Kamis, 05 Oktober 2017

Berawal dari Sebuah Pelanggaran

Saya tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, saya tidak menjadi guru pengajarnya. Kami dipertemukan melalui ekskul yang saya ampu di sekolah tempat saya mengajar dan entah kenapa anak ini tertarik mengikuti ekskul saya. Padahal anak ini tergolong anak yang kurang bisa mengikuti ekskul saya. Ekskul saya ini adalah ekskul programming yang membutuhkan ketelitian lebih dibandingkan dengan ekskul lainnya.

Setiap saya melihat dia saya tertarik untuk mengenal anak ini lebih lagi. Dia adalah salah satu anak yang sangat sering menulis pelanggaran di sekolahnya. Setiap dia menulis pelanggaran, dia melihat ke arah saya semacam mencari perhatian saya. Iseng saya panggil anak tersebut ketika menulis pelanggaran "kamu kenapa menulis pelanggaran?" ada saja alasan yang diberikan mulai lupa kalau ada PR sampai ragu-ragu mengerjakan PR karena tidak paham materi yang di ajarkan.

Keesokan harinya dia menulis pelanggaran lagi dan saya memanggil dia lagi "sekarang melanggar apa lagi nak?" alasannya berbeda lagi, kali ini dia bilang salah melihat jadwal sehingga tidak membawa buku yang seharusnya.

Lagi, dia melanggar peraturan. Kalau saya lihat pada catatan, dia adalah anak yang paling banyak melakukan pelanggaran dan saya kembali ingatkan "nak, kenapa menulis lagi?" katanya lupa bawa buku. Kalau biasanya saya hanya menegur dia kali ini saya membuat kesepakatan dengan anak ini. "boleh kah kamu berjanji kepada Bu Fika?"
"janji apa?"
"janji kepada Bu Fika, besok tidak menulis buku tata tertib"
"iya Bu"

Keesokan harinya saya menunggu anak tersebut masuk kantor menulis buku pelanggaran dan ternyata dia tidak menulis. Wah anak ini hari ini tidak menulis buku pelanggaran, tapi ini masih jam pelajaran ke 5 dan 6. Masih ada jam pelajaran 7 dan 8. Siapa tahu nanti jam ke 7 dan 8 dia melanggar. Dia masih belum lulus janji karena jam sekolah belum berakhir.

Sampai bel pulang sekolah berbunyi ternyata anak ini menepati janjinya, minimal kepada saya. Saya berjalan pulang dan berharap masih bisa bertemu anak ini.

Ternyata dia masih bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain dan dia melihat ke arah saya. Mungkin yang ada dipikirannya saat itu "Tuh kan saya nggak melanggar hari ini". Saya panggil dia lagi ditengah-tengah dia bermain sepak bola.
"Nak, besok janji sama Bu Fika lagi tidak akan menulis buku pelanggaran"
"Iya Buk"

Saya menunggu dia lagi untuk masuk kantor dan sampai pulang sekolah dia tidak masuk kantor untuk menulis buku pelanggaran. Artinya dia menepati janjinya yang kedua.

Anak ini bisa disayangi, pikir saya kala itu. Saya melakukan janji yang ketiga, keempat sampai dia tidak melakukan pelanggaran sama sekali selama seminggu penuh. Suatu siang saya pulang sekolah dan bertemu anak ini, saya memanggil dia lagi dan akan mengatakan hal yang sama
"saya tahu Bu, Bu Fika mau bilang besok saya nggak boleh nulis tatib"
"Betuuuul. Deal ya"
"Iya Bu"

Benar, akhirnya seminggu lebih dia bertahan tidak menulis buku pelanggaran, saya berbagi kepada sesama guru di kantor. Saya rasa sudah tidak perlu lagi mengingatkan anak ini.

