Senin, 03 Juli 2017

Panggilan Sayang

Pernah nggak mendengar sepasang kekasih yang memberikan panggilan sayang kepada pasangannya sebenarnya sebuah ejekan yang nggak sepantasnya diberikan kepada orang yang dikasihi?
Misalnya
"Hai Ndut Gendut"
"Cerewetku sayang"
"Pesek"
dan mungkin masih banyak panggilan sayang lainnya.

Sebenarnya fine-fine saja kita memanggil orang dengan sebutan apapun selama orang yang bersangkutan tidak masalah dengan panggilan sayang yang kita berikan.
Tapi kembali kepada sebuah nama. Setiap orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan harapan yang baik.

Misalnya nama saya sendiri.
FIKA, dulu papa ingin memberikan nama PIKA it's mean "Putriku Ingatlah Kepada Allah" karena mungkin P dan F itu lebih keren F, ya akhirnya Papa memberikan nama FIKA dengan tujuan yang mulia, supaya Putrinya selalu ingat kepada Allah.
HANDANI, itu marga Chinese yang turun temurun. Search dengan keyword "Marga Cina Hamdani", Pakai M ya :)
kembali dimodofikasi oleh Papa menjadi HANDANI yaitu Singkatan nama dari kedua orang tua saya "Hartatik And Toni -> HANDANI"
Secara Keseluruhan saya adalah putri dari kedua orang tua saya yang diharapkan untuk selalu ingat kepada Allah :)
mulia sekali bukan tujuan orang tua memberikan nama kepada anaknya?

Saya yakin setiap nama yang diberikan oleh kedua orang tua mempunyai maksud dan tujuan yang mulia.
Kemudian setelah dewasa mereka bertemu dengan seseorang yang mungkin mereka anggap mencintai dan menyayangi mereka. Sebut saja pacar, saya tidak iri dengan mereka yang memberikan panggilan sayang apapun kepada pasangannya, tetapi yang saya sayangkan adalah jika mengasihi seseorang mengapa harus memberikan sebutan buruk? "ndut" misalnya.
Ya mungkin benar kalau badannya memang gendut, atau mungkin montok yang berlebihan, atau mungkin makan yang tidak diatur, atau mungkin tidak suka olah raga. Ya itu alasan kenapa akhirnya memanggil ndut hehehe.

So, disini saya hanya ingin membagikan pemikiran saya. Kenapa tidak memberikan panggilan sayang yang memberkati saja kepada pasangan. Misalnya cantik, ganteng, my best dan lain sebagainya. Selain lebih enak didengar, ucapak itu adalah doa.
Jadi, gunakan mulut untuk mengucapkan panggilan-panggilan sayang yang memberkati.

Jumat, 16 Juni 2017

Addictive Relationship

"Bagaimana jika kita sudah terlanjur sayang?"
"Sebenernya saya tahu kok kalau dia gak baik buat saya, tapi gimana ya kak, saya sudah coba melupakan dia tapi pasti bakalan keingat lagi"
"Dia emang sering bikin repot saya sih kak, dia juga beberapa kali minta uang saya, tapi kan namanya manusia kita harus mengasihi sesama"
"Ya kata-katanya memang kasar, kadang dia juga sering ngilang-ngilang gak ada kabar dan kalau aku nanya kenapa pasti dia punya alasan yang nggak bisa aku tentang"
"sikapnya kadang baik, kadang juga bisa cuek sama aku kak. beberapa kali dia bikin aku nangis"

pernah mendapat curhatan seperti itu?
atau mungkin sedang mengalami hal tersebut?

Saya setuju, perasaan-perasaan seperti ini sangat sulit dihadapi terutama kaum wanita. Tidak jarang wanita yang mau bertahan dengan hubungan yang sudah jelas salah hanya karena satu alasan "sudah terlanjur sayang" dan keyakinan bahwa "suatu saat dia pasti berubah".

