Kamis, 11 Januari 2018

Tahun Baru

Posting pertama di blog pribadi saya di tahun 2018.
Apa saja yang terjadi di awal tahun 2018? Pasti setiap kita punya lah komitmen-komitmen yang telah dibuat untuk menjalani tahun baru.
Ada salah satu rekan kerja saya yang saya rasa cukup baik komitmennya "tidak memiliki pikiran negatif kepada orang lain", bisa nih di contoh hehe

Btw, saya akan menceritakan bagaimana saya mengakhir akhir tahun dan mengawali tahun baru dengan berbagai kebahagiaan dan konflik yang terjadi.

Oke, saya mengakhiri tahun baru saya dengan sangat baik :)
Saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal keluarga baru yang sangat baik. Ada seseorang yang mengenalkan saya kedalam keluarganya. Overall keluarganya menyambut saya dengan sangat baik, keluarga yang hangat dan bersahaja.
Saat itu saya merayakan malam tahun baru dengan keluarga ini. Waw, bagi saya itu moment yang sangat berharga dalam hidup saya :) Saya akan berdoa untuk keluarga ini, Tuhan selalu memberkati dia dan keluarganya.

Awal tahun baru saya juga cukup dikejutkan dengan keberadaan saudara saya hahaha, saya tidak akan meceritakan secara detil apa yang sudah terjadi, intinya that's really annoying!

Ada pula kesedihan karena awal tahun yang saya buka dengan ketidak bijaksanaan saya dalam bersikap. Oke, sekali lagi saya diajarkan untuk terus bersikap bijaksana. Baik dalam bersikap, bertindak dan bertutur kata. Maksud hati menolong orang lain, tetapi berdampak negatif pula buat orang lain. Ya sudah lah, ini sebagai pembelajaran baik buat saya maupun orang yang bersangkutan tersebut.

Di bulan pertama ini, ada kegembiraan (salah satunya adalah kamu) iya kamu!
Ada pula kesedihan, ahhh banyak sekali jika ingin dituliskan.

Roma 8:28

Kamis, 07 Desember 2017

Kalimat yang Menyentuh Hati

Kalau ucapan berasal dari hati pasti akan sampai ke hati, itu adalah prinsip yang saya dengar dari salah satu orang yang menginspirasi saya.

Belakangan ini saya dekat dengan sebagian besar anak SMP (tidak semua). Saya menjadi tempat mereka bercerita dari masalah pacaran, suka sama siapa, kabar orang tua, masalah dengan teman sekelas sampai kadang hal yang lucu dari anak-anak.

Termasuk juga dengan seorang anak yang belakangan ini mendekat kepada saya. Akhirnya pun saya membuka hati kepada anak ini. Sampai pada satu titik anak tersebut mengajukan permintaan kepada saya
"Bu, saya nanti mau belajar sama ibu ya?"
Kalau dipikir-pikir sepulang sekolah itu saya sudah lumayan capek dan bisa mengerjakan skripsi saya yang masih terbengkalai.
Kalau saya pikir dua kali, permintaan anak ini bukan permintaan yang layak ditolak, dia hanya minta "belajar bareng", saya spend waktu 1 jam dan saya bisa menyenangkan hati 2 sampai 3 anak. Dengan belajar sambil bercanda, membangun kedekatan saya dengan beberapa anak plus memberikan materi yang memang saya harus ajarkan kepada anak-anak.

Ditengah-tengah saya memperhatikan anak ini menuliskan di kertasnya, anak ini nyeletuk
"Bu, ibu jangan pindah ke sekolah lain kalau saya belum lulus ya, pokoknya jangan pergi dulu"
saya juga tidak tahu anak ini kenapa punya berpikiran semacam itu.

