Jumat, 01 Mei 2020

Dua Sisi

Sebelum saya menulis sesuai dengan isi dari konten sesuai dengan judul, saya kembali mengubah kata ganti orang pertama yang dalam beberapa post adalah "aku", saya kembalikan menjadi "saya". setelah saya baca-baca kembali hasil tulisan saya yang menggunakan kata ganti orang pertama aku dan kata ganti orang pertama saya, rasanya lebih bagus kalau kata ganti orang pertama adalah saya.

"Kalau aku semakin dekat sama kamu, aku akan cemburu kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, mungkin juga karena hatiku yang terlalu sensitif" ucap salah satu rekan laki-laki saya.

Saya hanya berteman dengan dia, tanpa ada komitmen dan bagi saya hubungan kami seperti hubungan pertemanan saya dengan rekan-rekan yang lain. Lalu, saya cukup kaget ketika dia mengatakan hal tersebut. Kalau saya pikir-pikir, sejak kapan dia menganggap saya lebih dari yang lain?

Saya kembali flashback dan mengingat apa yang sudah saya lakukan kepada rekan saya ini, karena pada dasarnya orang tidak mungkin terluka kalau hanya dari satu sisi. Coba saya ganti istilahnya bukan terluka tetapi merasa kehilangan. Seseorang yang merasa kehilangan tidak mungkin hanya berasal dari satu sisi. Pasti ada sisi lainnya yang membuat seseorang tersebut merasa kehilangan.

Sama halnya dengan saya ketika saya merasa kehilangan seseorang yang saya kasihi, kalau tidak ada respon, tidak ada komunikasi yang cukup intens dengan seseorang tersebut tentunya saya pun tidak akan merasa kehilangan ketika sudah tidak ada komunikasi kembali.

Dari kejadian saya dengan salah satu rekan saya ini, saya kembali instropeksi diri saya sendiri, kalau memang seharusnya ada jarak dari awal. tidak perlu setiap hari saya lakukan komunikasi supaya sisi yang lain tidak merasa kehilangan.

Saya pun mulai menjaga jarak dengan beberapa rekan laki-laki saya yang seringkali menghubungi saya entah itu karena pekerjaan atau rekan kuliah. Ya, saya seorang perempuan teknik yang kehidupan saya sehari-hari didominasi laki-laki. Sebagian besar teman saya adalah laki-laki.

Terkadang saya juga tidak mengerti jalan pikiran laki-laki. Meski hampir setiap hari saya bergaul dengan laki-laki. Ada yang dia care kemudian menghilang, ada yang perhatian kemudian cuek, ada yang cuek sebenarnya ingin diperhatikan dan lain-lain.

Apapun itu, sesuatu bisa terjadi karena dua sisi. Sisi pemberi dan sisi penerima.
Seseorang tidak mungkin merasa diperhatikan jika tidak ada sisi yang memberi perhatian.
Seseorang tidak mungkin merasa kehilangan jika tidak ada sisi yang sebelumnya pernah ada :)

Minggu, 26 April 2020

Salah Junior atau Salah Senior?

Hampir genap 2 bulan saya kembali ngoding dan tiap hari ngoding, bukan ngoding yang abal-abal tapi ngoding yang beneran production dan include dalam project. Bahkan dalam kondisi hati yang kurang baik, maklum bagaimanapun saya terjun di dunia IT pun, saya tetap cewek. Kadang moody kadang ya ngga. Tapi kalau sudah di depan laptop dan ngoding, saya pastikan kalau hati dan pikiran saya ya untuk codingan didepan saya. Jadi, codingan didepan saya lebih memiliki hati saya ketimbang yang lain.

Saya bukan tipe orang kalau ngoding itu harus mahami dari 0, ngga hehehe. Kasih saya contoh file dan jalannya seperti apa, kasih saya waktu, bisa jadi waktu yang saya butuhkan lama, saya akan tracing sendiri dan saya pasti bisa buat semacam itu di kasus yang lain. Ini kerap kali saya sebut sebagai "The Power of Pokok e Ngunu". Saya sering, bahkan hampir ngga tau kenapa codingan saya jalan ehe ehe ehe :p

"Kok bisa jalan gini Fik?"
Me : Ngga tau, ya pokok e ngunu jalan

Bahkan ketika dalam project, saya dikasih satu framework frontend (dimana saya ngga familiar dengan yang namanya frontend), dimasukan dalam team project (langsung nyemplung project) dan disitu saya langsung digandengkan sama senior-senior yang udah puluhan tahun ngoding, nah saya? baru balik ngoding 2 bulan yang lalu. sebelumnya, ngga pernah ngoding sama sekali.

