Minggu, 20 Agustus 2017

Tidak Suka Menjadi Guru

Baca Sampai Selesai, Jangan Hanya Judulnya :)

Hampir satu tahun saya bergabung dengan salah satu sekolah swasta di Malang dan mengajar mata pelajaran matematika serta mengisi ekskul programming.
Ngomong-ngomong tentang judul, tidak suka menjadi guru. Ya, memang ada beberapa hal yang saya tidak suka menjadi seorang pengajar.

Pada dasarnya, saya orang yang suka mengajar, bertemu dengan anak-anak yang menyambut saya "Bu Fikaaaa... bla bla bla" Sederhana tetapi itu sangat menyenangkan. Saya bisa mendapatkan spirit ketika bercanda bersama dengan mereka.

Tetapi semakin kesini saya menyadari apa yang saya lakukan. Saya membuat materi, saya memberikan ulangan, saya mengoreksi ulangan dan melayani anak-anak yang kadang curhat. Kalau bahagia dengan melakukan itu semua tentu saja saya bahagia.

Beberapa minggu lalu saya mendengar sharing dari pembicara tamu yang datang ke sekolah saya bahwa profesi seorang guru itu profesi Annomali. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus begini harus begitu. Setiap ketemu dengan murid kalau bisa selalu memberikan teladan dan lain sebagainya. Ya saya setuju dengan pendapat tersebut.

Belakangan ini saya banyak berkecimpung di bidang sosial muda-mudi. Termasuk saya menduduki posisi sosial yang cukup kuat. Yang namanya muda-mudi itu sudah selayaknya pulang malam dan bertemu dengan muda-mudi lain. Kalau semua muda-mudi berkarakter seperti saya wah ya tentu saja bakal garing. Serius dan banyak mikir. Mau tidak mau saya harus gabung dengan mereka yang "kadang" bercandanya berlebihan dan memang tidak baik kalau diterapkan di sebuah pekerjaan yang berkecimpung di bidang edukasi.

Ditambah lagi, saya perempuan. Hal yang saya bingung "kenapa perempuan yang pulang malam cenderung mendapat judge dia perempuan tidak baik". Padahal saya pulang malam dengan alasan yang jelas. Ya itu aturan sosial yang memang tidak tertulis :)
Toh orang tua saya tidak keberatan dengan hal tersebut, tapiiiii ketika saya papasan dengan murid saya yang kebetulan bertetangga dengan saya jadilah pembicaraan pagi di sekolah
"Bu Fika kemarin pulang malam sama mas __________, cieeeeeeee"
Nah loh, salah kan? Harusnya guru nggak boleh ngasih contoh pulang malam, harusnya ngasih contoh jam belajar, tidur sebelum jam 10.
Oke tunggu, kalau pagi sampai siang saya sudah disekolah kemudian sore saya harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain, malamnya saya harus memberi contoh belajar dan nggak pulang malam, kapan dong saya menghidupi kehidupan sosial saya?

Padahal bersosialisasi dengan orang lain juga bentuk keseimbangan hidup. Banyak anak pandai belajar, pandai mengerjakan soal-soal matematika tapi buat berbicara dengan orang lain megap-megap. Loh kalau di sekolah kan sudah bersosialisasi?
Kehidupan bukan hanya disekolah saja, Indonesia itu luas. Banyak hal yang harus kita kenal. Kalau merasa sudah cukup bersosialisasi di sekolah, kalau sudah lulus sekolah gimana? Nggak kenal apapun dong.

Belakangan ini pun saya sedang suka dan tertarik dengan salah satu topik penelitian di bidang IT. Kalau saya mahasiswa dulu, saya di jejali dengan jurnal-jurnal penelitian. Tapi sekarang, untuk memahami satu jurnal saja membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kenapa? Karena waktu saya habis untuk memberikan ilmu dan mengajar. Sedangkan input yang saya terima untuk diri saya sendiri sangat kurang.

Ealah, yang penting kan sudah lulus kuliah, tinggal ujian skripsi dan wisuda. Pertanyaannya, apakah perkembangan dunia akan berhenti ketika saya sudah lulus kuliah?
Ketika saya lulus kuliah, teknologi dan jaman akan tetap berkembang. Tidak peduli saya lulus kuliah tahun berapa. That's why, ketika saya bergabung dengan sekolah ini saya merasa "andai saja saya punya waktu khusus untuk mengembangkan diri saya"

Sebenarnya itu adalah kesedihan sendiri yang saya rasakan. Tidak cukup hanya memberikan pengajaran, tetapi seorang pendidik harus tetap mendapatkan input untuk mengembangkan diri sendiri. Minimal update dengan perkembangan teknologi jaman sekarang.

Sebegitu saja sih :)

Solusinya, ya jangan buang-buang waktu untuk hal yang nggak penting saja :)

Minggu, 23 Juli 2017

Grow Me Pertama

Senin, 24 Juli 2017 adalah hari pertama saya mendampingi kelompok Grow Me. Grow Me itu adalah salah satu kegiatan di Sekolah Kristen Pamerdi, yang isinya adalah saling berbagi tentang buku yang sudah dibaca.

