Senin, 22 Januari 2018

Aku Berhenti, terimakasih :)

Ada beberapa orang dan nama yang menjadi sumber inspirasiku untuk menulis. Terutama di blog pribadi ini. Mungkin juga suatu saat aku juga akan menuliskan kisah dengan seseorang yang lain. Tapi malam ini, aku belum beranjak dari satu nama.

Masih ingat tentang posting sebelumnya yang berjudul "Tahun Baru" dan "Kesabaran, Kebaikan dan Ketekunan"? Ya, tepat sekali. Saya masih berkisah dengan nama dan orang yang sama.

Aku tidak bisa mengelak bahwa sampai saat ini saya melabeli dia sebagai sosok yang sangat baik.

Beberapa pekan terakhir ini, namanya selalu ada dalam pokok doaku. Oke, kenapa? Karena aku mengasihi dia, aku rasa dia cukup membaca tulisanku sebelumnya, aku tidak ingin memberi tahu dia lagi bahwa malam ini aku kembali menulis untuk dia.

dia masih orang yang aku pikirkan, pagi dan malam hari. Toh meskipun diluar dia juga banyak hal lain yang saya pikirkan. sekali lagi, dia tetap terpikirkan.

Pertama-tama ku kenalkan pribadi ku dulu, aku tipe orang melankolis dan dipadukan dengan phlegmathis. Sehingga pahamlah jika apa yang ku rasakan dan ku tuliskan terkesan sedikit "lebay". Plus tipe manusia yang introvert, so aku merasa lebih lega ketika aku menuliskan semua yang ku rasa.

Lanjut ke ceritanya ya,
Sekitar satu minggu yang lalu (mungkin) saya memberanikan diri buat minta nomer kontak kakaknya. pengalaman ini adalah pengalaman pertamaku "berani" minta nomer seorang cowok ke teman. Singkat cerita aku mendapatkan dan menunggu 3 hari sambil memberanikan diri buat chat duluan. aku tidak pernah berani melakukan ini. (ini cowok kakaknya loh ya, jangan salah fokus)

Sampailah pesanku ke kakaknya. dengan harap-harap cemas dan tengak-tinguk hape dan bergumam dalam hati "Tuhan apapun balasannya, mau di cuekin, mau di baikin ini resiko Tuhan, ya saya mau menerima resikonya. Tuhan tapi saya tetap berharap di balas chat nya dengan baik ya Tuhan"

kurang lebih 15 menit berlalu, chat nya di balas dengan ramah. Ugh, rasanya lega juga ya. padahal awalnya udah keringat dingin dan gemetaran hehe.

hal pertama yang ingin ku sampaikan ke kakaknya adalah aku ingin memberikan hadiah ulang tahun kepada dia. bersyukurnya, kakaknya rupanya adalah orang yang cukup ramah (penilaian saat ini). ngobrol-ngobrol, akhirnya kakaknya setuju membantu. sudah selesai urusan bersama kakaknya.

Oh iya, kemudian aku ingat ada Ibu. jangan sampai saya membuat ibu marah. jangan-jangan kalau nanti aku kesana ibu jadi marah
"ngapain ini anak ku dikasih beginian? nggak penting"
untuk memastikan pikiran itu salah, aku menghubungi kakaknya lagi dan memastikan kalau Ibu akan baik-baik saja. tidak akan khawatir seperti sebelumnya. ketika aku pulang malam. padahal sudah ijin dengan baik dan benar -____- dalam hati saya "sudahlah Bu, saya baik-baik saja, saya pulang malam tidak akan kena marah, karena jelas saya sama siapa, kemana, ngapain dan pasti pulang malam". Eh tunggu, ibu ini nggak khawatir sama aku kok, aku GR banget wkwkwk. Ibu khawatir sama anaknya yang ngantar anak orang larut malam, lah nanti kalau dijalan ada apa-apa gimana? aku aja khawatir, apalagi Ibunya. Betulkan?
(semoga akan ada inspirasi sehingga ku bisa tuliskan di judul berikutnya tentang si ibu)

setelah menghubungi kakaknya lagi, aku mendapat kepastian bahwa Ibu tidak akan marah dan rupanya sudah tahu dengan rencanaku. Puji Tuhan.
artinya, aku tidak akan membatalkan rencana tersebut. karena ini menyangkut Ibu. minimal Ibu sudah tau.