Dugaan saya salah, beberapa hari kemudian dia melanggar lagi. Ketika dia melanggar, dia senyum-senyum kepada saya, mungkin dia tahu kalau saya akan memanggilnya kembali.
"melanggar apa lagi hari ini?"
"nggak bawa LKS"
"kenapa nggak bawa LKS?"
"lupa Bu"
"kalau hidung nggak nempel juga bakalan lupa?"
dia hanya senyum-senyum

Menurut cerita guru-guru yang lain, anak ini tergolong anak yang perlu ditolong dalam financial. Saya bukan orang berlebih, tapi saya berkecukupan. Jika untuk menolong anak ini, saya masih bisa karena nominal yang saya keluarkan tidak sampai 100rb per bulan.

Anak ini, belum melakukan pembayaran sampai bulan yang ditentukan untuk bisa mengikuti UTS. Saya memanggil dia secara pribadi
"nak, km tau kalau belum bayar SPP?"
"iya Bu"
"kenapa?"
(dia tidak bisa menjawab apapun)
"kamu tau kalau km sudah dapat beasiswa?"
"tau Bu"
"jadi kamu nggak membayar penuh kan? kamu hanya membayar sekian loh, ini karena guru-guru menilai kamu adalah anak yang hebat"
(dia masih diam dan tidak menjawab apapun)
"Bu Fika akan menolong kamu secara pribadi, Bu Fika yang akan bayar SPP kamu bulan ini tapi kamu harus janji menjadi seorang anak yang baik dan berprestasi"
(dia kembali diam tapi kali ini dia tidak menunduk tetapi melihat ke arah saya)
"Kamu bisa menjadi anak yang baik?"
"bisa Bu"
"Target nilai kamu berapa?"
"90 di matematika"

Saya berpikir, dia bilang seperti itu mungkin karena saya adalah guru matematika meskipun saya tidak mengajar di kelasnya. Dikelasnya diampu oleh guru lain sehingga saya tidak bisa melihat langsung kemampuan dia di kelas.

"wow, apakah itu tidak terlalu tinggi?"
"nggak Bu, saya yakin bisa Bu"
"Okee, ada lagi yang ingin disampaikan?"
"Ya, saya berusaha tidak melanggar lagi biar nggak bulis buku tatib"
"Okee, deal ya. Besok bawa kartu SPP"

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya juga mempunyai saudara yang sama-sama sekolah di sekolah ini dan sama membutuhkannya seperti anak ini dengan kondisi yang sama dengan anak ini, belum melunasi SPP sampai bulan yang ditentukan. Tetapi saya lebih memilih menolong anak ini. Keyakinan saya, anak ini bisa dikasihi dan disayangi.

"Nanti setelah istirahat ke Bu Fika bawa kartu SPP" Ucapan saya kepada dia ketika istirahat pertama dan benar dia menghadap saya setelah dia makan dan istirahat.

"Mana kartu SPP nya?"
(dia memberikan kepada saya, sambil melihat ke arah saya)
"Nak, Bu Fika nggak rela kalau anak sebaik kamu tidak bisa mengikuti UTS hanya karena belum membayar SPP. Lihat, Bu Fika ambil uang dari dompet Bu Fika sendiri untuk kamu. Bu Fika mau kamu menjadi anak yang baik dan berprestasi"
Saya menuliskan namanya pada selembar kwitansi dan dia memandangi saya. Saat itu saya tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran dia.

Flashback beberapa tahun yang lalu, saya diperlakukan sama oleh salah satu Dosen saya dikampus yang memberikan uang pribadinya supaya saya bisa mengurus KRS. Saya pernah ada di posisi dia dan saya mengingat detil-detilnya hingga saat ini. Saya ingat betul saat itu saya baru memasuki Semester 2.

"Makasi ya Bu" Sambil tersenyum tulus.
"Jadi anak yang baik yaa"
"Iyaa"

Semenjak kejadian itu, dia sama sekali tidak menulis buku pelanggaran dan tersenyum ketika bertemu dengan saya. Mungkin dia memang murah senyum hehehe.

Waktu UTS tiba dan saya bahagia ketika bisa melihat anak ini bisa duduk di tempat UTS nya. Hati saya teriris ketika saya juga melihat saudara saya masih mempunyai tanggungan yang sama tetapi saya memilih menolong anak lain. This is my choice. Saya memilih mengasihi dan menyayangi anak yang bisa dikasihi dan disayangi.