Karena berbarengan dengan anak TK yang sedang memperingati Hari Anak Nasional, jadi suasana pagi itu cukup ramai. Anak-anak tentu saja tidak bisa fokus. Saya pun sebagai fasilitator pagi itu tidak memaksa mereka untuk fokus membaca, ya saya pun kesulitan fokus pagi itu.

Kemudian ada satu anak yang mencoba mendekat ke saya, saat itu posisi saya berdiri dan dia tiba-tiba berdiri. Sebelumnya saya tidak pernah melakukan ini ke anak lain. Secara saya tipe orang yang cenderung diam dan cuek, bahkan saya memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan orang lain.

Pagi itu berbeda, saya bertanya kepada nya
"namanya siapa? maaf Bu Fika belum hafal"
dia menjawab dengan lirih. Saya menanyakan hal yang umum ditanyakan kepada murid baru tentang bagaimana sekarang sekolah disini? teman-temannya baik? Tinggal di asrama ya, bagaimana kakak-kakak di asrama.

Dia menceritakan begitu banyak pengalaman hidupnya. dia berasal dari Sidoarjo, dia tinggal bersama dua kakak laki-lakinya dan satu adek perempuannya serta Mama nya. Saya bertanya kabar mama nya. Harapan saya jawaban yang saya peroleh adalah "Mama saya baik-baik saja", tetapi jawabannya berbeda, dia bercerita tentang kakak pertamanya yang berani melawan Mama nya.

"Bu, mama saya biasanya di jambak kakak saya, kadang juga di dorong" dengan bahasanya yang lugu.
"Loh, kamu melihatnya?"
"Iya Bu, di depan saya"
"Hmm, tapi kamu sebenernya sayang nggak sama kakak?"
"Ya sayang, tapi saya kasian sama mama. Kakak saya yang kedua biasanya juga bertengkar dengan kakak saya yang pertama karena membela mama"
"Hmm begitu"

Karena ini pengalaman saya yang pertama kali, saya bingung. Terus apa yang harus saya lakukan dengan mendengar cerita tadi?
Akhirnya saya gali lagi supaya dia mau bercerita.
"Setiap hari berdoa buat kakak?"
"Kadang-kadang Bu"
"Apapun yang terjadi dengan kakak, harus tetap ingat kalau itu adalah kakak nya, harus tetap menghormati dan menghargai. Tidak boleh membenci, minta sama Tuhan supaya hati kakak dilembutkan"
"Bu, saya bawa foto nya. Ibu mau lihat?" Saya kaget dan antara bingung campur terharu.
"Boleh, ayok kita lihat bareng-bareng" Saya melihat foto kakak pertamanya yang dia ceritakan sering memukul ibunya.

Karena saya bingung, saya nggak sempat menanyakan apa penyebab kakaknya memukul ibunya. Saya mengalihkan pembicaraan tentang adiknya.

"Kalau adeknya sudah sekolah?" tanya saya
"Sudah, kelas 5 SD, tapi di Sidoarjo. Buat saya adek saya sangat special" Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"special kenapa?" saya ingin dia merasa kalau saya adalah orang yang pas untuk dia berbagi cerita.

Ketika dia masih SD dulu, dia kehilangan uang sebesar 20 ribu rupiah. Uang itu seharusnya dia gunakan untuk mencicil buku LKS, karena uangnya hilang dia tidak bisa membayarnya. Dia bercerita kepada adeknya yang lebih kecil dari anak kelas 5 SD. Saya membayangkan seorang anak kecil yang biasanya uangnya dipakai habis untuk jajan tapi mau memecah tabungannya untuk kakaknya yang baru saja kehilangan uang. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan anak tersebut, betapa dia menyayangi adeknya.

"Kamu kenapa nangis?" tanya saya karena pipinya sudah penuh air mata
"saya merindukan adek saya, kalau di asrama saya tidak bisa bersama adek saya"
Saya meilirik jam tangan saya 08.15 sudah seharusnya bel pergantian pelajaran. Saya tidak bisa melanjutkan lagi, saya sudah bingung campur terharu campur perasaan "ini sudah harus bel"

Saya menutup percakapan kami pagi itu dengan berdoa bersamanya. Untuk yang pertama kalinya dia memeluk saya dan berkata "Bu Fika terimakasih ya". Saya tersenyum dan menjawab "Semangat ya, kamu pasti bisa jadi Dokter, belajar yang rajin dan jangan lupa berdoa"

Mungkin karena ini pertama kalinya ada anak yang sangat percaya kepada saya, saya merasa pengalaman ini adalah pengalaman yang indah :)


Kamis, 06 Juli 2017

Menukar Hidup

Saya yakin, setiap orang dilahirkan ke dunia ini pasti mempunyai sebuah tujuan. Entah sadar dengan tujuan yang Tuhan berikan atau mungkin membiarkan saja tujuan yang sudah Tuhan tetapkan dalam kehidupan kita.

