di hati saya.

Sabtu, 27 Januari 2018

Sudah Lepaskan Saja

Bagaimanapun juga kamu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Masa-masa mulai mengenal, dekat dan akhirnya kau memutuskan untuk pergi adalah keputusanmu. Kau tidak sepenuhnya salah. jika diawal aku bersusah payah untuk melupakan, aku mencoba untuk mengenal yang lain tetapi sampai saat ini Tuhan belum mengijinkan aku untuk kembali jatuh hati. Aku hanya terdiam dan sesekali berpikir, kalau kau memutuskan pergi sepihak dan disini aku hanya bisa diam lantas memang benar aku tidak melakukan usaha apapun.

Seharusnya ini tidak pernah terjadi, seharusnya aku tidak mengenalmu, seharusnya dulu aku mengabaikanmu saja, ketimbang sekarang aku harus menanggung rasa rindu yang sesekali hadir.

Menangis dengan tiba-tiba ketika aku melihat smartphone ku yang tidak ada notifikasimu. Ah sudahlah.

Goresan dalam 5 menit.

Senin, 22 Januari 2018

Aku Berhenti, terimakasih :)

Ada beberapa orang dan nama yang menjadi sumber inspirasiku untuk menulis. Terutama di blog pribadi ini. Mungkin juga suatu saat aku juga akan menuliskan kisah dengan seseorang yang lain. Tapi malam ini, aku belum beranjak dari satu nama.

Masih ingat tentang posting sebelumnya yang berjudul "Tahun Baru" dan "Kesabaran, Kebaikan dan Ketekunan"? Ya, tepat sekali. Saya masih berkisah dengan nama dan orang yang sama.

Aku tidak bisa mengelak bahwa sampai saat ini saya melabeli dia sebagai sosok yang sangat baik.

Beberapa pekan terakhir ini, namanya selalu ada dalam pokok doaku. Oke, kenapa? Karena aku mengasihi dia, aku rasa dia cukup membaca tulisanku sebelumnya, aku tidak ingin memberi tahu dia lagi bahwa malam ini aku kembali menulis untuk dia.

dia masih orang yang aku pikirkan, pagi dan malam hari. Toh meskipun diluar dia juga banyak hal lain yang saya pikirkan. sekali lagi, dia tetap terpikirkan.

Pertama-tama ku kenalkan pribadi ku dulu, aku tipe orang melankolis dan dipadukan dengan phlegmathis. Sehingga pahamlah jika apa yang ku rasakan dan ku tuliskan terkesan sedikit "lebay". Plus tipe manusia yang introvert, so aku merasa lebih lega ketika aku menuliskan semua yang ku rasa.

Lanjut ke ceritanya ya,
Sekitar satu minggu yang lalu (mungkin) saya memberanikan diri buat minta nomer kontak kakaknya. pengalaman ini adalah pengalaman pertamaku "berani" minta nomer seorang cowok ke teman. Singkat cerita aku mendapatkan dan menunggu 3 hari sambil memberanikan diri buat chat duluan. aku tidak pernah berani melakukan ini. (ini cowok kakaknya loh ya, jangan salah fokus)

Sampailah pesanku ke kakaknya. dengan harap-harap cemas dan tengak-tinguk hape dan bergumam dalam hati "Tuhan apapun balasannya, mau di cuekin, mau di baikin ini resiko Tuhan, ya saya mau menerima resikonya. Tuhan tapi saya tetap berharap di balas chat nya dengan baik ya Tuhan"

kurang lebih 15 menit berlalu, chat nya di balas dengan ramah. Ugh, rasanya lega juga ya. padahal awalnya udah keringat dingin dan gemetaran hehe.

hal pertama yang ingin ku sampaikan ke kakaknya adalah aku ingin memberikan hadiah ulang tahun kepada dia. bersyukurnya, kakaknya rupanya adalah orang yang cukup ramah (penilaian saat ini). ngobrol-ngobrol, akhirnya kakaknya setuju membantu. sudah selesai urusan bersama kakaknya.