Kebetulan, hari pertama adalah matematika dan saya ingat betul janji dia dengan target nilai 90. Selesai UTS saya mengambil lembar soal dan lembar jawabannya. Saya tahu saya bukan guru pengampunya, tapi minimal saya bisa menjawab soal-soal yang dia kerjakan dan bisa memperkirakan berapa nilai yang dia dapatkan. Kurang sedikit lagi dia mencapai target. Dia memperoleh nilai 88 dan saya sampaikan itu ke anaknya. Rupanya anak ini menjadi takut dengan targetnya sendiri.

"Gapapa, Bu Fika yakin kamu sebenarnya bisa hanya kamu mungkin kurang teliti"
(dia diam saja dan menunduk)
"kenapa tidak bisa sempurna nak?"
"Kurang teliti Bu, maaf ya Bu saya nggak dapat nilai 90"
Ya ampuuuun dia bukan anak saya dan saya nggak mengajar dia, tapi dia punya rasa tanggung jawab. Minimal dia minta maaf karena targetnya yang hanya kurang 2 point saja.

Otomatis saya menjadi semakin respect kepada anak ini.
Semenjak kejadian itu guru-guru menyebut anak ini sebagai "anaknya Bu Fika"

Sabtu, 16 September 2017

Tantangan Baru

tidak banyak sih yang menyukai sebuah tantang, apalagi sudah tau bahwa tantangan tersebut tidaklah mudah. begitu pula dengan saya. sebenarnya saya suka dengan kehidupan yang ada di Zona nyaman. seperti sekarang, saya hidup bersama dengan keluarga yang baik, financial yang baik dan banyak hal yang selayaknya saya syukuri untuk hari ini.

namun, belakangan ini banyak yang membuat kehidupan saya semakin tertantang, bahkan ketika saya menulis tulisan ini. tantangan muncul.

Yas, saya harus menahan ngantuk. 11:45 AM
jam yang ada di laptop saya, oke sepertinya memang saya harus menyerah dan segera tidur siang. Happy Sunday all :)

Jumat, 15 September 2017

Memilih Kehidupan

Sebelumnya saya pernah menulis tentang sebuah pertanyaan. Jika saya harus menukar hidup saya, saya akan menukarnya dengan apa? Berbeda dengan konsep tulisan sebelumnya, yang mana saya sudah merasa sangat yakin dengan apa yang saya pilih saat itu.

Bertemu dengan berbagai realita kehidupan. Tuntutan keluarga, latar belakang pendidikan, kebutuhan diri untuk berkembang pun membentuk sebuah pilihan-pilihan yang akan kita tetapkan. Kalau saat itu, saya yakin akan menukar hidup saya dengan mengajar karena itu adalah sebuah passion, ada hal lain yang akhirnya memaksa untuk melepaskan passion.

Lama atau sebentar, keputusan untuk meninggalkan zona nyaman pasti tercapai. Step by step.

Ya, hidup adalah pilihan.

Maybe, next time I will share my life choice.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah - Roma 8:28



Minggu, 20 Agustus 2017

Tidak Suka Menjadi Guru

Baca Sampai Selesai, Jangan Hanya Judulnya :)

Hampir satu tahun saya bergabung dengan salah satu sekolah swasta di Malang dan mengajar mata pelajaran matematika serta mengisi ekskul programming.
Ngomong-ngomong tentang judul, tidak suka menjadi guru. Ya, memang ada beberapa hal yang saya tidak suka menjadi seorang pengajar.

Pada dasarnya, saya orang yang suka mengajar, bertemu dengan anak-anak yang menyambut saya "Bu Fikaaaa... bla bla bla" Sederhana tetapi itu sangat menyenangkan. Saya bisa mendapatkan spirit ketika bercanda bersama dengan mereka.

Tetapi semakin kesini saya menyadari apa yang saya lakukan. Saya membuat materi, saya memberikan ulangan, saya mengoreksi ulangan dan melayani anak-anak yang kadang curhat. Kalau bahagia dengan melakukan itu semua tentu saja saya bahagia.