Tulisan ini tidak sepenuhnya ide dari saya, baru saja saya melihat sebuah video di youtube yang judulnya untuk apa anda hidup?
Sebenarnya sudah lama saya diberikan rekomendasi oleh pembuat video itu, yang kebetulan kenalan saya. Terakhir saya bertemu dengan dia saya diberikan satu pertanyaan dan baru sekarang saya bisa menjawabnya. Pertanyaan yang sangat sederhana, jika anda boleh menukar usia, waktu dan hidup mu maka kamu mau menukar itu dengan apa? Jujur, saya tau apa tujuannya bertanya seperti itu sayangnya saya tidak bisa dengan gamblang menjawabnya.

Kemudian pertanyaan yang diberikan kepada saya "passion mu itu apa?". kalau pertanyaan ini saya tidak ragu-ragu untuk menjawabnya.
"passion saya mengajar"

Ngomong-ngomong tentang passion, apakah yang membaca blog saya sudah tau apa yang dimaksud dengan passion?
saya dan beberapa kenalan saya saat berbincang sepakat bahwa passion adalah hal yang paling kamu sukai untuk melakukannya meskipun itu tidak dibayar sekalipun. meskipun harus ada pengorbanan yang diberikan, yang namanya passion tetap akan menjadi passion.

Saya tidak suka bercerita tentang orang lain, saya lebih cenderung berbagi tentang kehidupan saya pribadi. Salah satu passion saya adalah mengajar, meskipun tidak dibayar sekalipun saya suka dan saya menjalahi, syukur-syukur kalau passion itu akhirnya menjadi pekerjaan yang menghasilkan income.
Saat ini salah satu pekerjaan saya adalah seorang pengajar resmi disebuah sekolah swasta dan sudah memberikan andil meluluskan banyak siswa :)
Ini adalah hal yang saya syukuri ketika passion saya menjadi pekerjaan saya.
Sebelumnya saya menjadi asisten dosen selama kuliah. Job Desk nya saya harus mengajar materi sesuai dengan silabus yang diberikan oleh Dosen Pengampu. Hampir 3 tahun saya menjadi asisten dosen, dibayar? Nggak :)
Tapi saya suka melakukan itu karena itu adalah passion saya. Saya mempunyai sebuah kebanggaan ketika melihat seseorang yang awalnya bingung kemudian dengan sedikit penjelasan berkata "oalah gitu ternyata caranya" :)
Sejak SMP saya sudah mengajar anak SD yang belum bisa membaca sampai dia lulus SD dan karena kesibukan, saya tidak lanjut mengajar, saya datang kerumah murid saya dan dibayar seikhlasnya. Meskipun demikian, saya sangat menikmati kegiatan ini.

Passion saya yang kedua adalah menulis, kalau iseng-iseng membuka google dan memasukan kata kunci "fika handani" selain sosmed saya yang muncul, hampir bisa dipastikan muncul juga tulisan-tulisan saya sejak saya masih duduk dibangku SMA. Saya sudah cek sendiri, ketika saya masuk google dan mengetik kata kunci fika handani, sampai dihalaman kelima google itu adalah karya saya.
Tulisan yang dimuat dalam beberapa website pemberi informasi sampai tulisan saya yang masih alay dan labil, kalau saya baca tulisan saya semasa saya kelas 1 SMA, saya geli dan berkata pada diri saya sendiri "saya sudah pernah alay". Dilaptop saya sudah pukul 22.59 dan saya tidak dibayar untuk menulis hal semacam ini, tetapi saya sangat menikmati passion saya. Dan saya harap kalian tidak membaca tulisan saya dimasa saya sangat alay, kalau mau dibaca ya gpp.

Meskipun menjalani passion itu tidak dibayar bukan menjadi masalah lantas mencari uang itu tidak penting, next time saya akan menulis tentang hidup dan uang.

So, what is your passion?
Kalau anda mau menukar hidup anda, anda akan menukar dengan apa?
(apakah menukar waktu dan hidup saya untuk mencintai seseorang yang tidak jelas mencintai saya apa enggak, meskipun tidak dibayar saya akan tetap cinta :p yang penting kan melakukan hal yang kita sukai meskipun tidak dibayar gak apa-apa)

Tidak ada yang salah dengan passion, termasuk passion anda mencintai dia yang tidak jelas. Kembali kepada hal pertama kenapa kita dilahirkan ke dunia? Sudah pasti mempunyai tujuan. Tujuan hidup itu harus berdampak. Saya berbagi tentang prinsip saya dalam iman dan ingin menjadikan prinsip saya berdampak.
Orang yang beriman harus bertumbuh dalam iman, iman juga harus berbuah dan buahnya harus manis dan bisa dinikmati banyak orang.