Seringkali pro dan kontra, kata orang kalau mau ngoding itu pahami dulu struktur dasarnya lalu bisalah masuk dalam project. Nah saya berpikiran andaikan saya bikin mobil, saya ngga perlu tau gimana cara bikin ban nya, saya perlu tau gunanya ban buat apa dan masangnya gimana, pembuat ban nya udah ada sendiri.

Nah kemarin ada satu team dalam kerjaan yang sebenernya saya orang paling baru yang nyemplung dalam team itu, ngos-ngos'an tentu saja, skill ngoding saya ngga sejago mereka yang udah lama, ada salah satu senior yang sudah lebih lama dari saya, cukup kaget ketika saya masuk dalam team develop. karena saya kebiasaan kerja dengan the power of pokok e ngunu jalan, ketika dikasih satu project dan saya udah pahami goalnya apa, saya kerjakan dengan nyari jalan semudah mungkin pokoknya sesuai dengan kondisi yang diminta.

Dibulan kedua saya gabung dengan team develop, senior saya tiba-tiba ngontak saya kalau dia sudah bukan lagi bagian dari team develop, saya masih ada dalam team develop. Secara skill, senior saya pasti jauh lebih matang, dia sudah cukup lama kerja dibidang IT.


Saya mesti merespon apa? dari awal, sepertinya dia udah mulai ngga enak kalau saya nanya masalah ini itu atau kendala ini itu. sedangkan saya, saya masih ada dalam team development. Bisa dibilang memang development project kali ini adalah project paling besar yang sedang dikerjakan.

Secara hati pastilah saya ada rasa ngga enak, apalagi sampe saya di chat personal kalau dia sudah bukan lagi team development, saya bisa apa?
Pikiran positif saya, mungkin memang bagiannya udah selesai, jadi dia tidak lagi jadi team develop. Ngga lama setelah chat itu, dia bilang kalau dia merasa tersaingi. Astaga -_-

Saya?
bagi saya, saya dikasih tugas apa, akan saya kerjakan sampai titik darah penghabisan dan harus bisa. Kalau ngga bisa gimana? ya dikerjakan sampai bisa :)

Nasib orang sendiri-sendiri :)

Senin, 30 Maret 2020

When I back to Programming World

Iyaaa, nggak salah. Finally I am back to IT World. I code everyday.

Sebulan ini aku merasakan menjadi bagian dari orang-orang IT, cielah bagian hahaha. Hueeekkk padahal nyatanya susaaah banget wkwkwk. Keliahatan keren? dalemnya ngenes, tiap hari ketemu sama error yang kadang aku nggak ngerti juga error kenapa, random nambahkan code juga nggak tau kenapa jadi jalan hahaha.

Aku meninggalkan zona nyaman yang biasanya aku lakukan? zona nyaman? iyaa zona nyaman. Sebelumnya aku bekerja sebagai tenaga pengajar di kursusan robot yang bobot kerjanya nggak terlalu sulit. Bahkan tergolong sangat gampang untuk ukuran orang yang punya basic IT.

Tergeraklah hati hambaaaa, hmmm untuk kembali lagi ke dunia IT. ngoding lagi, everyday. Beberapa orang yang tahu akan bertanya
ngapain? kan udah enak toh ngajar, waktunya fleksibel dll dll dll...

sampai kapan? sampai aku umur berapa? ku pikir, sampai umur 30 tahun mentok aku bisa ngajar, apalagi di tempat kursusan robotik yang notabene banyak anak-anak dan pasti seiring berjalannya waktu, aku akan tergeser dengan yang lebih muda kalau aku nggak punya satu skill yang bisa diandalkan. nah skill yang bisa kuandalkan saat ini ya ngoding. diluar nulis sebagai hobi. aku pikir aku bisa bertahan hidup (hmmm bertahan hidup -_-) kalau skill ngoding ku bagus.