Kemudian masalahnya dimana? Kok berhenti?
ini hanya masalah respon kok. aku yang terlalu melankolis atau mungkin juga apa yang ku pikirkan benar. Iya, dia menjauhiku.
Tenang saja, aku bahagia kok karena dia bukan sumber kebahagiaanku. sumbernya Tuhan aja.

aku berhenti mengharapkan dia sebagai seseorang yang mungkin lebih dari teman atau mungkin seseorang yang bisa memegang komitmen bersamaku
aku berhenti memikirkan dia
aku berhenti menunggu saat bisa berkomunikasi dengan dia.
aku berhenti memberikan perhatian
aku berhenti berharap tentang dia
dan akhirnya
aku berhenti berjuang
tapi untuk doa tidak akan berhenti, sebagai hamba Tuhan yang tidak sanggup melakukan apapun.

bagiku, aku sedang menunggu akhir.
iya, bagiku 1 minggu lagi adalah akhir dari kisah dia. mungkin tulisan berikutnya sudah bukan tentang dia lagi.

berhenti dan terimakasih :)

Minggu, 21 Januari 2018

Skripsi Oh Skripsi

"sudah sampai bab berapa?"
"kapan wisuda?"
"kapan sidang?"

Selama satu tahun terakhir ini, hal-hal ini yang sangat sering saya dengarkan ketika bertemu dengan teman kampus, sodara atau siapapun yang tahu kalau aku sedang ada di semester akhir.

Awal pemilihan topik saya sangat sering berkonsultasi dengan salah satu Dosen saya. Btw, sebelum saya mendapatkan dosen ini, saya berdoa supaya ketika saya mendapatkan Dosen pembimbing skripsi, saya mendapatkan Dosen yang ada Roh Kudus nya. Seperti yang saya doakan, kedua dosen saya seperti yang saya ajukan dan yang saya harapkan. Rasa-rasanya tidak ada masalah dengan Dosen pembimbing saya. Oke, terus masalahnya dimana?

Dalam proses mengerjakan skripsi saya dekat dengan seseorang, cowok yang pasti ya. Awal-awal saya sangat semangat mengerjakan skripsi karena ada motivasinya, yaitu si dia (cowok yang sedang dekat dengan saya). Hampir setiap malam saya pergi bersama dengan cowok ini dengan alasan mengerjakan skripsi, tapi faktanya saya tidak mengerjakan skripsi. Melainkan saya asik ngobrol dan bercanda dengan cowok ini.

Kesalahan pertama adalah Motivasi yang salah.

Oh iya, btw saya menuliskan kisah saya bukan untuk menyombongkan diri saya atau merendahkan orang lain. Tetapi saya ingin berbagi cerita hidup saya dan sekedar membagikan tips kepada para pembaca supaya tidak melakukan hal salah seperti yang pernah saya lakukan.

Kembali ke motivasi yang salah. Saat itu motivasi semangat saya mengerjakan skripsi adalah karena ada si cowok tadi. Percayalah bahwa kalau motivasi kita adalah manusia, mustahil kita akan menjadi berhasil. Bahkan dalam hal sepele. Bukan berarti skripsi adalah hal yang sepele ya, tetapi disini saya mau bilang bahwa hal sekecil apapun yang sedang kita lakukan, jangan pernah menjadikan manusia sebagai motivasi kita untuk melakukan hal tersebut. Jaminannya 99,9% kecewa.

Mungkin sudah ada yang menduga-diga apa yang terjadi dengan saya dan si cowok ini. Yups betul, saya dikecewakan oleh si cowok ini. Ada sebuah masalah yang muncul di antara kami dan berdampaklah pada skripsi saya. Ya sekali lagi, karena saya salah langkah di awal. Motivasi saya ukan Tuhan, tetapi manusia.

Jaminan untuk tidak kecewa hanya ada pada 1 pribadi, yaitu pribadi Tuhan. Jaminannya 100% tidak akan mengecewakan.

Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Dari kesalahan tersebut saya diingatkan bahwa "Nak, selama ini kamu punya motivasi yang salah". Iya, saya menerima teguran ini dengan penuh rasa syukur. Saya membutuhkan waktu yang cukup lama sampai saya benar-benar bisa kembali semangat menjalani hari-hari saya yang pernah mengalami kekecewaan.

Saya masih bersyukur karena ditengah-tengah saya mengerjakan skripsi, saya juga bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah swasta. Setiap hari saya bisa bertemu dengan anak-anak, rekan kerja dan (dia). Tapi (dia) yang sekarang beda ya hehe ^^

Kembali saya melakukan kesalahan yang kedua "Halah ntar lah juga kelar kok, kan bikin programnya begitu-begitu saja". Hampir setiap hari saya memikirkan hal itu. Padahal menurut data statistik dan bisa dibuktikan, hanya ada 30% pelajar Indonesia yang bisa kuliah (sumber : kompas.com)
Artinya, saya adalah salah satu dari 30% pelajar Indonesia yang sangat beruntung bisa kuliah. Tapi penyakit menyepelekan tadi yang membuat saya kembali terpuruk dalam mengerjakan skripsi saya.

Yosua 18 : 3
Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu?

Sampai kapan saya menunda-nunda? Sampai kapan saya malas-malasan? Dan sampai kapan saya menyepelekan?

Dua kesalahan tersebut membuat saya gagal menyelesaikan skripsi 2 semester (1 tahun). Pertama saya mempunyai motivasi yang salah, kedua saya menunda-nunda.

Tapi.......
Tuhan itu bukan Tuhan yang jahat. Sampai kapanpun dan sebanyak apapun kesalahan yang kita perbuat, Dia adalah Tuhan yang tetap mengasihi kita.

Saya sampai di puncak benar-benar saya tidak bisa melanjutkan skripsi saya dan mustahil untuk lulus dan wisuda tahun 2018. Tetapi disini Tuhan kembali perlihatkan kebaikanNya.
Saya mendapatkan informasi bahwa saya harus Sidang/Ujian paling tidak 12 Januari 2018, karena skripsi ini sudah saya kerjakan selama satu tahun.

Saya give up dan memutuskan untuk cuti kuliah selama satu tahun. Sambil mengembalikan mood dan mengembangkan karir dibidang pendidikan. Bahkan saya sudah sempat menghubungi Dosen saya dan beliau sudah setuju dengan keputusan cuti saya.

Saya lega, saya sudah sampaikan cuti dan sudah disetujui oleh dosen pembimbing saya dan kemudian saya siap menjalani kehidupan baru saya.

Saya sungguh-sungguh mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang saya lakukan. Ini yang saya alami. Tuhan tetap mengasihi saya.

Dan sekali lagi, Tuhan tunjukan kuasaNya. Tepat 12 Januari, hari terakhir saya seharusnya ujian skripsi tetapi saya mendapatkan informasi bahwa saya masih bisa mengerjakan skripsi saya sampai pertengahan bulan Maret. How Great is Our GOD :)

Yeremia 31:3
Dari jauh TUHAN menampakan diri kepadanya:
Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

Saya berkali-kali mengalami kasih Tuhan dan kalau Tuhan sanggup melakukan kepada saya, pasti Tuhan juga sanggup melakukan kepada kita semua :)


Kamis, 11 Januari 2018

Kesabaran, Kebaikan dan Ketekunan

Akhirnya bisa menulis lagi ditengah-tengah kesibukan mengajar, kuliah dan lain-lain :)

Paket 3 in 1. Rasanya tidak dapat dipisahkan ya?
Orang sabar biasanya baik dan orang baik biasanya tekun.

2 bulan terakhir ini saya belajar dari sosok yang bisa dibilang luar biasa, sebut saja Mr. X
Saya belum lama mengenal dia, belum lama menjalin komunikasi intens dan belum lama dekat. Tapi selain orang-orang lain yang pernah menjadi bahan tulisan saya, saat ini giliran dia menjadi inspirasi saya dalam menulis, setelah bertahun-tahun saya menjadi juru ketik untuk diri saya sendiri hehe.