Oh iya, kemudian aku ingat ada Ibu. jangan sampai saya membuat ibu marah. jangan-jangan kalau nanti aku kesana ibu jadi marah
"ngapain ini anak ku dikasih beginian? nggak penting"
untuk memastikan pikiran itu salah, aku menghubungi kakaknya lagi dan memastikan kalau Ibu akan baik-baik saja. tidak akan khawatir seperti sebelumnya. ketika aku pulang malam. padahal sudah ijin dengan baik dan benar -____- dalam hati saya "sudahlah Bu, saya baik-baik saja, saya pulang malam tidak akan kena marah, karena jelas saya sama siapa, kemana, ngapain dan pasti pulang malam". Eh tunggu, ibu ini nggak khawatir sama aku kok, aku GR banget wkwkwk. Ibu khawatir sama anaknya yang ngantar anak orang larut malam, lah nanti kalau dijalan ada apa-apa gimana? aku aja khawatir, apalagi Ibunya. Betulkan?
(semoga akan ada inspirasi sehingga ku bisa tuliskan di judul berikutnya tentang si ibu)

setelah menghubungi kakaknya lagi, aku mendapat kepastian bahwa Ibu tidak akan marah dan rupanya sudah tahu dengan rencanaku. Puji Tuhan.
artinya, aku tidak akan membatalkan rencana tersebut. karena ini menyangkut Ibu. minimal Ibu sudah tau.

Kemudian masalahnya dimana? Kok berhenti?
ini hanya masalah respon kok. aku yang terlalu melankolis atau mungkin juga apa yang ku pikirkan benar. Iya, dia menjauhiku.
Tenang saja, aku bahagia kok karena dia bukan sumber kebahagiaanku. sumbernya Tuhan aja.

aku berhenti mengharapkan dia sebagai seseorang yang mungkin lebih dari teman atau mungkin seseorang yang bisa memegang komitmen bersamaku
aku berhenti memikirkan dia
aku berhenti menunggu saat bisa berkomunikasi dengan dia.
aku berhenti memberikan perhatian
aku berhenti berharap tentang dia
dan akhirnya
aku berhenti berjuang
tapi untuk doa tidak akan berhenti, sebagai hamba Tuhan yang tidak sanggup melakukan apapun.

bagiku, aku sedang menunggu akhir.
iya, bagiku 1 minggu lagi adalah akhir dari kisah dia. mungkin tulisan berikutnya sudah bukan tentang dia lagi.

berhenti dan terimakasih :)

Minggu, 21 Januari 2018

Skripsi Oh Skripsi

"sudah sampai bab berapa?"
"kapan wisuda?"
"kapan sidang?"

Selama satu tahun terakhir ini, hal-hal ini yang sangat sering saya dengarkan ketika bertemu dengan teman kampus, sodara atau siapapun yang tahu kalau aku sedang ada di semester akhir.

Awal pemilihan topik saya sangat sering berkonsultasi dengan salah satu Dosen saya. Btw, sebelum saya mendapatkan dosen ini, saya berdoa supaya ketika saya mendapatkan Dosen pembimbing skripsi, saya mendapatkan Dosen yang ada Roh Kudus nya. Seperti yang saya doakan, kedua dosen saya seperti yang saya ajukan dan yang saya harapkan. Rasa-rasanya tidak ada masalah dengan Dosen pembimbing saya. Oke, terus masalahnya dimana?

Dalam proses mengerjakan skripsi saya dekat dengan seseorang, cowok yang pasti ya. Awal-awal saya sangat semangat mengerjakan skripsi karena ada motivasinya, yaitu si dia (cowok yang sedang dekat dengan saya). Hampir setiap malam saya pergi bersama dengan cowok ini dengan alasan mengerjakan skripsi, tapi faktanya saya tidak mengerjakan skripsi. Melainkan saya asik ngobrol dan bercanda dengan cowok ini.

Kesalahan pertama adalah Motivasi yang salah.

Oh iya, btw saya menuliskan kisah saya bukan untuk menyombongkan diri saya atau merendahkan orang lain. Tetapi saya ingin berbagi cerita hidup saya dan sekedar membagikan tips kepada para pembaca supaya tidak melakukan hal salah seperti yang pernah saya lakukan.

Kembali ke motivasi yang salah. Saat itu motivasi semangat saya mengerjakan skripsi adalah karena ada si cowok tadi. Percayalah bahwa kalau motivasi kita adalah manusia, mustahil kita akan menjadi berhasil. Bahkan dalam hal sepele. Bukan berarti skripsi adalah hal yang sepele ya, tetapi disini saya mau bilang bahwa hal sekecil apapun yang sedang kita lakukan, jangan pernah menjadikan manusia sebagai motivasi kita untuk melakukan hal tersebut. Jaminannya 99,9% kecewa.