awalnya, aku sangat exited dengan dunia ngoding soalnya project pertama yang dikasih sesuai dengan bidangku sbg backend. yang dipikirkan hanya masalah API, query, kondisi data yang diterima dan yang akan dikirim. Nggak lama dari waktu aku kerja di bidang IT, dipindahlah aku ke frontend yang buanyaak sekali pakai JavaScript. JavaScript itu juga salah satu bahasa pemrograman. menurutku bahasa pemrograman yang cukup rumit dan ketika aku kuliah dulu, bahasa ini adalah bahasa yang aku hindari hehe. Eh malah sekarang setiap hari aku harus baca ini. Hueeekkkkk.....

Sebenernya aku masih diuntungkan, soalnya aku punya partner kerja yang sangat baik. baik banget, meski sering banget bully aku dan bikin aku kesel. dia pinter dan pasti mau nolongin kalau aku butuh sesuatu, cuma dalam proses nolongin itu yang ngeselin, dia tuh udah tau errornya apa, cuma nggak segera bilang aja, nunggu aku keliatan beneran bad mood, dia ketawa dulu baru dikasih tau di jam-jam mau pulang. Kadang kita sebagai programmer emang beneran nggak ngerti itu script errornya kenapa, variable yang mana dll.

Ditambah ketika WFH karena Covid 19, ketika aku ada error mau tanya siapa? sama temen pasti dibantuin tapi ya begitu, aku harus sabar karena dia cukup ngeselin.

Kenapa aku nulis tulisan ini?
Yaaaa, karena aku lagi stuck dibagian tertentu dan nggak ngerti mau ngapain hahahaha...

Rabu, 25 Maret 2020

Social Distance - Covid 19

Covid-19, berita dimana-mana dan himbauan "stay at home" atau "tetap dirumah". Dokter dan perawat kalang kabut, kehabisan stok ADP, kerja keras menangani pasien ODP dan PDP Covid-19. Masyarakat Indonesia juga dihimbau supaya tetap dirumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan membatasi aktifitas sosial secara fisik.

Bahkan, saya pun juga menjadi bagian orang yang akhirnya bekerja dirumah. Teman-teman yang ada di Malang dan ada di luar kota pun mungkin mengalami hal yang sama. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan melakukan banyak aktifitas dirumah.

Bagi sebagian orang yang cenderung ekstrovert ini sangat mengganggu. Bosan, nggak bisa ngapa-ngapain, bingung dirumah mau ngapain, cuma makan tidur makan tidur. Wajar, kebutuhan ekstrovert memang begitu. Mereka akan merasa lebih hidup kalau rame-rame, interaksi dengan banyak orang, bergaul dan menghadiri berbagai kegiatan yang "rame". Nggak jarang juga saya dapat WA dari teman berupa keluhan kalau dia itu bosan, di kos ngapain, nonton TV ya gitu-gitu aja dll dll dll.

Tapi, buat orang introvert (count me in), ini sangat membahagiakan hehe. Kita nggak perlu basa-basi sama orang yang nggak terlalu dekat dengan kita, nggak perlu menghabiskan tenaga ditengah kerumunan orang dll. Cukup stay at home, baca buku, nulis sesuatu, nonton anime/film, makan tidur dll. That's an awesome life for introvert. Nggak ada keluhan apapun ketika diminta stay at home.

Anyway, diluar pro dan kontra, suka nggak suka nya keadaan yang memaksa kita buat stay at home, ada beberapa hal yang bisa saya ambil. Terutama himbauan untuk Social Distance atau membatasi kegiatan sosial secara fisik. Bagi saya yang sudah biasa sendiri (kasian banget gue) hahaha, ini bukan masalah serius.

Atau memang ini adalah masa dimana semua orang sedang diajari untuk membiasakan dengan kesendirian. Mencukupkan diri sendiri, merasa cukup dengan diri sendiri. Segala sesuatu dirumah dan sendiri. Kerja dirumah, sendiri, papa mama juga nggak akan ngerti kalau ada error di pekerjaanku. Intinya adalah sendiri, entah pada akhirnya manusia itu akan sendiri atau menemukan soulmate yang pas untuknya. Honestly, bagi saya social distance bukan masalah baru. Pada akhirnya memang siapapun akan menghadapi keadaan "sendiri"

Bahkan ibadah pun sendiri hehe, memang ada ibadah online, tapi saya nggak melakukan ibadah online. Ini sangat relevan dengan keadaan saat ini. Ibadah dan hubungan dengan Tuhan tidak lagi dilihat dari bagaimana kita berpakaian ketika ke gereja, bagaimana gedung gereja yang kita datangi, seberapa banyak jemaat yang datang dll. Just you and Lord.