Sama ketika saya mempunyai passion mengajar saya ingin memberikan dampak kepada mereka yang saya bagikan sebagian ilmu saya. Setiap hari pun saya dituntut untuk menjadi seorang yang bisa memberikan teladan mulai dari bersosial media dengan bijak, bertutur kata dengan baik, memperlakukan orang lain, menepati segala ucapan yang saya pernah katakan, datang ke berbagai kegiatan tepat waktu dan lain sebagainya. Sangat sulit dan setiap hari saya belajar. Tidak hanya yang kelihatan, bahkan dalam kerohanian dan dalam hubungan saya dengan Tuhan saya harus bisa memberikan teladan yang baik. Mungkin itu harga yang harus dibayar untuk sebuah passion.
(bayangin aja kalau misalnya ada yang datang dan tiba-tiba bertanya "bu yang dimaksud dengan ragi farisi dan saduki itu apa ya?" untung saat itu saya paham maksud bacaan di kitab matius, andai saja saat itu saya nggak ngerti apa itu ragi farisi dan saduki, entahlah apa klaim mereka tentang saya sebagai pengajar, based on true story :p apalagi dengan budaya belajar indonesia yang menganggap guru adalah dewa yang sakti)

Begitu pula ketika saya menulis dan membagikan cerita hidup saya, saya ingin tulisan saya berdampak dan memberkati setiap mereka yang membaca tulisan saya. Mangkanya jangan membaca tulisan saya dimasa saya masih alay, selain saya sudah berubah untuk sedikit tidak alay, tulisan alay saya tidak akan bermanfaat kalau dibaca hehehe.

Saya rindu menjadi seorang guru besar yang bisa menginspirasi banyak orang dan tulisan saya bisa Go Internasional. So, sampai sekarang saya tetap belajar bahasa inggris karena saya ingin mempersiapkan diri saya untuk Go Internasional. Itu adalah mimpi saya.

Saya tidak ingin ketika saya ditengah-tengah mengajar atau ditengah-tengah menulis kemudian Tuhan memanggil saya dan saya hanya akan dikenal sebagai
"Oh, Fika yang lulusan Ma Chung"
"Oh, Fika yang jadi guru di sekolah itu"
"Oh, Fika yang suka nulis status galau"
dan mungkin Oh Fika Oh Fika yang lain. Saya sedang mempersiapkan diri, kapanpun saya dipanggil Tuhan, saya bisa berkata kepada Tuhan
"Tuhan, saya sudah menjalani dan menukar hidup saya dengan menjadi seorang pengajar yang berusaha baik di ................. dan menulis sebagian perjalanan hidup saya dan melibatkan Engkau didalam tulisan-tulisan saya"

Diusia saya yang 20 tahun ini, saya sudah siap dengan semuanya. Btw bukan saya pengen cepet-cepet dipanggil Tuhan loh ya hehehe :p
Saya sudah menukar hidup saya.

Jadi kalian mau menukar hidup kalian dengan apa?
a. Dengan mencintai dia yang entah mencintai balik apa enggak
b. Cari uang sebanyak-banyaknya
c. Seneng-seneng dan Foya-foya entah sumbernya dari mana
d. Nonton drama korea seumur hidup
f.  __________________________________________

Saya berharap kalian bisa mengisi bagian f
Toh saya sudah memberikan beberapa opsi jawaban yang mungkin bisa dipilih :)
Kalau belum menemukan jawaban berdoalah dan mintalah tuntunan roh kudus untuk menemukan apa passion yang Tuhan tetapkan dalam kehidupan kalian.

Salah satu tips bagaimana menemukan passion adalah carilah terlebih dulu inspirasi dari Tuhan, saya pribadi menemukan inspirasi dari Tuhan yang menjadi Guru dan Pengajar dibanyak tempat :)
(cerita paling menjadi favorite saya adalah ketika Tuhan mengajar ribuan orang dan memberi makan semuanya dengan 5 roti dan 2 ikan)
Temukan untuk diri anda :)

Keep Shining and Be Blessed :)

Senin, 03 Juli 2017

Panggilan Sayang

Pernah nggak mendengar sepasang kekasih yang memberikan panggilan sayang kepada pasangannya sebenarnya sebuah ejekan yang nggak sepantasnya diberikan kepada orang yang dikasihi?
Misalnya
"Hai Ndut Gendut"
"Cerewetku sayang"
"Pesek"
dan mungkin masih banyak panggilan sayang lainnya.

Sebenarnya fine-fine saja kita memanggil orang dengan sebutan apapun selama orang yang bersangkutan tidak masalah dengan panggilan sayang yang kita berikan.
Tapi kembali kepada sebuah nama. Setiap orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan harapan yang baik.

Misalnya nama saya sendiri.
FIKA, dulu papa ingin memberikan nama PIKA it's mean "Putriku Ingatlah Kepada Allah" karena mungkin P dan F itu lebih keren F, ya akhirnya Papa memberikan nama FIKA dengan tujuan yang mulia, supaya Putrinya selalu ingat kepada Allah.
HANDANI, itu marga Chinese yang turun temurun. Search dengan keyword "Marga Cina Hamdani", Pakai M ya :)
kembali dimodofikasi oleh Papa menjadi HANDANI yaitu Singkatan nama dari kedua orang tua saya "Hartatik And Toni -> HANDANI"
Secara Keseluruhan saya adalah putri dari kedua orang tua saya yang diharapkan untuk selalu ingat kepada Allah :)
mulia sekali bukan tujuan orang tua memberikan nama kepada anaknya?