Pada dasarnya wanita itu memang sangat lemah di perasaan. Sedikit perhatian yang diberikan oleh cowok, apalagi kalau cowoknya ganteng dan pinter ngegombal hampir dipastikan wanita itu "baper". Saya juga wanita, saya pun pernah mengalaminya. Jujur memang, saya sering sekali baper. Namun, saya sadar kelemahan saya sebagai wanita. Saya sadar perasaan wanita memang sangat lemah. Ketika kita sudah sadar dengan kelemahan kita, maka jangan main-main di kelemahan kita. Begitu yang saya terapkan.

Pengalaman terakhir saya dengan seorang pria yang jelas tidak baik bagi saya saat itu. Sebut saja si X.
Kami sudah sangat dekat, bahkan sampai sekarang kesan banyak orang yang menilai "saya adalah kekasihnya si X" meskipun kami berdua tidak pernah berkomitmen apapun. Saya suka, ya saya akui saya suka. Bahkan kepada siapapun yang bertanya kepada saya, saya tidak pernah mengelak dengan perasaan saya, saya tahu kalau itu menyakitkan, jadi saya tidak melakukannya. Sampai sekarang pun, meskipun sama sekali saya tidak peduli lagi dengan kehidupan si X, masih saja ada orang-orang yang menganggap saya masih punya hubungan special dengan si X. Bahkan setelah saya sudah berkomitmen dengan tujuan yang jelas dengan orang lain.
Masa-masa kami dekat, seakan-akan memang kami ini nggak akan terpisahkan (saya dan si X). Kemana-mana kami berdua. Saya beberapa kali membantunya menyelesaikan tugasnya, dia beberapa kali membantu saya menyelesaikan tugas saya. Hampir setiap hari kami melakukan interaksi, baik sekedar chat atau keluar sampai larut malam.
Bisa dibilang saat itu saya "kecanduan si X". Kalau ada si X saya jadi semangat, kalau tidak ada si X saya jadi tidak semangat. Saat itu saya memberikan perhatian yang sangat besar kepadanya, karena saat itu kebutuhan saya melampiaskan emosi saya karena rasa kecanduan tadi.
Sampai pada satu titik, hubungan kami menjadi tidak baik-baik saja karena adanya pihak ketiga.
Pada dasarnya tidak ada satu wanita pun yang suka melihat lelakinya dekat dengan wanita lain meskipun alasan "hanya teman" termasuk juga saya. Saat itu saya memang tidak suka melihat dia dekat dengan wanita lain. Dia kan sudah sangat dekat dengan saya, kenapa harus ada sosok wanita lain? Pikir saya saat itu.
Banyak hal-hal kompleks yang terjadi, sampai saya juga tidak habis pikir kenapa kejadian itu harus terjadi. Sampai saya memutuskan semua hubungan dengan si X.
Sedih? ya tentu saja. Saya merasa kecewa beberapa hari saja. Ingat ya, beberapa hari saja.

Akhirnya saya mendapatkan satu pemahaman bahwa, sebenarnya yang saya rasakan saat itu bukanlah kasih sayang yang murni kasih sayang. Saya menyadari, saat itu saya hanya "addictive relationship" yang akhirnya membatasi saya melakukan apapun. Misalnya, saya tidak melakukan apapun kalau tidak ada dia, saya kehilangan semangat kalau tidak ada dia. Hal ini tidak baik bagi saya.

Percayalah kalau sebenarnya saat itu saya sudah bisa dikatakan "terlanjur sayang". tetapi Tuhan itu baik, yang tidak akan membiarkan anakNya berada pada posisi yang salah terus menerus, meskipun teguran yang diberikan saat itu sangat sakit. Ketika saya dengan pasti dan yakin untuk memutuskan segala hubungan dengan si X. Secara manusiawi saya berat hati, setiap hari yang saya sebut dalam doa "Bapa, kalau memang dia tidak baik buat saya, Bapa ambil perasaan suka kepada dia dari saya, Bapa lembutkan dan pulihkan kehidupan saya".

Saat ini saya bisa tertawa dan bahagia diatas tangisan yang dulu saya alami. Dengan mata kepala saya sendiri saya bisa melihat bahwa semakin hari ternyata dia bukanlah sosok yang baik bagi saya. Dan saya bisa membuat daftar yang membuat saya bersyukur sudah tidak lagi bersamanya.