Saya cuma tersenyum ketika sebagian orang "mengeluh" karena dihimbau stay at home dan tidak ada ibadah secara fisik.
"yah, nggak bisa ke gereja"
"biasanya kalau ke gereja kan disana rame-rame" (hmm, ibadah rame-rame???)
dll
dll
dll...

I found something new why I always do everything alone and I'm so grateful.

ketika orang lain berempati "kamu sendirian saja ya?" dan itu lama-lama menjadi kebiasaan dan bukan sebuah masalah lagi, saat ini ketika orang bingung karena apa-apa harus sendiri, hal itu saat ini sudah tidak lagi menjadi masalah buat saya. Percayalah, ada sesuatu yang bisa disyukuri dalam setiap kejadian yang dialami.

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allat turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Selasa, 21 Januari 2020

that's not my fault or my fault?

kadang kita memang tidak pernah tau, ketika seseorang tertawa didepan kita nyatanya dia sedang menyimpan sesuatu yang besar juga tentang kita. entah itu sebuah kesalahan kita yang tanpa kita sadari atau mungkin juga hal lainnya.

ada sebuah perasaan sedih dan cukup kecewa ketika seseorang yang telah kita percayai begitu lama, tertawa dan seakan tidak pernah terjadi apapun nyatanya menyimpan berjuta misteri. menyimpan semua kesalahanku tanpa dia mau memberitahukannya.

sampai suatu ketika dia menjauh, dia berubah, bukan dia yang aku kenal dulu. jika dia mengatakan apa yang menjadi kesalahanku sejak awal, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini. hanya karena orang masa laluku yang kembali mengganggu kehidupanku, dia bisa bersikap seperti ini kepadaku?

jujur, aku sangat kecewa ketika dia tidak memberitahu apa yang menjadi salahku dari awal, dia tidak mengoreksi aku, dia membiarkan masalah menjadi besar kemudian dia mendiamkan aku seperti sekarang ini?

it's our end?

Rabu, 15 Januari 2020

Jealous

Tulisan pertama saya di blog ditahun 2020. Jealous.
Pembuka tulisan di blog setelah saya lama sekali tidak menulis disini, bahkan saya tidak sempat menulis kembali karena kesibukan pekerjaan dan kegiatan yang lain. Hanya saja, saya akan tetap menulis.

Pertengahan tahun lalu, sebuah hal terjadi dalam kehidupan saya. Saya bertemu seorang kawan lama yang saat ini bisa dibilang menjadi seseorang yang special buat saya. Seseorang yang kita pikirkan ketika membuka mata dan terakhir kali kita pikirkan sebelum menutup mata dimalam hari nyatanya memang menjadi seseorang yang rawan membuat kita menjadi down.

Kembali ke judul tulisan saya, dalam bahasa Indonesia artinya cemburu. Saya melihat dia menerima kopi dari seseorang yang lain dan dia sangat excited dengan pemberian tersebut. Dan sebenarnya, saat itu juga, diwaktu yang bersamaan saya membawakan dia bubur kacang hijau karena saya cukup khawatir dengan kesehatannya. Saya mengurungkan niat saya untuk masuk dan segara pulang.

Malam itu saya cukup merasa sedih, perasaan yang dirasakan umumnya wanita ketika melihat seseorang yang dikasihi dekat dengan perempuan lain. Saya menyimpan perasaan itu sendiri, bagaimana mungkin saya menyampaikan perasaan tersebut hanya karena emosi sesaat saya. Ditambah memang saya tidak berhak untuk cemburu.

Beberapa hari setelah dia menerima kopi dari perempuan lain, saya berniat mengirimkan kopi untuk dia. Awalnya dia menolak pemberian saya, mungkin karena memang pemberian dari saya bukanlah yang dia harapkan. Mungkin dia menunggu pemberian atau pertemuan dengan perempuan lain. Entah siapa.