Saya yakin setiap nama yang diberikan oleh kedua orang tua mempunyai maksud dan tujuan yang mulia.
Kemudian setelah dewasa mereka bertemu dengan seseorang yang mungkin mereka anggap mencintai dan menyayangi mereka. Sebut saja pacar, saya tidak iri dengan mereka yang memberikan panggilan sayang apapun kepada pasangannya, tetapi yang saya sayangkan adalah jika mengasihi seseorang mengapa harus memberikan sebutan buruk? "ndut" misalnya.
Ya mungkin benar kalau badannya memang gendut, atau mungkin montok yang berlebihan, atau mungkin makan yang tidak diatur, atau mungkin tidak suka olah raga. Ya itu alasan kenapa akhirnya memanggil ndut hehehe.

So, disini saya hanya ingin membagikan pemikiran saya. Kenapa tidak memberikan panggilan sayang yang memberkati saja kepada pasangan. Misalnya cantik, ganteng, my best dan lain sebagainya. Selain lebih enak didengar, ucapak itu adalah doa.
Jadi, gunakan mulut untuk mengucapkan panggilan-panggilan sayang yang memberkati.

Jumat, 16 Juni 2017

Addictive Relationship

"Bagaimana jika kita sudah terlanjur sayang?"
"Sebenernya saya tahu kok kalau dia gak baik buat saya, tapi gimana ya kak, saya sudah coba melupakan dia tapi pasti bakalan keingat lagi"
"Dia emang sering bikin repot saya sih kak, dia juga beberapa kali minta uang saya, tapi kan namanya manusia kita harus mengasihi sesama"
"Ya kata-katanya memang kasar, kadang dia juga sering ngilang-ngilang gak ada kabar dan kalau aku nanya kenapa pasti dia punya alasan yang nggak bisa aku tentang"
"sikapnya kadang baik, kadang juga bisa cuek sama aku kak. beberapa kali dia bikin aku nangis"

pernah mendapat curhatan seperti itu?
atau mungkin sedang mengalami hal tersebut?

Saya setuju, perasaan-perasaan seperti ini sangat sulit dihadapi terutama kaum wanita. Tidak jarang wanita yang mau bertahan dengan hubungan yang sudah jelas salah hanya karena satu alasan "sudah terlanjur sayang" dan keyakinan bahwa "suatu saat dia pasti berubah".

Pada dasarnya wanita itu memang sangat lemah di perasaan. Sedikit perhatian yang diberikan oleh cowok, apalagi kalau cowoknya ganteng dan pinter ngegombal hampir dipastikan wanita itu "baper". Saya juga wanita, saya pun pernah mengalaminya. Jujur memang, saya sering sekali baper. Namun, saya sadar kelemahan saya sebagai wanita. Saya sadar perasaan wanita memang sangat lemah. Ketika kita sudah sadar dengan kelemahan kita, maka jangan main-main di kelemahan kita. Begitu yang saya terapkan.

Pengalaman terakhir saya dengan seorang pria yang jelas tidak baik bagi saya saat itu. Sebut saja si X.
Kami sudah sangat dekat, bahkan sampai sekarang kesan banyak orang yang menilai "saya adalah kekasihnya si X" meskipun kami berdua tidak pernah berkomitmen apapun. Saya suka, ya saya akui saya suka. Bahkan kepada siapapun yang bertanya kepada saya, saya tidak pernah mengelak dengan perasaan saya, saya tahu kalau itu menyakitkan, jadi saya tidak melakukannya. Sampai sekarang pun, meskipun sama sekali saya tidak peduli lagi dengan kehidupan si X, masih saja ada orang-orang yang menganggap saya masih punya hubungan special dengan si X. Bahkan setelah saya sudah berkomitmen dengan tujuan yang jelas dengan orang lain.
Masa-masa kami dekat, seakan-akan memang kami ini nggak akan terpisahkan (saya dan si X). Kemana-mana kami berdua. Saya beberapa kali membantunya menyelesaikan tugasnya, dia beberapa kali membantu saya menyelesaikan tugas saya. Hampir setiap hari kami melakukan interaksi, baik sekedar chat atau keluar sampai larut malam.
Bisa dibilang saat itu saya "kecanduan si X". Kalau ada si X saya jadi semangat, kalau tidak ada si X saya jadi tidak semangat. Saat itu saya memberikan perhatian yang sangat besar kepadanya, karena saat itu kebutuhan saya melampiaskan emosi saya karena rasa kecanduan tadi.
Sampai pada satu titik, hubungan kami menjadi tidak baik-baik saja karena adanya pihak ketiga.
Pada dasarnya tidak ada satu wanita pun yang suka melihat lelakinya dekat dengan wanita lain meskipun alasan "hanya teman" termasuk juga saya. Saat itu saya memang tidak suka melihat dia dekat dengan wanita lain. Dia kan sudah sangat dekat dengan saya, kenapa harus ada sosok wanita lain? Pikir saya saat itu.
Banyak hal-hal kompleks yang terjadi, sampai saya juga tidak habis pikir kenapa kejadian itu harus terjadi. Sampai saya memutuskan semua hubungan dengan si X.
Sedih? ya tentu saja. Saya merasa kecewa beberapa hari saja. Ingat ya, beberapa hari saja.