Beberapa minggu lalu saya mendengar sharing dari pembicara tamu yang datang ke sekolah saya bahwa profesi seorang guru itu profesi Annomali. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus begini harus begitu. Setiap ketemu dengan murid kalau bisa selalu memberikan teladan dan lain sebagainya. Ya saya setuju dengan pendapat tersebut.

Belakangan ini saya banyak berkecimpung di bidang sosial muda-mudi. Termasuk saya menduduki posisi sosial yang cukup kuat. Yang namanya muda-mudi itu sudah selayaknya pulang malam dan bertemu dengan muda-mudi lain. Kalau semua muda-mudi berkarakter seperti saya wah ya tentu saja bakal garing. Serius dan banyak mikir. Mau tidak mau saya harus gabung dengan mereka yang "kadang" bercandanya berlebihan dan memang tidak baik kalau diterapkan di sebuah pekerjaan yang berkecimpung di bidang edukasi.

Ditambah lagi, saya perempuan. Hal yang saya bingung "kenapa perempuan yang pulang malam cenderung mendapat judge dia perempuan tidak baik". Padahal saya pulang malam dengan alasan yang jelas. Ya itu aturan sosial yang memang tidak tertulis :)
Toh orang tua saya tidak keberatan dengan hal tersebut, tapiiiii ketika saya papasan dengan murid saya yang kebetulan bertetangga dengan saya jadilah pembicaraan pagi di sekolah
"Bu Fika kemarin pulang malam sama mas __________, cieeeeeeee"
Nah loh, salah kan? Harusnya guru nggak boleh ngasih contoh pulang malam, harusnya ngasih contoh jam belajar, tidur sebelum jam 10.
Oke tunggu, kalau pagi sampai siang saya sudah disekolah kemudian sore saya harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain, malamnya saya harus memberi contoh belajar dan nggak pulang malam, kapan dong saya menghidupi kehidupan sosial saya?

Padahal bersosialisasi dengan orang lain juga bentuk keseimbangan hidup. Banyak anak pandai belajar, pandai mengerjakan soal-soal matematika tapi buat berbicara dengan orang lain megap-megap. Loh kalau di sekolah kan sudah bersosialisasi?
Kehidupan bukan hanya disekolah saja, Indonesia itu luas. Banyak hal yang harus kita kenal. Kalau merasa sudah cukup bersosialisasi di sekolah, kalau sudah lulus sekolah gimana? Nggak kenal apapun dong.

Belakangan ini pun saya sedang suka dan tertarik dengan salah satu topik penelitian di bidang IT. Kalau saya mahasiswa dulu, saya di jejali dengan jurnal-jurnal penelitian. Tapi sekarang, untuk memahami satu jurnal saja membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kenapa? Karena waktu saya habis untuk memberikan ilmu dan mengajar. Sedangkan input yang saya terima untuk diri saya sendiri sangat kurang.

Ealah, yang penting kan sudah lulus kuliah, tinggal ujian skripsi dan wisuda. Pertanyaannya, apakah perkembangan dunia akan berhenti ketika saya sudah lulus kuliah?
Ketika saya lulus kuliah, teknologi dan jaman akan tetap berkembang. Tidak peduli saya lulus kuliah tahun berapa. That's why, ketika saya bergabung dengan sekolah ini saya merasa "andai saja saya punya waktu khusus untuk mengembangkan diri saya"

Sebenarnya itu adalah kesedihan sendiri yang saya rasakan. Tidak cukup hanya memberikan pengajaran, tetapi seorang pendidik harus tetap mendapatkan input untuk mengembangkan diri sendiri. Minimal update dengan perkembangan teknologi jaman sekarang.

Sebegitu saja sih :)

Solusinya, ya jangan buang-buang waktu untuk hal yang nggak penting saja :)

Minggu, 23 Juli 2017

Grow Me Pertama

Senin, 24 Juli 2017 adalah hari pertama saya mendampingi kelompok Grow Me. Grow Me itu adalah salah satu kegiatan di Sekolah Kristen Pamerdi, yang isinya adalah saling berbagi tentang buku yang sudah dibaca.