Saya hanyut dalam pikiran dan perasaan cemburu. Bagaimanapun, saya perempuan dan saya tidak bisa bersikap santai melihat seseorang yang saya kasihi bersikap demikian.

Sorry, ini tulisan terburuk yang pernah saya posting disini hehehe.

Rabu, 02 Oktober 2019

He change my life

Saya ingin membagikan sebuah cerita, dimana kehidupan saya yang Tuhan ubahkan. Saya akan memulai cerita saya dari masa SMP sampai saat ini dengan pekerjaan yang Tuhan percayakan, sebuah pekerjaan yang baik dan pekerjaan yang sangat saya cintai.

Puji Tuhan...

Saya lahir dari keluarga yang sederhana, Papa Mama dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja. Saya merasakan belum punya rumah, tidak punya uang jajan, dijadikan bahan ejekan kanan kiri. Hanya saja, saya diberikan otak yang kata orang cerdas. Saya bersyukur untuk hal itu.

Ketika SD, SMP, SMA saya tidak pernah turun dari peringkat 3 besar Paralel (umum). Rangking terjelek saya semasa study adalah rangking 3. It is not bad. It is good enough. Saya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat sombong dan angkuh. Saya pikir, dengan mengandalkan kepintaran saya, semua orang bisa tunduk kepada saya.

Saya tidak pernah punya teman dekat semasa sekolah. Saya tidak membutuhkan teman dekat, tetapi teman yang butuh saya. Di masa-masa sekolah, saya tidak peduli kalau ucapan, sikap dan perilaku saya menyakiti hati orang lain. Bagi saya, kalau orang lain mau menjauh, silahkan. Mereka pasti butuh saya karena saya pandai. Hal itu berlangsung terus sampai kuliah dan masuk dunia kerja.

Someday, keadaan keluarga yang biasa saja, ucapan dan ejekan orang yang menyakitkan hati itu yang memaksa kita menjadi pribadi yang kuat. Dari mental sampai fisik. Ketika SMP saya sudah terbiasa mencari uang sendiri dan tidak meminta uang jajan ke orang tua, saya menjadi guru les untuk anak SD (sekali lagi karena saya mengandalkan kepintaran saya). Saya menggadaikan jam main dan senang-senang supaya saya bisa dapat uang jajan.

Oh, saya melupakan sesuatu. Ketika saya masih SD, papa saya sudah mengajarkan saya mandiri dalam hal financial. Ketika saya masih kelas 2 SD, saya sudah merasakan panas-panasan jualan balon terbang. Jadi papa saya yang menunggu saya di sepeda dan saya diminta keliling menjajakan balon. Saya menawarkan mainan ke anak-anak seusia saya :")

Merinding ah nulisnya... :")

Ketika duduk di bangku SMA saya menjadi tukang ojek. it is true :)
Sebelum bertebaran ojek online seperti sekarang, saya sudah pernah jadi tukang ojek. Customer saya itu adalah ibu-ibu yang akan berangkat kerja ke pabrik rokok. Mereka sudah masuk kerja jam 5 pagi. Kebayang kan saya harus bangun dan prepare jam berapa? Setelah mengantar saya lanjut ke Sekolah. Saya tidak pulang dulu karena hemat bensin, kalau saya pulang saya harus pakai bensin dua kali lipat.

Udah punya motor? berarti orang punya dong?
No no... Motor itu juga saya dapatkan dari hasil buruh disalah satu konveksi pabrik jaket. Saya menjadi kurir antar barang disiang (sepulang sekolah) sampai sore hari bahkan malam. Dan upahnya saya pakai untuk membayar kredit motor second yang saya pakai.

Dari kerja keras itu kebutuhan pribadi saya cukup. Bahkan lebih yang kemudian saya investasikan untuk membeli mesin jahit sendiri. Ketika saya duduk di kelas 3 SMA, saya sudah punya 16 mesin jahit. That's why aku nggak pernah mikir pacaran semasa SMA, karena kehidupan ini cukup keras bagiku. Dibalik itu semua juga ada pertolongan orang tua dan dukungan dari mereka. Mama saya menolong saya untuk mengkoordinir ibu-ibu setempat untuk bekerja ditempat saya.