Kurang lebih 2 bulan lalu, ditempat kerja saya terjadi sebuah peristiwa yang tidak diharapkan. Memang bukan unit saya dan yang dirugikan pun bukan saya (rugi sih karena saya jadi kehilangan dia di tempat kerja). Sebuah peristiwa malam hari, ada tamu yang tidak diundang (baca : maling) berhasil meminjam sejumlah uang dan tidak mengembalikannya lagi hehe. Sedih itu pasti, termasuk saya yang berbeda unit dari Mr.X

Dari kejadian tersebut akhirnya pimpinan kami turun tangan dan memanggil orang-orang yang bersangkutan mengenai kejadian tersebut, termasuk si Mr.X. Karena berbeda unit, saya tidak tahu persis apa yang terjadi, berapa jumlah yang hilang, apa yang dibicarakan dan bagaimana peristiwa sebenarnya. Saya hanya tahu keputusan final dari pimpinan bahwa Mr.X dan beberapa orang yang bersangkutan harus mengakhiri pelayanan di tempat kami melayani bersama. Ini adalah berita yang sangat mendukakan banyak pihak, termasuk saya.

Berhari-hari kejadian tersebut terjadi, kesedihan masih ada dihati saya (kalau rekan yang lain saya tidak tahu apa yang mereka rasakan dan mereka pikirkan). Sampai suatu ketika saya memberanikan diri untuk mengungkapkan betapa saya sangat merasakan kehilangan. Kehilangan teman, rekan dan partner pelayanan. Meskipun Mr.X selalu memberikan dukungan dan semangat, toh kesedihan itu masih ada (mungkin sampai saat ini). But, life must go on.

Saya mulai menjalin komunikasi yang intens dan ingin tahu, kenapa harus Mr.X yang jadi korban harus diakhiri pelayanannya?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dan jawaban dari Mr.X
"gpp, ini Tuhan ijinkan bla bla bla bla bla ...."
What???
Saya jadi berandai-andai, kalau saja saya yang ada diposisi Mr.X saya akan berbeda
"Itu keputusan sepihak, tidak mempedulikan kebenaran lagi dong, kalau memang Mr.X benar kenapa juga harus mendapatkan konsekuensi"
Ini adalah poin kesabaran yang saya bisa lihat dari sosok Mr.X
Bagaimana bisa? dia tetap tersenyum dan tabah sekali menghadapi apa yang terjadi dengan dia. Bahkan yang saya anggap ini tidak adil.

Kedua, saya masih bagian dari tim pelayanan. Toh dia masih mau berteman dengan saya. Rasanya tidak ada kesan dia menjauhi atau apapun lah, seperti yang dilakukan rekan sebelumnya hehe. Semua kontak dan sosmed saya di block, padahal saya masih mau berteman. Andai saya menjadi dia, saya tidak akan menjadi sebaik dia. That's I call Poin Kebaikan yang dia punya.

Terakhir poin ketekunan, yang saya benar-benar kagum. Dia masih setia dan tekun melayani Tuhan dengan jalan lain. Pelayan aktif di gereja. Mr. X sama sekali tidak terlihat kecewa dengan apa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya. Seperti yang sudah saya sampaikan diatas sebelumnya bahwa kesabaran, kebaikan dan ketekunan rasanya memang Sudah Tuhan Anugrahkan untuk Mr.X :)
Paket lengkap yang tidak semua orang punya, bahkan saya sendiri mungkin tidak punya salah satu dari ketiganya hehe ^_^

Apapun yang terjadi lah, saya banyaaak sekali belajar darinya.
Roma 8:28

Tahun Baru

Posting pertama di blog pribadi saya di tahun 2018.
Apa saja yang terjadi di awal tahun 2018? Pasti setiap kita punya lah komitmen-komitmen yang telah dibuat untuk menjalani tahun baru.
Ada salah satu rekan kerja saya yang saya rasa cukup baik komitmennya "tidak memiliki pikiran negatif kepada orang lain", bisa nih di contoh hehe

Btw, saya akan menceritakan bagaimana saya mengakhir akhir tahun dan mengawali tahun baru dengan berbagai kebahagiaan dan konflik yang terjadi.