1. dia tidak membuat saya semakin dekat dengan Tuhan, saya bukan orang yang religius sekali tetapi saya tetap percaya saya ini tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan.
2. dia membuat hubungan saya dan orang tua saya menjadi tidak baik. beberapa kali saya berbohong kepada orang tua saya hanya karena saya ingin bertemu atau sekedar jalan-jalan dengannya, dan ini jelas sangat tidak baik.
3. dia membuat saya tidak mencintai diri saya termasuk kesehatan saya. dia seorang perokok berat, bahkan dia pernah mengatakan "mending gak nikah daripada gak merokok". dulu saya masih toleransi meskipun didekat saya dia merokok dan saya terganggu dengan asap rokoknya, yang tidak baik buat kesehatan saya. papa saya perokok, tapi papa tidak pernah merokok didekat saya karena papa sayang ke saya dan mama. sudah hampir dipastikan dia tidak menyayangi saya
4. dia tidak memberikan kejelasan status kepada saya. bagi wanita status itu sangat penting, dengan tujuan dan komitmen yang jelas.
5. secara financial dia masih belum cukup mandiri. bukan matre, tetapi realistis. bagaimana bisa saya akan menjalani hubungan jika saya hidup dengan seseorang yang kebutuhan financialnya saja masih bergantung kepada orang lain?
6. dia tidak mempunyai tanggung jawab yang baik. dia adalah partner saya dalam berorganisasi dan saat ini dia meninggalkan semua tanggung jawabnya sebagai ketua :) saya bersyukur mengetahui sejak sekarang. bahkan dulu, saya sering melihat dia tidak bertanggung jawab dengan tugas kuliahnya sendiri, sering kali tugas kuliahnya dikerjakan oleh "cewek" yang menjadi pihak ketiga tadi hehehe.
7. dia sama sekali tidak mempunyai hati nurani, hal ini tidak layak saya jabarkan karena hal ini menyangkut kehidupan keluarganya
8. dia tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik
9. dia tidak jujur. sering kali saya curiga dengan hal-hal yang dia katakan dan seringkali kecurigaan saya ini benar. termasuk kecurigaan saya mengenai pihak ketiga tadi :)
10. dia masih kekanak-kanak an, dia tidak bisa memegang teguh apapun yang dia katakan, termasuk komitmen yang dia buat sendiri atau tanggung jawab yang dia sudah ambil sendiri. dia tidak berani menghadapi kesalahan yang dia perbuat sendiri.

Hal-hal tersebut membuat saya semakin membuka pikiran dan mata saya tentang dia. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan seorang yang jauh lebih baik.
Tidak ada satupun dari daftar diatas tadi yang melekat pada kekasih saya saat ini.

1. Sudah jelas dia membawa saya lebih mencintai Tuhan, meskipun pelan-pelan dia berusaha meyakinkan saya untuk mengasihi dan mengampuni, sering kali saya bantah dan cekcok dengan saya, tetapi dengan kasih dia bisa mendukung saya untuk semakin bertumbuh didalam Tuhan.
2. dia menghormati kedua orang tua saya, demikian juga saya menghormati kedua orang tuanya dan kami sangat terbuka dengan hubungan yang sedang kami jalani.
3. dia mencintai dirinya dan mencintai saya sebagai bait yang kudus dan berkenan bagi Tuhan, termasuk menjaga kesehatan
4. kami mempunyai status, visi dan tujuan yang jelas tentang hubungan kami. tidak hanya berpikir bahwa ini sementara, kami tidak ingin sementara, meskipun kami tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, hanya kami yakin bahwa yang terjadi nantinya itu yang terbaik bagi kami :)
5. Mandiri dalam financial Baik saya ataupun dia. Kami sudah punya penghasilan yang cukup, bahkan berlimpah. Dia sudah mempunyai rumah, kendaraan, pekerjaan dan bisnis pribadi yang jelas :)
6. dia sangat bertanggung jawab, minimal bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri dan sama sekali tidak merepotkan saya sebagai pasangannya. Bahkan dia yang selalu berusaha membahagiakan saya :)
7. dia mempunyai hati yang sangat lembut, dia mencintai Tuhan lebih dari apapun dan saya bangga

Saya berpikir jika dulu saya berkeras hati pada perasaan "saya sudah terlanjur sayang kepada si X", dapat dipastikan hidup saya tidak akan seberkualitas sekarang. Bagi saya pribadi, tidak ada yang namanya terlanjur sayang, yang ada hanyalah kecanduan yang akhirnya mengikat diri kita sendiri.