Dari titik itu saya sudah tidak pernah khawatir dengan financial keluarga saya. Kami menjadi keluarga yang cukup, bahkan lebih. Papa memutuskan merantau ke Bali supaya saya bisa lanjut kuliah.

Masalah kerja keras sudah biasa saya lakukan dan saya tidak pernah mengeluh akan hal ini. Di kampus pun saya menjalankan bisnis saya, banyak organisasi yang memesan kaos di tempat saya bahkan kaos di kampus pun memesan ditempat saya. Agak bermain politik di kampus hehe.

Saya sudah berubah? Belum... saya belum berubah..
Saya masih sombong dan angkuh. Saya sudah tidak kurang, financial saya sudah cukup, saya punya otak yang cerdas, saya didekati dengan banyak laki-laki (meskipun tidak ada salah satu dari mereka yang menarik buat saya) yang membuat saya merasa di atas angin.

Sampai pada suatu moment, saya mengalami kekeringan rohani. Saya bergereja, saya jemaat yang aktif dan saya menjadi orang yang sangat sibuk pelayanan. Hampir setiap hari saya ke gereja. Tetapi, saya tidak mengalami pertumbuhan secara rohani. Saya hanya sie sibuk, kerohanian saya tidak bertumbuh yang ada malah meorosot.

Siapa peduli?
Orang-orang disekitar saya masih memandang saya menjadi pribadi yang hebat. Saya masih melanjutkan kegiatan kuliah, pelayanan yang menyibukan dan bisnis yang berjalan dengan baik. Saya masih bisa mengimbangi pergaulan teman-teman saya. it is enough?

Big No. I still need Jesus.

Satu hal yang perlu saya tekankan disini adalah satu kali Tuhan sudah nangkap kamu, sampai mati kamu akan terus ada dalam genggamanNya. Hanya butuh respon yang benar ketika kita menginginkan sebuah terobosan terjadi.

Suatu ketika Tuhan kembali tangkap saya menjadi satu pribadi yang baru. Saya mengalami berbagai proses. Kepandaian dan kecerdasan saya tidak berguna tanpa ada sikap hati yang benar.

Saya memutuskan untuk pelan-pelan manrik diri dari kesibukan yang sia-sia. Terjadi guncangan ya tentu saja, saya yang dulunya dinilai "rohani banget", dibilang "fika lagi sakit". Wait, sakit?
Dan ini bener terjadi, ketika saya pelan-pelan menarik diri supaya tidak menimbulkan rasa nggak enak saya dianggap sebagai pribadi yang lagi sakit -_-

Tuhan bener-bener ngajari saya bagaimana saya belajar untuk mau tunduk. Sebelumnya saya pribadi yang tidak mau dan tidak akan tunduk, jangan harap ada laki-laki yang bisa menundukan kemauan saya, kalau laki-laki itu mau sama aku, dia yang harus tunduk sama saya. Sampai segitunya dan itu bener.

Roh kudus memampukan saya untuk benar-benar menyangkal dan melepas "ke-aku'an ku". Selama roh kudus memproses kehidupanku, tiada hari tanpa nangis. Tunduk pada aturan atau paling tidak memiliki respon yang benar itu hal paling sulit yang pernah saya alami. Bukan saya yang mampu, tetapi Roh Kudus yang memampukan.

Tuhan pula yang mengajari saya untuk mau rendah hati. Yang sebelumnya saya tidak mau melakukan hal-hal remeh, tetapi sekarang kalau Tuhan yang suruh saya ngepel lantai, ngelap kaca atau apapun akan saya lakukan.

Prosesnya berapa lama?
Tiga sampai Empat tahunan. Lama sekali buat saya. jatuh bangun, naik turun, nangis, gulung-gulung, teriak-teriak, guling-guling, salto, tiarap, push up, smack down -____-

Jadi kalau saat ini saya punya keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, financial yang baik itu bukan hasil usaha saya. Itu hanya bonus dari respon yang benar kepada Tuhan.

Tenang saja, penyertaan Tuhan itu Ya dan Amen. Jadi gini, kalau Tuhan belum mendapatkan sepenuhnya dari dirimu, Tuhan akan terus kejar, sampai Tuhan mendapatkan sepenuhnya dari dirimu, sepenuhnya dari hatimu, segenap dari akal budimu.

Responi segera :)