Oke, saya mengakhiri tahun baru saya dengan sangat baik :)
Saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal keluarga baru yang sangat baik. Ada seseorang yang mengenalkan saya kedalam keluarganya. Overall keluarganya menyambut saya dengan sangat baik, keluarga yang hangat dan bersahaja.
Saat itu saya merayakan malam tahun baru dengan keluarga ini. Waw, bagi saya itu moment yang sangat berharga dalam hidup saya :) Saya akan berdoa untuk keluarga ini, Tuhan selalu memberkati dia dan keluarganya.

Awal tahun baru saya juga cukup dikejutkan dengan keberadaan saudara saya hahaha, saya tidak akan meceritakan secara detil apa yang sudah terjadi, intinya that's really annoying!

Ada pula kesedihan karena awal tahun yang saya buka dengan ketidak bijaksanaan saya dalam bersikap. Oke, sekali lagi saya diajarkan untuk terus bersikap bijaksana. Baik dalam bersikap, bertindak dan bertutur kata. Maksud hati menolong orang lain, tetapi berdampak negatif pula buat orang lain. Ya sudah lah, ini sebagai pembelajaran baik buat saya maupun orang yang bersangkutan tersebut.

Di bulan pertama ini, ada kegembiraan (salah satunya adalah kamu) iya kamu!
Ada pula kesedihan, ahhh banyak sekali jika ingin dituliskan.

Roma 8:28

Kamis, 07 Desember 2017

Kalimat yang Menyentuh Hati

Kalau ucapan berasal dari hati pasti akan sampai ke hati, itu adalah prinsip yang saya dengar dari salah satu orang yang menginspirasi saya.

Belakangan ini saya dekat dengan sebagian besar anak SMP (tidak semua). Saya menjadi tempat mereka bercerita dari masalah pacaran, suka sama siapa, kabar orang tua, masalah dengan teman sekelas sampai kadang hal yang lucu dari anak-anak.

Termasuk juga dengan seorang anak yang belakangan ini mendekat kepada saya. Akhirnya pun saya membuka hati kepada anak ini. Sampai pada satu titik anak tersebut mengajukan permintaan kepada saya
"Bu, saya nanti mau belajar sama ibu ya?"
Kalau dipikir-pikir sepulang sekolah itu saya sudah lumayan capek dan bisa mengerjakan skripsi saya yang masih terbengkalai.
Kalau saya pikir dua kali, permintaan anak ini bukan permintaan yang layak ditolak, dia hanya minta "belajar bareng", saya spend waktu 1 jam dan saya bisa menyenangkan hati 2 sampai 3 anak. Dengan belajar sambil bercanda, membangun kedekatan saya dengan beberapa anak plus memberikan materi yang memang saya harus ajarkan kepada anak-anak.

Ditengah-tengah saya memperhatikan anak ini menuliskan di kertasnya, anak ini nyeletuk
"Bu, ibu jangan pindah ke sekolah lain kalau saya belum lulus ya, pokoknya jangan pergi dulu"
saya juga tidak tahu anak ini kenapa punya berpikiran semacam itu.

Saya terdiam beberapa detik

"disini banyak guru-guru lain, tidak boleh bergantung sama manusia ya"
"lah nanti itu anaknya ibuk gimana? ibuk ganti anak?"
Seketika saya ngakak 😂😂😂
"ya mana mungkin anak bisa diganti-ganti? teteplah anaknya ibuk. dia kan bakal tetap sekolah disini, ada ataupun nggak ada bu fika"

Saya membayangkan jika yang mengatakan itu adalah rekan sekerja atau mungkin atasan saya, pasti saya tidak akan membuat tulisan ini. Tapi karena yang mengatakan adalah seorang anak, hati saya trenyuh.

Saya pikir, saya tidak boleh membuat anak bergantung kepada saya. Anakpun harus bisa beradaptasi dengan siapapun yang dia temui dikehidupan.

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Presepsi Manusia (Saya bukan Satu-satunya)

Sudah selayaknya jika manusia mempunyai presepsi masing-masing. Termasuk presepsi saya menilai seseorang dari sudut pandang saya ditambah dengan presepsi saya memandang orang lain sesuai dengan keyakinan yang saya miliki.