Saya terdiam beberapa detik

"disini banyak guru-guru lain, tidak boleh bergantung sama manusia ya"
"lah nanti itu anaknya ibuk gimana? ibuk ganti anak?"
Seketika saya ngakak 😂😂😂
"ya mana mungkin anak bisa diganti-ganti? teteplah anaknya ibuk. dia kan bakal tetap sekolah disini, ada ataupun nggak ada bu fika"

Saya membayangkan jika yang mengatakan itu adalah rekan sekerja atau mungkin atasan saya, pasti saya tidak akan membuat tulisan ini. Tapi karena yang mengatakan adalah seorang anak, hati saya trenyuh.

Saya pikir, saya tidak boleh membuat anak bergantung kepada saya. Anakpun harus bisa beradaptasi dengan siapapun yang dia temui dikehidupan.

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Presepsi Manusia (Saya bukan Satu-satunya)

Sudah selayaknya jika manusia mempunyai presepsi masing-masing. Termasuk presepsi saya menilai seseorang dari sudut pandang saya ditambah dengan presepsi saya memandang orang lain sesuai dengan keyakinan yang saya miliki.

Sebulan yang lalu saya mendapatkan tawaran mengajar seorang anak senin sampai jumat, satu jam setengah dengan upah yang cukup tinggi. Saya menyetujui tawaran tersebut, sehingga setiap malam saya datang kerumah orang tersebut dan mulai mengajar. Ada satu titik jenuh ketika setiap hari saya mengajar anak yang sama, pelajaran yang sama dan pola yang sama.

Disisi lain, keluarga anak ini adalah orang "terpandang". Bapak dan Ibu nya Haji, setiap saya kesana kedua anak gadisnya menggunakan jilbab komplit. Awalnya saya berpikir "yakin nih?", saya sampaikan di awal kalau saya berbeda keyakinan dengan beliau dan ternyata beliau baik-baik saja. Ya Okelah kalau dari pihak mereka setuju-setuju saja.

Didepan rumah anak yang saya ajar, ada mushola khusus. Ya memang itu adalah tempat ibadah khusus buat keluarga mereka "Gila nih keluarga mangku mushola" batin saya saat itu. Tapi ah sudahlah disini saya cuma mau ngajarin matematika dan IPA saja, tidak lebih.

Titik puncak kejenuhan saya melanda dan saya memutuskan untuk nggak masuk saja ngelesinya. Alasan saya saat itu adalah sakit. 3 hari terhitung Jumat, Senin, Selasa saya tidak datang kerumah beliau. Harapan saya besok Rabu saya akan kembali mengajar karena saat ini saya sedang jenuh. Saya memberikan kabar Jumat dan Senin dan mengatakan bahwa saya sedang sakit (sakit jenuh). Selasa memang saya tidak ngelesi dan tidak memberi saya, pikir saya beliau akan menganggap bahwa saya masih sakit.

Saat saya asik dengan laptop saya ada yang mengetuk pintu rumah dan terdengar sampai kamar saya. "Whaaaaat??? Aku diparani??? Mateeeeng koeeeen"

Dibukalah pintu oleh Mama dan Papa saya.
"Mbak Fika nya ada?"
"Oh ada"
Saya sudah menduga kalau itu adalah ibuknya, bapak dan anaknya. Tuh kan bener.

Puji Tuhan malam itu saya sakit gigi, sehingga mama saya langsung bilang "Mbak Fika sakit gigi ini"
"Ohhh aku terselamatkan karena sakit gigi" dan Ibu ini memberikan amplop (secara nominal buat saya itu banyak) dan BPJS supaya saya bisa berobat dan segera ngelesi lagi.

Kalau dipikir-pikir, saya bukan guru les satu-satunya di Malang, bahkan masih banyak guru les yang lebih baik dari saya dan tidak moody seperti saya. Dan percayalah, secara financial orang ini nggak bisa diragukan meskipun mereka berbeda keyakinan dengan saya. Care nya ngalah-ngalahin orang yang satu keyakinan dengan saya.

Padahal dulu saya sempat berpikir serem juga ngelesi di keluarga yang "sangat" menjunjung tinggi keyakinannya.

Ya begitulah, kadang manusia suka menyimpulkan dahulu. Seperti saya yang sudah mempunyai presepsi serem ketika tahu bahwa ini keluarga yang berbeda keyakinan, saklek, Keluarga Haji dll. Semakin belajar bahwa presepsi kita tidak selamanya benar.