Mungkin sudah ada yang menduga-diga apa yang terjadi dengan saya dan si cowok ini. Yups betul, saya dikecewakan oleh si cowok ini. Ada sebuah masalah yang muncul di antara kami dan berdampaklah pada skripsi saya. Ya sekali lagi, karena saya salah langkah di awal. Motivasi saya ukan Tuhan, tetapi manusia.

Jaminan untuk tidak kecewa hanya ada pada 1 pribadi, yaitu pribadi Tuhan. Jaminannya 100% tidak akan mengecewakan.

Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Dari kesalahan tersebut saya diingatkan bahwa "Nak, selama ini kamu punya motivasi yang salah". Iya, saya menerima teguran ini dengan penuh rasa syukur. Saya membutuhkan waktu yang cukup lama sampai saya benar-benar bisa kembali semangat menjalani hari-hari saya yang pernah mengalami kekecewaan.

Saya masih bersyukur karena ditengah-tengah saya mengerjakan skripsi, saya juga bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah swasta. Setiap hari saya bisa bertemu dengan anak-anak, rekan kerja dan (dia). Tapi (dia) yang sekarang beda ya hehe ^^

Kembali saya melakukan kesalahan yang kedua "Halah ntar lah juga kelar kok, kan bikin programnya begitu-begitu saja". Hampir setiap hari saya memikirkan hal itu. Padahal menurut data statistik dan bisa dibuktikan, hanya ada 30% pelajar Indonesia yang bisa kuliah (sumber : kompas.com)
Artinya, saya adalah salah satu dari 30% pelajar Indonesia yang sangat beruntung bisa kuliah. Tapi penyakit menyepelekan tadi yang membuat saya kembali terpuruk dalam mengerjakan skripsi saya.

Yosua 18 : 3
Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu?

Sampai kapan saya menunda-nunda? Sampai kapan saya malas-malasan? Dan sampai kapan saya menyepelekan?

Dua kesalahan tersebut membuat saya gagal menyelesaikan skripsi 2 semester (1 tahun). Pertama saya mempunyai motivasi yang salah, kedua saya menunda-nunda.

Tapi.......
Tuhan itu bukan Tuhan yang jahat. Sampai kapanpun dan sebanyak apapun kesalahan yang kita perbuat, Dia adalah Tuhan yang tetap mengasihi kita.

Saya sampai di puncak benar-benar saya tidak bisa melanjutkan skripsi saya dan mustahil untuk lulus dan wisuda tahun 2018. Tetapi disini Tuhan kembali perlihatkan kebaikanNya.
Saya mendapatkan informasi bahwa saya harus Sidang/Ujian paling tidak 12 Januari 2018, karena skripsi ini sudah saya kerjakan selama satu tahun.

Saya give up dan memutuskan untuk cuti kuliah selama satu tahun. Sambil mengembalikan mood dan mengembangkan karir dibidang pendidikan. Bahkan saya sudah sempat menghubungi Dosen saya dan beliau sudah setuju dengan keputusan cuti saya.

Saya lega, saya sudah sampaikan cuti dan sudah disetujui oleh dosen pembimbing saya dan kemudian saya siap menjalani kehidupan baru saya.

Saya sungguh-sungguh mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang saya lakukan. Ini yang saya alami. Tuhan tetap mengasihi saya.

Dan sekali lagi, Tuhan tunjukan kuasaNya. Tepat 12 Januari, hari terakhir saya seharusnya ujian skripsi tetapi saya mendapatkan informasi bahwa saya masih bisa mengerjakan skripsi saya sampai pertengahan bulan Maret. How Great is Our GOD :)

Yeremia 31:3
Dari jauh TUHAN menampakan diri kepadanya:
Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

Saya berkali-kali mengalami kasih Tuhan dan kalau Tuhan sanggup melakukan kepada saya, pasti Tuhan juga sanggup melakukan kepada kita semua :)


Kamis, 11 Januari 2018

Kesabaran, Kebaikan dan Ketekunan

Akhirnya bisa menulis lagi ditengah-tengah kesibukan mengajar, kuliah dan lain-lain :)

Paket 3 in 1. Rasanya tidak dapat dipisahkan ya?
Orang sabar biasanya baik dan orang baik biasanya tekun.