Karena berbarengan dengan anak TK yang sedang memperingati Hari Anak Nasional, jadi suasana pagi itu cukup ramai. Anak-anak tentu saja tidak bisa fokus. Saya pun sebagai fasilitator pagi itu tidak memaksa mereka untuk fokus membaca, ya saya pun kesulitan fokus pagi itu.

Kemudian ada satu anak yang mencoba mendekat ke saya, saat itu posisi saya berdiri dan dia tiba-tiba berdiri. Sebelumnya saya tidak pernah melakukan ini ke anak lain. Secara saya tipe orang yang cenderung diam dan cuek, bahkan saya memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan orang lain.

Pagi itu berbeda, saya bertanya kepada nya
"namanya siapa? maaf Bu Fika belum hafal"
dia menjawab dengan lirih. Saya menanyakan hal yang umum ditanyakan kepada murid baru tentang bagaimana sekarang sekolah disini? teman-temannya baik? Tinggal di asrama ya, bagaimana kakak-kakak di asrama.

Dia menceritakan begitu banyak pengalaman hidupnya. dia berasal dari Sidoarjo, dia tinggal bersama dua kakak laki-lakinya dan satu adek perempuannya serta Mama nya. Saya bertanya kabar mama nya. Harapan saya jawaban yang saya peroleh adalah "Mama saya baik-baik saja", tetapi jawabannya berbeda, dia bercerita tentang kakak pertamanya yang berani melawan Mama nya.

"Bu, mama saya biasanya di jambak kakak saya, kadang juga di dorong" dengan bahasanya yang lugu.
"Loh, kamu melihatnya?"
"Iya Bu, di depan saya"
"Hmm, tapi kamu sebenernya sayang nggak sama kakak?"
"Ya sayang, tapi saya kasian sama mama. Kakak saya yang kedua biasanya juga bertengkar dengan kakak saya yang pertama karena membela mama"
"Hmm begitu"

Karena ini pengalaman saya yang pertama kali, saya bingung. Terus apa yang harus saya lakukan dengan mendengar cerita tadi?
Akhirnya saya gali lagi supaya dia mau bercerita.
"Setiap hari berdoa buat kakak?"
"Kadang-kadang Bu"
"Apapun yang terjadi dengan kakak, harus tetap ingat kalau itu adalah kakak nya, harus tetap menghormati dan menghargai. Tidak boleh membenci, minta sama Tuhan supaya hati kakak dilembutkan"
"Bu, saya bawa foto nya. Ibu mau lihat?" Saya kaget dan antara bingung campur terharu.
"Boleh, ayok kita lihat bareng-bareng" Saya melihat foto kakak pertamanya yang dia ceritakan sering memukul ibunya.

Karena saya bingung, saya nggak sempat menanyakan apa penyebab kakaknya memukul ibunya. Saya mengalihkan pembicaraan tentang adiknya.

"Kalau adeknya sudah sekolah?" tanya saya
"Sudah, kelas 5 SD, tapi di Sidoarjo. Buat saya adek saya sangat special" Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"special kenapa?" saya ingin dia merasa kalau saya adalah orang yang pas untuk dia berbagi cerita.

Ketika dia masih SD dulu, dia kehilangan uang sebesar 20 ribu rupiah. Uang itu seharusnya dia gunakan untuk mencicil buku LKS, karena uangnya hilang dia tidak bisa membayarnya. Dia bercerita kepada adeknya yang lebih kecil dari anak kelas 5 SD. Saya membayangkan seorang anak kecil yang biasanya uangnya dipakai habis untuk jajan tapi mau memecah tabungannya untuk kakaknya yang baru saja kehilangan uang. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan anak tersebut, betapa dia menyayangi adeknya.