Kamis, 05 Oktober 2017

Berawal dari Sebuah Pelanggaran

Saya tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, saya tidak menjadi guru pengajarnya. Kami dipertemukan melalui ekskul yang saya ampu di sekolah tempat saya mengajar dan entah kenapa anak ini tertarik mengikuti ekskul saya. Padahal anak ini tergolong anak yang kurang bisa mengikuti ekskul saya. Ekskul saya ini adalah ekskul programming yang membutuhkan ketelitian lebih dibandingkan dengan ekskul lainnya.

Setiap saya melihat dia saya tertarik untuk mengenal anak ini lebih lagi. Dia adalah salah satu anak yang sangat sering menulis pelanggaran di sekolahnya. Setiap dia menulis pelanggaran, dia melihat ke arah saya semacam mencari perhatian saya. Iseng saya panggil anak tersebut ketika menulis pelanggaran "kamu kenapa menulis pelanggaran?" ada saja alasan yang diberikan mulai lupa kalau ada PR sampai ragu-ragu mengerjakan PR karena tidak paham materi yang di ajarkan.

Keesokan harinya dia menulis pelanggaran lagi dan saya memanggil dia lagi "sekarang melanggar apa lagi nak?" alasannya berbeda lagi, kali ini dia bilang salah melihat jadwal sehingga tidak membawa buku yang seharusnya.

Lagi, dia melanggar peraturan. Kalau saya lihat pada catatan, dia adalah anak yang paling banyak melakukan pelanggaran dan saya kembali ingatkan "nak, kenapa menulis lagi?" katanya lupa bawa buku. Kalau biasanya saya hanya menegur dia kali ini saya membuat kesepakatan dengan anak ini. "boleh kah kamu berjanji kepada Bu Fika?"
"janji apa?"
"janji kepada Bu Fika, besok tidak menulis buku tata tertib"
"iya Bu"

Keesokan harinya saya menunggu anak tersebut masuk kantor menulis buku pelanggaran dan ternyata dia tidak menulis. Wah anak ini hari ini tidak menulis buku pelanggaran, tapi ini masih jam pelajaran ke 5 dan 6. Masih ada jam pelajaran 7 dan 8. Siapa tahu nanti jam ke 7 dan 8 dia melanggar. Dia masih belum lulus janji karena jam sekolah belum berakhir.

Sampai bel pulang sekolah berbunyi ternyata anak ini menepati janjinya, minimal kepada saya. Saya berjalan pulang dan berharap masih bisa bertemu anak ini.

Ternyata dia masih bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain dan dia melihat ke arah saya. Mungkin yang ada dipikirannya saat itu "Tuh kan saya nggak melanggar hari ini". Saya panggil dia lagi ditengah-tengah dia bermain sepak bola.
"Nak, besok janji sama Bu Fika lagi tidak akan menulis buku pelanggaran"
"Iya Buk"

Saya menunggu dia lagi untuk masuk kantor dan sampai pulang sekolah dia tidak masuk kantor untuk menulis buku pelanggaran. Artinya dia menepati janjinya yang kedua.

Anak ini bisa disayangi, pikir saya kala itu. Saya melakukan janji yang ketiga, keempat sampai dia tidak melakukan pelanggaran sama sekali selama seminggu penuh. Suatu siang saya pulang sekolah dan bertemu anak ini, saya memanggil dia lagi dan akan mengatakan hal yang sama
"saya tahu Bu, Bu Fika mau bilang besok saya nggak boleh nulis tatib"
"Betuuuul. Deal ya"
"Iya Bu"

Benar, akhirnya seminggu lebih dia bertahan tidak menulis buku pelanggaran, saya berbagi kepada sesama guru di kantor. Saya rasa sudah tidak perlu lagi mengingatkan anak ini.