2 bulan terakhir ini saya belajar dari sosok yang bisa dibilang luar biasa, sebut saja Mr. X
Saya belum lama mengenal dia, belum lama menjalin komunikasi intens dan belum lama dekat. Tapi selain orang-orang lain yang pernah menjadi bahan tulisan saya, saat ini giliran dia menjadi inspirasi saya dalam menulis, setelah bertahun-tahun saya menjadi juru ketik untuk diri saya sendiri hehe.

Kurang lebih 2 bulan lalu, ditempat kerja saya terjadi sebuah peristiwa yang tidak diharapkan. Memang bukan unit saya dan yang dirugikan pun bukan saya (rugi sih karena saya jadi kehilangan dia di tempat kerja). Sebuah peristiwa malam hari, ada tamu yang tidak diundang (baca : maling) berhasil meminjam sejumlah uang dan tidak mengembalikannya lagi hehe. Sedih itu pasti, termasuk saya yang berbeda unit dari Mr.X

Dari kejadian tersebut akhirnya pimpinan kami turun tangan dan memanggil orang-orang yang bersangkutan mengenai kejadian tersebut, termasuk si Mr.X. Karena berbeda unit, saya tidak tahu persis apa yang terjadi, berapa jumlah yang hilang, apa yang dibicarakan dan bagaimana peristiwa sebenarnya. Saya hanya tahu keputusan final dari pimpinan bahwa Mr.X dan beberapa orang yang bersangkutan harus mengakhiri pelayanan di tempat kami melayani bersama. Ini adalah berita yang sangat mendukakan banyak pihak, termasuk saya.

Berhari-hari kejadian tersebut terjadi, kesedihan masih ada dihati saya (kalau rekan yang lain saya tidak tahu apa yang mereka rasakan dan mereka pikirkan). Sampai suatu ketika saya memberanikan diri untuk mengungkapkan betapa saya sangat merasakan kehilangan. Kehilangan teman, rekan dan partner pelayanan. Meskipun Mr.X selalu memberikan dukungan dan semangat, toh kesedihan itu masih ada (mungkin sampai saat ini). But, life must go on.

Saya mulai menjalin komunikasi yang intens dan ingin tahu, kenapa harus Mr.X yang jadi korban harus diakhiri pelayanannya?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dan jawaban dari Mr.X
"gpp, ini Tuhan ijinkan bla bla bla bla bla ...."
What???
Saya jadi berandai-andai, kalau saja saya yang ada diposisi Mr.X saya akan berbeda
"Itu keputusan sepihak, tidak mempedulikan kebenaran lagi dong, kalau memang Mr.X benar kenapa juga harus mendapatkan konsekuensi"
Ini adalah poin kesabaran yang saya bisa lihat dari sosok Mr.X
Bagaimana bisa? dia tetap tersenyum dan tabah sekali menghadapi apa yang terjadi dengan dia. Bahkan yang saya anggap ini tidak adil.

Kedua, saya masih bagian dari tim pelayanan. Toh dia masih mau berteman dengan saya. Rasanya tidak ada kesan dia menjauhi atau apapun lah, seperti yang dilakukan rekan sebelumnya hehe. Semua kontak dan sosmed saya di block, padahal saya masih mau berteman. Andai saya menjadi dia, saya tidak akan menjadi sebaik dia. That's I call Poin Kebaikan yang dia punya.

Terakhir poin ketekunan, yang saya benar-benar kagum. Dia masih setia dan tekun melayani Tuhan dengan jalan lain. Pelayan aktif di gereja. Mr. X sama sekali tidak terlihat kecewa dengan apa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya. Seperti yang sudah saya sampaikan diatas sebelumnya bahwa kesabaran, kebaikan dan ketekunan rasanya memang Sudah Tuhan Anugrahkan untuk Mr.X :)
Paket lengkap yang tidak semua orang punya, bahkan saya sendiri mungkin tidak punya salah satu dari ketiganya hehe ^_^

Apapun yang terjadi lah, saya banyaaak sekali belajar darinya.
Roma 8:28