Sebulan yang lalu saya mendapatkan tawaran mengajar seorang anak senin sampai jumat, satu jam setengah dengan upah yang cukup tinggi. Saya menyetujui tawaran tersebut, sehingga setiap malam saya datang kerumah orang tersebut dan mulai mengajar. Ada satu titik jenuh ketika setiap hari saya mengajar anak yang sama, pelajaran yang sama dan pola yang sama.

Disisi lain, keluarga anak ini adalah orang "terpandang". Bapak dan Ibu nya Haji, setiap saya kesana kedua anak gadisnya menggunakan jilbab komplit. Awalnya saya berpikir "yakin nih?", saya sampaikan di awal kalau saya berbeda keyakinan dengan beliau dan ternyata beliau baik-baik saja. Ya Okelah kalau dari pihak mereka setuju-setuju saja.

Didepan rumah anak yang saya ajar, ada mushola khusus. Ya memang itu adalah tempat ibadah khusus buat keluarga mereka "Gila nih keluarga mangku mushola" batin saya saat itu. Tapi ah sudahlah disini saya cuma mau ngajarin matematika dan IPA saja, tidak lebih.

Titik puncak kejenuhan saya melanda dan saya memutuskan untuk nggak masuk saja ngelesinya. Alasan saya saat itu adalah sakit. 3 hari terhitung Jumat, Senin, Selasa saya tidak datang kerumah beliau. Harapan saya besok Rabu saya akan kembali mengajar karena saat ini saya sedang jenuh. Saya memberikan kabar Jumat dan Senin dan mengatakan bahwa saya sedang sakit (sakit jenuh). Selasa memang saya tidak ngelesi dan tidak memberi saya, pikir saya beliau akan menganggap bahwa saya masih sakit.

Saat saya asik dengan laptop saya ada yang mengetuk pintu rumah dan terdengar sampai kamar saya. "Whaaaaat??? Aku diparani??? Mateeeeng koeeeen"

Dibukalah pintu oleh Mama dan Papa saya.
"Mbak Fika nya ada?"
"Oh ada"
Saya sudah menduga kalau itu adalah ibuknya, bapak dan anaknya. Tuh kan bener.

Puji Tuhan malam itu saya sakit gigi, sehingga mama saya langsung bilang "Mbak Fika sakit gigi ini"
"Ohhh aku terselamatkan karena sakit gigi" dan Ibu ini memberikan amplop (secara nominal buat saya itu banyak) dan BPJS supaya saya bisa berobat dan segera ngelesi lagi.

Kalau dipikir-pikir, saya bukan guru les satu-satunya di Malang, bahkan masih banyak guru les yang lebih baik dari saya dan tidak moody seperti saya. Dan percayalah, secara financial orang ini nggak bisa diragukan meskipun mereka berbeda keyakinan dengan saya. Care nya ngalah-ngalahin orang yang satu keyakinan dengan saya.

Padahal dulu saya sempat berpikir serem juga ngelesi di keluarga yang "sangat" menjunjung tinggi keyakinannya.

Ya begitulah, kadang manusia suka menyimpulkan dahulu. Seperti saya yang sudah mempunyai presepsi serem ketika tahu bahwa ini keluarga yang berbeda keyakinan, saklek, Keluarga Haji dll. Semakin belajar bahwa presepsi kita tidak selamanya benar.

Kamis, 05 Oktober 2017

Berawal dari Sebuah Pelanggaran

Saya tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, saya tidak menjadi guru pengajarnya. Kami dipertemukan melalui ekskul yang saya ampu di sekolah tempat saya mengajar dan entah kenapa anak ini tertarik mengikuti ekskul saya. Padahal anak ini tergolong anak yang kurang bisa mengikuti ekskul saya. Ekskul saya ini adalah ekskul programming yang membutuhkan ketelitian lebih dibandingkan dengan ekskul lainnya.

Setiap saya melihat dia saya tertarik untuk mengenal anak ini lebih lagi. Dia adalah salah satu anak yang sangat sering menulis pelanggaran di sekolahnya. Setiap dia menulis pelanggaran, dia melihat ke arah saya semacam mencari perhatian saya. Iseng saya panggil anak tersebut ketika menulis pelanggaran "kamu kenapa menulis pelanggaran?" ada saja alasan yang diberikan mulai lupa kalau ada PR sampai ragu-ragu mengerjakan PR karena tidak paham materi yang di ajarkan.