Dugaan saya salah, beberapa hari kemudian dia melanggar lagi. Ketika dia melanggar, dia senyum-senyum kepada saya, mungkin dia tahu kalau saya akan memanggilnya kembali.
"melanggar apa lagi hari ini?"
"nggak bawa LKS"
"kenapa nggak bawa LKS?"
"lupa Bu"
"kalau hidung nggak nempel juga bakalan lupa?"
dia hanya senyum-senyum

Menurut cerita guru-guru yang lain, anak ini tergolong anak yang perlu ditolong dalam financial. Saya bukan orang berlebih, tapi saya berkecukupan. Jika untuk menolong anak ini, saya masih bisa karena nominal yang saya keluarkan tidak sampai 100rb per bulan.

Anak ini, belum melakukan pembayaran sampai bulan yang ditentukan untuk bisa mengikuti UTS. Saya memanggil dia secara pribadi
"nak, km tau kalau belum bayar SPP?"
"iya Bu"
"kenapa?"
(dia tidak bisa menjawab apapun)
"kamu tau kalau km sudah dapat beasiswa?"
"tau Bu"
"jadi kamu nggak membayar penuh kan? kamu hanya membayar sekian loh, ini karena guru-guru menilai kamu adalah anak yang hebat"
(dia masih diam dan tidak menjawab apapun)
"Bu Fika akan menolong kamu secara pribadi, Bu Fika yang akan bayar SPP kamu bulan ini tapi kamu harus janji menjadi seorang anak yang baik dan berprestasi"
(dia kembali diam tapi kali ini dia tidak menunduk tetapi melihat ke arah saya)
"Kamu bisa menjadi anak yang baik?"
"bisa Bu"
"Target nilai kamu berapa?"
"90 di matematika"

Saya berpikir, dia bilang seperti itu mungkin karena saya adalah guru matematika meskipun saya tidak mengajar di kelasnya. Dikelasnya diampu oleh guru lain sehingga saya tidak bisa melihat langsung kemampuan dia di kelas.

"wow, apakah itu tidak terlalu tinggi?"
"nggak Bu, saya yakin bisa Bu"
"Okee, ada lagi yang ingin disampaikan?"
"Ya, saya berusaha tidak melanggar lagi biar nggak bulis buku tatib"
"Okee, deal ya. Besok bawa kartu SPP"

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya juga mempunyai saudara yang sama-sama sekolah di sekolah ini dan sama membutuhkannya seperti anak ini dengan kondisi yang sama dengan anak ini, belum melunasi SPP sampai bulan yang ditentukan. Tetapi saya lebih memilih menolong anak ini. Keyakinan saya, anak ini bisa dikasihi dan disayangi.

"Nanti setelah istirahat ke Bu Fika bawa kartu SPP" Ucapan saya kepada dia ketika istirahat pertama dan benar dia menghadap saya setelah dia makan dan istirahat.

"Mana kartu SPP nya?"
(dia memberikan kepada saya, sambil melihat ke arah saya)
"Nak, Bu Fika nggak rela kalau anak sebaik kamu tidak bisa mengikuti UTS hanya karena belum membayar SPP. Lihat, Bu Fika ambil uang dari dompet Bu Fika sendiri untuk kamu. Bu Fika mau kamu menjadi anak yang baik dan berprestasi"
Saya menuliskan namanya pada selembar kwitansi dan dia memandangi saya. Saat itu saya tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran dia.

Flashback beberapa tahun yang lalu, saya diperlakukan sama oleh salah satu Dosen saya dikampus yang memberikan uang pribadinya supaya saya bisa mengurus KRS. Saya pernah ada di posisi dia dan saya mengingat detil-detilnya hingga saat ini. Saya ingat betul saat itu saya baru memasuki Semester 2.

"Makasi ya Bu" Sambil tersenyum tulus.
"Jadi anak yang baik yaa"
"Iyaa"

Semenjak kejadian itu, dia sama sekali tidak menulis buku pelanggaran dan tersenyum ketika bertemu dengan saya. Mungkin dia memang murah senyum hehehe.