Akhirnya saya mendapatkan satu pemahaman bahwa, sebenarnya yang saya rasakan saat itu bukanlah kasih sayang yang murni kasih sayang. Saya menyadari, saat itu saya hanya "addictive relationship" yang akhirnya membatasi saya melakukan apapun. Misalnya, saya tidak melakukan apapun kalau tidak ada dia, saya kehilangan semangat kalau tidak ada dia. Hal ini tidak baik bagi saya.

Percayalah kalau sebenarnya saat itu saya sudah bisa dikatakan "terlanjur sayang". tetapi Tuhan itu baik, yang tidak akan membiarkan anakNya berada pada posisi yang salah terus menerus, meskipun teguran yang diberikan saat itu sangat sakit. Ketika saya dengan pasti dan yakin untuk memutuskan segala hubungan dengan si X. Secara manusiawi saya berat hati, setiap hari yang saya sebut dalam doa "Bapa, kalau memang dia tidak baik buat saya, Bapa ambil perasaan suka kepada dia dari saya, Bapa lembutkan dan pulihkan kehidupan saya".

Saat ini saya bisa tertawa dan bahagia diatas tangisan yang dulu saya alami. Dengan mata kepala saya sendiri saya bisa melihat bahwa semakin hari ternyata dia bukanlah sosok yang baik bagi saya. Dan saya bisa membuat daftar yang membuat saya bersyukur sudah tidak lagi bersamanya.

1. dia tidak membuat saya semakin dekat dengan Tuhan, saya bukan orang yang religius sekali tetapi saya tetap percaya saya ini tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan.
2. dia membuat hubungan saya dan orang tua saya menjadi tidak baik. beberapa kali saya berbohong kepada orang tua saya hanya karena saya ingin bertemu atau sekedar jalan-jalan dengannya, dan ini jelas sangat tidak baik.
3. dia membuat saya tidak mencintai diri saya termasuk kesehatan saya. dia seorang perokok berat, bahkan dia pernah mengatakan "mending gak nikah daripada gak merokok". dulu saya masih toleransi meskipun didekat saya dia merokok dan saya terganggu dengan asap rokoknya, yang tidak baik buat kesehatan saya. papa saya perokok, tapi papa tidak pernah merokok didekat saya karena papa sayang ke saya dan mama. sudah hampir dipastikan dia tidak menyayangi saya
4. dia tidak memberikan kejelasan status kepada saya. bagi wanita status itu sangat penting, dengan tujuan dan komitmen yang jelas.
5. secara financial dia masih belum cukup mandiri. bukan matre, tetapi realistis. bagaimana bisa saya akan menjalani hubungan jika saya hidup dengan seseorang yang kebutuhan financialnya saja masih bergantung kepada orang lain?
6. dia tidak mempunyai tanggung jawab yang baik. dia adalah partner saya dalam berorganisasi dan saat ini dia meninggalkan semua tanggung jawabnya sebagai ketua :) saya bersyukur mengetahui sejak sekarang. bahkan dulu, saya sering melihat dia tidak bertanggung jawab dengan tugas kuliahnya sendiri, sering kali tugas kuliahnya dikerjakan oleh "cewek" yang menjadi pihak ketiga tadi hehehe.
7. dia sama sekali tidak mempunyai hati nurani, hal ini tidak layak saya jabarkan karena hal ini menyangkut kehidupan keluarganya
8. dia tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik
9. dia tidak jujur. sering kali saya curiga dengan hal-hal yang dia katakan dan seringkali kecurigaan saya ini benar. termasuk kecurigaan saya mengenai pihak ketiga tadi :)
10. dia masih kekanak-kanak an, dia tidak bisa memegang teguh apapun yang dia katakan, termasuk komitmen yang dia buat sendiri atau tanggung jawab yang dia sudah ambil sendiri. dia tidak berani menghadapi kesalahan yang dia perbuat sendiri.

Hal-hal tersebut membuat saya semakin membuka pikiran dan mata saya tentang dia. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan seorang yang jauh lebih baik.
Tidak ada satupun dari daftar diatas tadi yang melekat pada kekasih saya saat ini.

1. Sudah jelas dia membawa saya lebih mencintai Tuhan, meskipun pelan-pelan dia berusaha meyakinkan saya untuk mengasihi dan mengampuni, sering kali saya bantah dan cekcok dengan saya, tetapi dengan kasih dia bisa mendukung saya untuk semakin bertumbuh didalam Tuhan.
2. dia menghormati kedua orang tua saya, demikian juga saya menghormati kedua orang tuanya dan kami sangat terbuka dengan hubungan yang sedang kami jalani.
3. dia mencintai dirinya dan mencintai saya sebagai bait yang kudus dan berkenan bagi Tuhan, termasuk menjaga kesehatan
4. kami mempunyai status, visi dan tujuan yang jelas tentang hubungan kami. tidak hanya berpikir bahwa ini sementara, kami tidak ingin sementara, meskipun kami tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, hanya kami yakin bahwa yang terjadi nantinya itu yang terbaik bagi kami :)
5. Mandiri dalam financial Baik saya ataupun dia. Kami sudah punya penghasilan yang cukup, bahkan berlimpah. Dia sudah mempunyai rumah, kendaraan, pekerjaan dan bisnis pribadi yang jelas :)
6. dia sangat bertanggung jawab, minimal bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri dan sama sekali tidak merepotkan saya sebagai pasangannya. Bahkan dia yang selalu berusaha membahagiakan saya :)
7. dia mempunyai hati yang sangat lembut, dia mencintai Tuhan lebih dari apapun dan saya bangga