"Kamu kenapa nangis?" tanya saya karena pipinya sudah penuh air mata
"saya merindukan adek saya, kalau di asrama saya tidak bisa bersama adek saya"
Saya meilirik jam tangan saya 08.15 sudah seharusnya bel pergantian pelajaran. Saya tidak bisa melanjutkan lagi, saya sudah bingung campur terharu campur perasaan "ini sudah harus bel"

Saya menutup percakapan kami pagi itu dengan berdoa bersamanya. Untuk yang pertama kalinya dia memeluk saya dan berkata "Bu Fika terimakasih ya". Saya tersenyum dan menjawab "Semangat ya, kamu pasti bisa jadi Dokter, belajar yang rajin dan jangan lupa berdoa"

Mungkin karena ini pertama kalinya ada anak yang sangat percaya kepada saya, saya merasa pengalaman ini adalah pengalaman yang indah :)


Kamis, 06 Juli 2017

Menukar Hidup

Saya yakin, setiap orang dilahirkan ke dunia ini pasti mempunyai sebuah tujuan. Entah sadar dengan tujuan yang Tuhan berikan atau mungkin membiarkan saja tujuan yang sudah Tuhan tetapkan dalam kehidupan kita.

Tulisan ini tidak sepenuhnya ide dari saya, baru saja saya melihat sebuah video di youtube yang judulnya untuk apa anda hidup?
Sebenarnya sudah lama saya diberikan rekomendasi oleh pembuat video itu, yang kebetulan kenalan saya. Terakhir saya bertemu dengan dia saya diberikan satu pertanyaan dan baru sekarang saya bisa menjawabnya. Pertanyaan yang sangat sederhana, jika anda boleh menukar usia, waktu dan hidup mu maka kamu mau menukar itu dengan apa? Jujur, saya tau apa tujuannya bertanya seperti itu sayangnya saya tidak bisa dengan gamblang menjawabnya.

Kemudian pertanyaan yang diberikan kepada saya "passion mu itu apa?". kalau pertanyaan ini saya tidak ragu-ragu untuk menjawabnya.
"passion saya mengajar"

Ngomong-ngomong tentang passion, apakah yang membaca blog saya sudah tau apa yang dimaksud dengan passion?
saya dan beberapa kenalan saya saat berbincang sepakat bahwa passion adalah hal yang paling kamu sukai untuk melakukannya meskipun itu tidak dibayar sekalipun. meskipun harus ada pengorbanan yang diberikan, yang namanya passion tetap akan menjadi passion.

Saya tidak suka bercerita tentang orang lain, saya lebih cenderung berbagi tentang kehidupan saya pribadi. Salah satu passion saya adalah mengajar, meskipun tidak dibayar sekalipun saya suka dan saya menjalahi, syukur-syukur kalau passion itu akhirnya menjadi pekerjaan yang menghasilkan income.
Saat ini salah satu pekerjaan saya adalah seorang pengajar resmi disebuah sekolah swasta dan sudah memberikan andil meluluskan banyak siswa :)
Ini adalah hal yang saya syukuri ketika passion saya menjadi pekerjaan saya.
Sebelumnya saya menjadi asisten dosen selama kuliah. Job Desk nya saya harus mengajar materi sesuai dengan silabus yang diberikan oleh Dosen Pengampu. Hampir 3 tahun saya menjadi asisten dosen, dibayar? Nggak :)
Tapi saya suka melakukan itu karena itu adalah passion saya. Saya mempunyai sebuah kebanggaan ketika melihat seseorang yang awalnya bingung kemudian dengan sedikit penjelasan berkata "oalah gitu ternyata caranya" :)
Sejak SMP saya sudah mengajar anak SD yang belum bisa membaca sampai dia lulus SD dan karena kesibukan, saya tidak lanjut mengajar, saya datang kerumah murid saya dan dibayar seikhlasnya. Meskipun demikian, saya sangat menikmati kegiatan ini.

Passion saya yang kedua adalah menulis, kalau iseng-iseng membuka google dan memasukan kata kunci "fika handani" selain sosmed saya yang muncul, hampir bisa dipastikan muncul juga tulisan-tulisan saya sejak saya masih duduk dibangku SMA. Saya sudah cek sendiri, ketika saya masuk google dan mengetik kata kunci fika handani, sampai dihalaman kelima google itu adalah karya saya.
Tulisan yang dimuat dalam beberapa website pemberi informasi sampai tulisan saya yang masih alay dan labil, kalau saya baca tulisan saya semasa saya kelas 1 SMA, saya geli dan berkata pada diri saya sendiri "saya sudah pernah alay". Dilaptop saya sudah pukul 22.59 dan saya tidak dibayar untuk menulis hal semacam ini, tetapi saya sangat menikmati passion saya. Dan saya harap kalian tidak membaca tulisan saya dimasa saya sangat alay, kalau mau dibaca ya gpp.