Waktu UTS tiba dan saya bahagia ketika bisa melihat anak ini bisa duduk di tempat UTS nya. Hati saya teriris ketika saya juga melihat saudara saya masih mempunyai tanggungan yang sama tetapi saya memilih menolong anak lain. This is my choice. Saya memilih mengasihi dan menyayangi anak yang bisa dikasihi dan disayangi.

Kebetulan, hari pertama adalah matematika dan saya ingat betul janji dia dengan target nilai 90. Selesai UTS saya mengambil lembar soal dan lembar jawabannya. Saya tahu saya bukan guru pengampunya, tapi minimal saya bisa menjawab soal-soal yang dia kerjakan dan bisa memperkirakan berapa nilai yang dia dapatkan. Kurang sedikit lagi dia mencapai target. Dia memperoleh nilai 88 dan saya sampaikan itu ke anaknya. Rupanya anak ini menjadi takut dengan targetnya sendiri.

"Gapapa, Bu Fika yakin kamu sebenarnya bisa hanya kamu mungkin kurang teliti"
(dia diam saja dan menunduk)
"kenapa tidak bisa sempurna nak?"
"Kurang teliti Bu, maaf ya Bu saya nggak dapat nilai 90"
Ya ampuuuun dia bukan anak saya dan saya nggak mengajar dia, tapi dia punya rasa tanggung jawab. Minimal dia minta maaf karena targetnya yang hanya kurang 2 point saja.

Otomatis saya menjadi semakin respect kepada anak ini.
Semenjak kejadian itu guru-guru menyebut anak ini sebagai "anaknya Bu Fika"

Sabtu, 16 September 2017

Tantangan Baru

tidak banyak sih yang menyukai sebuah tantang, apalagi sudah tau bahwa tantangan tersebut tidaklah mudah. begitu pula dengan saya. sebenarnya saya suka dengan kehidupan yang ada di Zona nyaman. seperti sekarang, saya hidup bersama dengan keluarga yang baik, financial yang baik dan banyak hal yang selayaknya saya syukuri untuk hari ini.

namun, belakangan ini banyak yang membuat kehidupan saya semakin tertantang, bahkan ketika saya menulis tulisan ini. tantangan muncul.

Yas, saya harus menahan ngantuk. 11:45 AM
jam yang ada di laptop saya, oke sepertinya memang saya harus menyerah dan segera tidur siang. Happy Sunday all :)

Jumat, 15 September 2017

Memilih Kehidupan

Sebelumnya saya pernah menulis tentang sebuah pertanyaan. Jika saya harus menukar hidup saya, saya akan menukarnya dengan apa? Berbeda dengan konsep tulisan sebelumnya, yang mana saya sudah merasa sangat yakin dengan apa yang saya pilih saat itu.

Bertemu dengan berbagai realita kehidupan. Tuntutan keluarga, latar belakang pendidikan, kebutuhan diri untuk berkembang pun membentuk sebuah pilihan-pilihan yang akan kita tetapkan. Kalau saat itu, saya yakin akan menukar hidup saya dengan mengajar karena itu adalah sebuah passion, ada hal lain yang akhirnya memaksa untuk melepaskan passion.

Lama atau sebentar, keputusan untuk meninggalkan zona nyaman pasti tercapai. Step by step.

Ya, hidup adalah pilihan.

Maybe, next time I will share my life choice.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah - Roma 8:28



Minggu, 20 Agustus 2017

Tidak Suka Menjadi Guru

Baca Sampai Selesai, Jangan Hanya Judulnya :)

Hampir satu tahun saya bergabung dengan salah satu sekolah swasta di Malang dan mengajar mata pelajaran matematika serta mengisi ekskul programming.
Ngomong-ngomong tentang judul, tidak suka menjadi guru. Ya, memang ada beberapa hal yang saya tidak suka menjadi seorang pengajar.

Pada dasarnya, saya orang yang suka mengajar, bertemu dengan anak-anak yang menyambut saya "Bu Fikaaaa... bla bla bla" Sederhana tetapi itu sangat menyenangkan. Saya bisa mendapatkan spirit ketika bercanda bersama dengan mereka.