Keesokan harinya dia menulis pelanggaran lagi dan saya memanggil dia lagi "sekarang melanggar apa lagi nak?" alasannya berbeda lagi, kali ini dia bilang salah melihat jadwal sehingga tidak membawa buku yang seharusnya.

Lagi, dia melanggar peraturan. Kalau saya lihat pada catatan, dia adalah anak yang paling banyak melakukan pelanggaran dan saya kembali ingatkan "nak, kenapa menulis lagi?" katanya lupa bawa buku. Kalau biasanya saya hanya menegur dia kali ini saya membuat kesepakatan dengan anak ini. "boleh kah kamu berjanji kepada Bu Fika?"
"janji apa?"
"janji kepada Bu Fika, besok tidak menulis buku tata tertib"
"iya Bu"

Keesokan harinya saya menunggu anak tersebut masuk kantor menulis buku pelanggaran dan ternyata dia tidak menulis. Wah anak ini hari ini tidak menulis buku pelanggaran, tapi ini masih jam pelajaran ke 5 dan 6. Masih ada jam pelajaran 7 dan 8. Siapa tahu nanti jam ke 7 dan 8 dia melanggar. Dia masih belum lulus janji karena jam sekolah belum berakhir.

Sampai bel pulang sekolah berbunyi ternyata anak ini menepati janjinya, minimal kepada saya. Saya berjalan pulang dan berharap masih bisa bertemu anak ini.

Ternyata dia masih bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain dan dia melihat ke arah saya. Mungkin yang ada dipikirannya saat itu "Tuh kan saya nggak melanggar hari ini". Saya panggil dia lagi ditengah-tengah dia bermain sepak bola.
"Nak, besok janji sama Bu Fika lagi tidak akan menulis buku pelanggaran"
"Iya Buk"

Saya menunggu dia lagi untuk masuk kantor dan sampai pulang sekolah dia tidak masuk kantor untuk menulis buku pelanggaran. Artinya dia menepati janjinya yang kedua.

Anak ini bisa disayangi, pikir saya kala itu. Saya melakukan janji yang ketiga, keempat sampai dia tidak melakukan pelanggaran sama sekali selama seminggu penuh. Suatu siang saya pulang sekolah dan bertemu anak ini, saya memanggil dia lagi dan akan mengatakan hal yang sama
"saya tahu Bu, Bu Fika mau bilang besok saya nggak boleh nulis tatib"
"Betuuuul. Deal ya"
"Iya Bu"

Benar, akhirnya seminggu lebih dia bertahan tidak menulis buku pelanggaran, saya berbagi kepada sesama guru di kantor. Saya rasa sudah tidak perlu lagi mengingatkan anak ini.

Dugaan saya salah, beberapa hari kemudian dia melanggar lagi. Ketika dia melanggar, dia senyum-senyum kepada saya, mungkin dia tahu kalau saya akan memanggilnya kembali.
"melanggar apa lagi hari ini?"
"nggak bawa LKS"
"kenapa nggak bawa LKS?"
"lupa Bu"
"kalau hidung nggak nempel juga bakalan lupa?"
dia hanya senyum-senyum

Menurut cerita guru-guru yang lain, anak ini tergolong anak yang perlu ditolong dalam financial. Saya bukan orang berlebih, tapi saya berkecukupan. Jika untuk menolong anak ini, saya masih bisa karena nominal yang saya keluarkan tidak sampai 100rb per bulan.

Anak ini, belum melakukan pembayaran sampai bulan yang ditentukan untuk bisa mengikuti UTS. Saya memanggil dia secara pribadi
"nak, km tau kalau belum bayar SPP?"
"iya Bu"
"kenapa?"
(dia tidak bisa menjawab apapun)
"kamu tau kalau km sudah dapat beasiswa?"
"tau Bu"
"jadi kamu nggak membayar penuh kan? kamu hanya membayar sekian loh, ini karena guru-guru menilai kamu adalah anak yang hebat"
(dia masih diam dan tidak menjawab apapun)
"Bu Fika akan menolong kamu secara pribadi, Bu Fika yang akan bayar SPP kamu bulan ini tapi kamu harus janji menjadi seorang anak yang baik dan berprestasi"
(dia kembali diam tapi kali ini dia tidak menunduk tetapi melihat ke arah saya)
"Kamu bisa menjadi anak yang baik?"
"bisa Bu"
"Target nilai kamu berapa?"
"90 di matematika"

Saya berpikir, dia bilang seperti itu mungkin karena saya adalah guru matematika meskipun saya tidak mengajar di kelasnya. Dikelasnya diampu oleh guru lain sehingga saya tidak bisa melihat langsung kemampuan dia di kelas.