Saya berpikir jika dulu saya berkeras hati pada perasaan "saya sudah terlanjur sayang kepada si X", dapat dipastikan hidup saya tidak akan seberkualitas sekarang. Bagi saya pribadi, tidak ada yang namanya terlanjur sayang, yang ada hanyalah kecanduan yang akhirnya mengikat diri kita sendiri.

Kamis, 08 Juni 2017

Sosmed yang Memberkati

Kemarin, 07 06 2017 saya bersama dengan rekan sekantor saya dan sekaligus rekan seperjuangan dari dulu jalan-jalan ke sebuah Mall di Kota Malang.
Rute kami yang pasti pertama kali adalah food court karena sepulang dari kantor dan mengajar, kami lapar, kemudian kami membeli beberapa film dan masuk ke sebuah toko Buku.

Dia mengajak saya untuk melihat-lihat buku yang berkategori religion. Ada sebuah buku yang menarik perhatian saya "Jempolmu Harimaumu".
Saya berniat membeli buku itu dan membacanya ketika saya sudah dirumah.

Bagian pertama dari buku itu berbicara tentang bagaimana keadaan saat ini, sosmed digunakan untuk menebarkan kebencian dan permusuhan.
From deepest of my heart, pernyataan itu seperti Tuhan sediakan untuk menegur diri saya sendiri.
Kalau dibilang saya ini hits, yah bisa jadi karena followers sosmed saya juga lumayan banyak hehehe :p

Sekitar 2 bulan yang lalu, i do it. Saya menggunakan sosmed dengan cara yang tidak bijaksana. Banyak kata-kata dan kalimat-kalimat yang saat ini saya sadari saat itu sama sekali tidak memberkati. So far, saya bersyukur karena setelah membaca buku tersebut saya bisa bercermin dan memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Btw, dibalik cerita kenapa sampai saya tidak bijaksana dalam bersosial media, saat itu saya terpancing dengan seseorang yang tidak penting.
Saya tidak ingin menceritakan dalam postingan kali ini karena saya rasa ceritanya tidak akan memberkati kok :)

So, bijaklah dalam bersosial media.
Termasuk saya sendiri juga masih belajar dan terus belajar untuk bersosial media dengan bijak :)

Rabu, 10 Mei 2017

Tentang Kamu dan Mereka

Mungkin sudah tidak sekali dua kali saya berkeluh kesah tentang mereka. Tidak hanya sekali dua kali saya menangis dan saya tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan saat ini. kecewa, ya tentu saja. Bagaimana bisa seorang yang sangat saya percaya bisa menceritakan segala sesuatu tentang saya, ya meskipun itu kepada teman terdekatnya sekalipun.

Pertama-tama sebelum melanjutkan tulisan ini, saya meminta maaf jika selama ini saya bersalah. Banyak tutur kata dan perilaku yang tidak berkenan bagi kamu. Ditengah-tengah kesibukan yang sedang kamu jalani mungkin saya adalah pengganggu yang seharusnya tidak menghubungi kamu sama sekali. Bahkan ketika kamu sedang bersama dengan teman-temanmu, seharusnya aku tahu bahwa kamu butuh waktu bersama dengan teman-temanmu itu.

Saya mengenal mereka dengan baik pada awalnya. Kalau tidak disengaja itu tidak mungkin karena apapun yang terjadi dikehidupan kita tidak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan dan saya harus mengenal dengan mereka.

Aku bersalah karena aku selalu mempermasalahkan hal-hal remeh. Saya marah ketika apapun yang saya posting disosial media saya selalu mereka lihat, dan yang lebih parah posting disosmed saya mereka bagikan kembali ke teman lain yang saya tidak mengenalnya. Kalau memang bagimu itu bukanlah sebuah masalah, tak apa, mungkin aku yang terlalu membesar-besarkan masalah itu.

Mengenai meretas akun sosial media mereka?
Saya sama sekali tidak pernah membajak apapun dari mereka, line, handphone, instagram dll. Ya saya memang mengatakan semua itu kepadamu, itu hanyalah sebuah pancingan bagi mereka. Mengapa mereka langsung panik ketika aku mengatakan semua itu?
Terus kok saya tahu kalau merk hapenya Asus?
Beberapa kali temanmu mengupload screencapture percakapan yang kalian lakukan, saya melihat dan bisa menebak apa merk handphone nya dari interface handphone nya.