Meskipun menjalani passion itu tidak dibayar bukan menjadi masalah lantas mencari uang itu tidak penting, next time saya akan menulis tentang hidup dan uang.

So, what is your passion?
Kalau anda mau menukar hidup anda, anda akan menukar dengan apa?
(apakah menukar waktu dan hidup saya untuk mencintai seseorang yang tidak jelas mencintai saya apa enggak, meskipun tidak dibayar saya akan tetap cinta :p yang penting kan melakukan hal yang kita sukai meskipun tidak dibayar gak apa-apa)

Tidak ada yang salah dengan passion, termasuk passion anda mencintai dia yang tidak jelas. Kembali kepada hal pertama kenapa kita dilahirkan ke dunia? Sudah pasti mempunyai tujuan. Tujuan hidup itu harus berdampak. Saya berbagi tentang prinsip saya dalam iman dan ingin menjadikan prinsip saya berdampak.
Orang yang beriman harus bertumbuh dalam iman, iman juga harus berbuah dan buahnya harus manis dan bisa dinikmati banyak orang.

Sama ketika saya mempunyai passion mengajar saya ingin memberikan dampak kepada mereka yang saya bagikan sebagian ilmu saya. Setiap hari pun saya dituntut untuk menjadi seorang yang bisa memberikan teladan mulai dari bersosial media dengan bijak, bertutur kata dengan baik, memperlakukan orang lain, menepati segala ucapan yang saya pernah katakan, datang ke berbagai kegiatan tepat waktu dan lain sebagainya. Sangat sulit dan setiap hari saya belajar. Tidak hanya yang kelihatan, bahkan dalam kerohanian dan dalam hubungan saya dengan Tuhan saya harus bisa memberikan teladan yang baik. Mungkin itu harga yang harus dibayar untuk sebuah passion.
(bayangin aja kalau misalnya ada yang datang dan tiba-tiba bertanya "bu yang dimaksud dengan ragi farisi dan saduki itu apa ya?" untung saat itu saya paham maksud bacaan di kitab matius, andai saja saat itu saya nggak ngerti apa itu ragi farisi dan saduki, entahlah apa klaim mereka tentang saya sebagai pengajar, based on true story :p apalagi dengan budaya belajar indonesia yang menganggap guru adalah dewa yang sakti)

Begitu pula ketika saya menulis dan membagikan cerita hidup saya, saya ingin tulisan saya berdampak dan memberkati setiap mereka yang membaca tulisan saya. Mangkanya jangan membaca tulisan saya dimasa saya masih alay, selain saya sudah berubah untuk sedikit tidak alay, tulisan alay saya tidak akan bermanfaat kalau dibaca hehehe.

Saya rindu menjadi seorang guru besar yang bisa menginspirasi banyak orang dan tulisan saya bisa Go Internasional. So, sampai sekarang saya tetap belajar bahasa inggris karena saya ingin mempersiapkan diri saya untuk Go Internasional. Itu adalah mimpi saya.

Saya tidak ingin ketika saya ditengah-tengah mengajar atau ditengah-tengah menulis kemudian Tuhan memanggil saya dan saya hanya akan dikenal sebagai
"Oh, Fika yang lulusan Ma Chung"
"Oh, Fika yang jadi guru di sekolah itu"
"Oh, Fika yang suka nulis status galau"
dan mungkin Oh Fika Oh Fika yang lain. Saya sedang mempersiapkan diri, kapanpun saya dipanggil Tuhan, saya bisa berkata kepada Tuhan
"Tuhan, saya sudah menjalani dan menukar hidup saya dengan menjadi seorang pengajar yang berusaha baik di ................. dan menulis sebagian perjalanan hidup saya dan melibatkan Engkau didalam tulisan-tulisan saya"

Diusia saya yang 20 tahun ini, saya sudah siap dengan semuanya. Btw bukan saya pengen cepet-cepet dipanggil Tuhan loh ya hehehe :p
Saya sudah menukar hidup saya.