Tetapi semakin kesini saya menyadari apa yang saya lakukan. Saya membuat materi, saya memberikan ulangan, saya mengoreksi ulangan dan melayani anak-anak yang kadang curhat. Kalau bahagia dengan melakukan itu semua tentu saja saya bahagia.

Beberapa minggu lalu saya mendengar sharing dari pembicara tamu yang datang ke sekolah saya bahwa profesi seorang guru itu profesi Annomali. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus begini harus begitu. Setiap ketemu dengan murid kalau bisa selalu memberikan teladan dan lain sebagainya. Ya saya setuju dengan pendapat tersebut.

Belakangan ini saya banyak berkecimpung di bidang sosial muda-mudi. Termasuk saya menduduki posisi sosial yang cukup kuat. Yang namanya muda-mudi itu sudah selayaknya pulang malam dan bertemu dengan muda-mudi lain. Kalau semua muda-mudi berkarakter seperti saya wah ya tentu saja bakal garing. Serius dan banyak mikir. Mau tidak mau saya harus gabung dengan mereka yang "kadang" bercandanya berlebihan dan memang tidak baik kalau diterapkan di sebuah pekerjaan yang berkecimpung di bidang edukasi.

Ditambah lagi, saya perempuan. Hal yang saya bingung "kenapa perempuan yang pulang malam cenderung mendapat judge dia perempuan tidak baik". Padahal saya pulang malam dengan alasan yang jelas. Ya itu aturan sosial yang memang tidak tertulis :)
Toh orang tua saya tidak keberatan dengan hal tersebut, tapiiiii ketika saya papasan dengan murid saya yang kebetulan bertetangga dengan saya jadilah pembicaraan pagi di sekolah
"Bu Fika kemarin pulang malam sama mas __________, cieeeeeeee"
Nah loh, salah kan? Harusnya guru nggak boleh ngasih contoh pulang malam, harusnya ngasih contoh jam belajar, tidur sebelum jam 10.
Oke tunggu, kalau pagi sampai siang saya sudah disekolah kemudian sore saya harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain, malamnya saya harus memberi contoh belajar dan nggak pulang malam, kapan dong saya menghidupi kehidupan sosial saya?

Padahal bersosialisasi dengan orang lain juga bentuk keseimbangan hidup. Banyak anak pandai belajar, pandai mengerjakan soal-soal matematika tapi buat berbicara dengan orang lain megap-megap. Loh kalau di sekolah kan sudah bersosialisasi?
Kehidupan bukan hanya disekolah saja, Indonesia itu luas. Banyak hal yang harus kita kenal. Kalau merasa sudah cukup bersosialisasi di sekolah, kalau sudah lulus sekolah gimana? Nggak kenal apapun dong.

Belakangan ini pun saya sedang suka dan tertarik dengan salah satu topik penelitian di bidang IT. Kalau saya mahasiswa dulu, saya di jejali dengan jurnal-jurnal penelitian. Tapi sekarang, untuk memahami satu jurnal saja membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kenapa? Karena waktu saya habis untuk memberikan ilmu dan mengajar. Sedangkan input yang saya terima untuk diri saya sendiri sangat kurang.

Ealah, yang penting kan sudah lulus kuliah, tinggal ujian skripsi dan wisuda. Pertanyaannya, apakah perkembangan dunia akan berhenti ketika saya sudah lulus kuliah?
Ketika saya lulus kuliah, teknologi dan jaman akan tetap berkembang. Tidak peduli saya lulus kuliah tahun berapa. That's why, ketika saya bergabung dengan sekolah ini saya merasa "andai saja saya punya waktu khusus untuk mengembangkan diri saya"

Sebenarnya itu adalah kesedihan sendiri yang saya rasakan. Tidak cukup hanya memberikan pengajaran, tetapi seorang pendidik harus tetap mendapatkan input untuk mengembangkan diri sendiri. Minimal update dengan perkembangan teknologi jaman sekarang.

Sebegitu saja sih :)

Solusinya, ya jangan buang-buang waktu untuk hal yang nggak penting saja :)