Biar saya jelaskan sedikit, setiap merk smartphone mempunyai user interface. Coba lihat pada bagian icon jam, batre, sinyal dan wifi. Satu device dengan device yang lain itu berbeda, apalagi sebelumnya smartphone ku adalah asus, jadi sekali lihat saya bisa menebak bahwa smartphone nya adalah asus :)
Se simple itu.

Saya tahu etika dan saya tidak akan melakukan tindakan serendah itu. Sampai sekarang yang saya pikirkan mengapa mereka harus panik ketika saya berkata "saya tahu kok apapun yang mereka bicarakan". Coba pikirkan, mereka akan tenang kok kalau mereka memang tidak melakukan apapun, mereka tidak perlu panik.

Tentang bakso bakar :)
Saya tidak masalah jika nama saya disebutkan dalam sosmed mereka, harusnya tulisannya jangan dikecilkan supaya saya semakin famous :)
Ya saya aja kali yang melebih-lebihkan.
Coba dinalar, menurut ceritamu, temanmu ingin ikut ke bakso bakar tapi tidak diijinkan. kemudian temanmu berkata
"kalau nggak mau tak temenin minta temenin mbak fika, biar nggak keliatan jones, lagian kan kalian jarang meet up"
Anggap saja saya percaya dengan cerita mu bahwa temanmu benar mengatakan itu.
Kemudian dalam story nya juga dikatakan
"semoga ke bakso bakarnya beneran sendiri"
Terus saya berpikir?
Jadi sebenernya temanmu berharap kamu ke bakso bakarnya ditemenin mbak fika atau beneran sendiri (tanpa mbak fika)?
Mana yang menjadi isi hatinya saat itu? sudahkah kamu berpikir sejauh itu?

Tentang mengusik kehidupan orang lain :)
Pagi hari saya memutuskan untuk memblokir semua akun sosmed mereka. Lucu buatku ketika mereka berkata bahwa tidak mengusik kehidupanku tetapi mereka langsung tahu kalau sosmednya diblokir. Pikirkan, apakah mereka masih mencariku? Kangen atau bagaimana? hehehe
Apa karena kehilangan satu follower kemudian mereka mencari siapa yang mengunfollow mereka? Apakah mereka senganggur itu? hehehe

Loh ya, saya ini nggak bajak, tapi kok masih bisa tahu ya mereka update apa saja?
Sangat mudah, cari saja key word di google "how to see instagram story without path". Pasti akan menemukan banyak jawaban bagaimana kamu bisa melihat story orang lain meski kamu tidak memfollow ataupun memblokirnya.

Oh satu lagi, saya tersinggung dengan posting semacam ini.


Saya yang memberikan nama special "panda", kenapa panda? kalau kamu bertanya saya akan jelaskan makna dibalik panda :)
Saya yang memberikan nama panda mengapa mereka yang berkomentar?
Oh iya? ngomong-ngomong mereka tahu dari mana tentang panda?
apakah kamu ceritakan semua tentang kita kepada mereka? tentang bagaimana awal kita kenal, kemana saja kita pernah pergi, apa saja yang pernah kita lakukan bersama, bagaimana kita bersama merintis karang taruna, bagaimana kita menghadapi orang-orang yang ingin merebut kedudukanmu sebagai ketua, bagaimana kita saling menutupi kesulitan satu sama lain, bagaimana awal kita bermasalah, bagaimana kamu menemani aku ujian TA.
sudahkah kamu ceritakan itu semua kepada teman-temanmu? Oh mungkin aku salah ketika aku harus bercerita banyak hal kepadamu :)
Kepercayaan saya kembali dikhianati ketika saya menemukan orang yang saya rasa tepat :) tetapi perasaan saya salah.

Mengenai aku mengundurkan diri dari kepengurusan?
Bisa saja saat itu memang aku salah mengambil keputusan, saya berbicara salah kepada orang yang salah. Kenapa kamu tidak pernah menanyakan kenapa aku melakukan hal itu?
Kenapa harus orang lain yang mengajakku untuk kembali?
Aku tidak sejahat itu akan membiarkan kamu dengan tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin, harapanku saat itu kamulah yang mengajakku untuk kembali :(
Oh ternyata bukan kamu.
Aku hanya memancing kamu, masihkan kamu peduli? Ah ternyata kamu sama sekali tidak peduli. Bahkan saat itu aku berpikir, hatimu terbuat dari apa? Sampai seperti itukan kamu memperlakukan aku?
Setelah saya kembali dengan niat bahwa aku tidak akan meninggalkan kamu dengan tanggung jawabmu sendiri, sama sekali tidak ada apresiasi dari mu. Oh poor me :(

Saya tidak tahu bagaimana Tuhan menciptakan hati dan perasaanmu. Atau mungkin kata Tuhan sudah tidak lagi menggetarkan hatimu.

Doa saya, semoga tulisan ini bisa membukakan pikiran dan hatimu.
Kalau kamu tanya, apakah aku cemburu? ya saya cemburu dengan masa lalu dimana kita masih baik-baik saja :)