Jadi kalian mau menukar hidup kalian dengan apa?
a. Dengan mencintai dia yang entah mencintai balik apa enggak
b. Cari uang sebanyak-banyaknya
c. Seneng-seneng dan Foya-foya entah sumbernya dari mana
d. Nonton drama korea seumur hidup
f.  __________________________________________

Saya berharap kalian bisa mengisi bagian f
Toh saya sudah memberikan beberapa opsi jawaban yang mungkin bisa dipilih :)
Kalau belum menemukan jawaban berdoalah dan mintalah tuntunan roh kudus untuk menemukan apa passion yang Tuhan tetapkan dalam kehidupan kalian.

Salah satu tips bagaimana menemukan passion adalah carilah terlebih dulu inspirasi dari Tuhan, saya pribadi menemukan inspirasi dari Tuhan yang menjadi Guru dan Pengajar dibanyak tempat :)
(cerita paling menjadi favorite saya adalah ketika Tuhan mengajar ribuan orang dan memberi makan semuanya dengan 5 roti dan 2 ikan)
Temukan untuk diri anda :)

Keep Shining and Be Blessed :)

Senin, 03 Juli 2017

Panggilan Sayang

Pernah nggak mendengar sepasang kekasih yang memberikan panggilan sayang kepada pasangannya sebenarnya sebuah ejekan yang nggak sepantasnya diberikan kepada orang yang dikasihi?
Misalnya
"Hai Ndut Gendut"
"Cerewetku sayang"
"Pesek"
dan mungkin masih banyak panggilan sayang lainnya.

Sebenarnya fine-fine saja kita memanggil orang dengan sebutan apapun selama orang yang bersangkutan tidak masalah dengan panggilan sayang yang kita berikan.
Tapi kembali kepada sebuah nama. Setiap orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan harapan yang baik.

Misalnya nama saya sendiri.
FIKA, dulu papa ingin memberikan nama PIKA it's mean "Putriku Ingatlah Kepada Allah" karena mungkin P dan F itu lebih keren F, ya akhirnya Papa memberikan nama FIKA dengan tujuan yang mulia, supaya Putrinya selalu ingat kepada Allah.
HANDANI, itu marga Chinese yang turun temurun. Search dengan keyword "Marga Cina Hamdani", Pakai M ya :)
kembali dimodofikasi oleh Papa menjadi HANDANI yaitu Singkatan nama dari kedua orang tua saya "Hartatik And Toni -> HANDANI"
Secara Keseluruhan saya adalah putri dari kedua orang tua saya yang diharapkan untuk selalu ingat kepada Allah :)
mulia sekali bukan tujuan orang tua memberikan nama kepada anaknya?

Saya yakin setiap nama yang diberikan oleh kedua orang tua mempunyai maksud dan tujuan yang mulia.
Kemudian setelah dewasa mereka bertemu dengan seseorang yang mungkin mereka anggap mencintai dan menyayangi mereka. Sebut saja pacar, saya tidak iri dengan mereka yang memberikan panggilan sayang apapun kepada pasangannya, tetapi yang saya sayangkan adalah jika mengasihi seseorang mengapa harus memberikan sebutan buruk? "ndut" misalnya.
Ya mungkin benar kalau badannya memang gendut, atau mungkin montok yang berlebihan, atau mungkin makan yang tidak diatur, atau mungkin tidak suka olah raga. Ya itu alasan kenapa akhirnya memanggil ndut hehehe.

So, disini saya hanya ingin membagikan pemikiran saya. Kenapa tidak memberikan panggilan sayang yang memberkati saja kepada pasangan. Misalnya cantik, ganteng, my best dan lain sebagainya. Selain lebih enak didengar, ucapak itu adalah doa.
Jadi, gunakan mulut untuk mengucapkan panggilan-panggilan sayang yang memberkati.