"wow, apakah itu tidak terlalu tinggi?"
"nggak Bu, saya yakin bisa Bu"
"Okee, ada lagi yang ingin disampaikan?"
"Ya, saya berusaha tidak melanggar lagi biar nggak bulis buku tatib"
"Okee, deal ya. Besok bawa kartu SPP"

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya juga mempunyai saudara yang sama-sama sekolah di sekolah ini dan sama membutuhkannya seperti anak ini dengan kondisi yang sama dengan anak ini, belum melunasi SPP sampai bulan yang ditentukan. Tetapi saya lebih memilih menolong anak ini. Keyakinan saya, anak ini bisa dikasihi dan disayangi.

"Nanti setelah istirahat ke Bu Fika bawa kartu SPP" Ucapan saya kepada dia ketika istirahat pertama dan benar dia menghadap saya setelah dia makan dan istirahat.

"Mana kartu SPP nya?"
(dia memberikan kepada saya, sambil melihat ke arah saya)
"Nak, Bu Fika nggak rela kalau anak sebaik kamu tidak bisa mengikuti UTS hanya karena belum membayar SPP. Lihat, Bu Fika ambil uang dari dompet Bu Fika sendiri untuk kamu. Bu Fika mau kamu menjadi anak yang baik dan berprestasi"
Saya menuliskan namanya pada selembar kwitansi dan dia memandangi saya. Saat itu saya tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran dia.

Flashback beberapa tahun yang lalu, saya diperlakukan sama oleh salah satu Dosen saya dikampus yang memberikan uang pribadinya supaya saya bisa mengurus KRS. Saya pernah ada di posisi dia dan saya mengingat detil-detilnya hingga saat ini. Saya ingat betul saat itu saya baru memasuki Semester 2.

"Makasi ya Bu" Sambil tersenyum tulus.
"Jadi anak yang baik yaa"
"Iyaa"

Semenjak kejadian itu, dia sama sekali tidak menulis buku pelanggaran dan tersenyum ketika bertemu dengan saya. Mungkin dia memang murah senyum hehehe.

Waktu UTS tiba dan saya bahagia ketika bisa melihat anak ini bisa duduk di tempat UTS nya. Hati saya teriris ketika saya juga melihat saudara saya masih mempunyai tanggungan yang sama tetapi saya memilih menolong anak lain. This is my choice. Saya memilih mengasihi dan menyayangi anak yang bisa dikasihi dan disayangi.

Kebetulan, hari pertama adalah matematika dan saya ingat betul janji dia dengan target nilai 90. Selesai UTS saya mengambil lembar soal dan lembar jawabannya. Saya tahu saya bukan guru pengampunya, tapi minimal saya bisa menjawab soal-soal yang dia kerjakan dan bisa memperkirakan berapa nilai yang dia dapatkan. Kurang sedikit lagi dia mencapai target. Dia memperoleh nilai 88 dan saya sampaikan itu ke anaknya. Rupanya anak ini menjadi takut dengan targetnya sendiri.

"Gapapa, Bu Fika yakin kamu sebenarnya bisa hanya kamu mungkin kurang teliti"
(dia diam saja dan menunduk)
"kenapa tidak bisa sempurna nak?"
"Kurang teliti Bu, maaf ya Bu saya nggak dapat nilai 90"
Ya ampuuuun dia bukan anak saya dan saya nggak mengajar dia, tapi dia punya rasa tanggung jawab. Minimal dia minta maaf karena targetnya yang hanya kurang 2 point saja.

Otomatis saya menjadi semakin respect kepada anak ini.
Semenjak kejadian itu guru-guru menyebut anak ini sebagai "anaknya Bu Fika"