Kamis, 08 Juni 2017

Sosmed yang Memberkati

Kemarin, 07 06 2017 saya bersama dengan rekan sekantor saya dan sekaligus rekan seperjuangan dari dulu jalan-jalan ke sebuah Mall di Kota Malang.
Rute kami yang pasti pertama kali adalah food court karena sepulang dari kantor dan mengajar, kami lapar, kemudian kami membeli beberapa film dan masuk ke sebuah toko Buku.

Dia mengajak saya untuk melihat-lihat buku yang berkategori religion. Ada sebuah buku yang menarik perhatian saya "Jempolmu Harimaumu".
Saya berniat membeli buku itu dan membacanya ketika saya sudah dirumah.

Bagian pertama dari buku itu berbicara tentang bagaimana keadaan saat ini, sosmed digunakan untuk menebarkan kebencian dan permusuhan.
From deepest of my heart, pernyataan itu seperti Tuhan sediakan untuk menegur diri saya sendiri.
Kalau dibilang saya ini hits, yah bisa jadi karena followers sosmed saya juga lumayan banyak hehehe :p

Sekitar 2 bulan yang lalu, i do it. Saya menggunakan sosmed dengan cara yang tidak bijaksana. Banyak kata-kata dan kalimat-kalimat yang saat ini saya sadari saat itu sama sekali tidak memberkati. So far, saya bersyukur karena setelah membaca buku tersebut saya bisa bercermin dan memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Btw, dibalik cerita kenapa sampai saya tidak bijaksana dalam bersosial media, saat itu saya terpancing dengan seseorang yang tidak penting.
Saya tidak ingin menceritakan dalam postingan kali ini karena saya rasa ceritanya tidak akan memberkati kok :)

So, bijaklah dalam bersosial media.
Termasuk saya sendiri juga masih belajar dan terus belajar untuk bersosial media dengan bijak :)

Rabu, 10 Mei 2017

Tentang Kamu dan Mereka

Mungkin sudah tidak sekali dua kali saya berkeluh kesah tentang mereka. Tidak hanya sekali dua kali saya menangis dan saya tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan saat ini. kecewa, ya tentu saja. Bagaimana bisa seorang yang sangat saya percaya bisa menceritakan segala sesuatu tentang saya, ya meskipun itu kepada teman terdekatnya sekalipun.

Pertama-tama sebelum melanjutkan tulisan ini, saya meminta maaf jika selama ini saya bersalah. Banyak tutur kata dan perilaku yang tidak berkenan bagi kamu. Ditengah-tengah kesibukan yang sedang kamu jalani mungkin saya adalah pengganggu yang seharusnya tidak menghubungi kamu sama sekali. Bahkan ketika kamu sedang bersama dengan teman-temanmu, seharusnya aku tahu bahwa kamu butuh waktu bersama dengan teman-temanmu itu.

Saya mengenal mereka dengan baik pada awalnya. Kalau tidak disengaja itu tidak mungkin karena apapun yang terjadi dikehidupan kita tidak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan dan saya harus mengenal dengan mereka.

Aku bersalah karena aku selalu mempermasalahkan hal-hal remeh. Saya marah ketika apapun yang saya posting disosial media saya selalu mereka lihat, dan yang lebih parah posting disosmed saya mereka bagikan kembali ke teman lain yang saya tidak mengenalnya. Kalau memang bagimu itu bukanlah sebuah masalah, tak apa, mungkin aku yang terlalu membesar-besarkan masalah itu.

Mengenai meretas akun sosial media mereka?
Saya sama sekali tidak pernah membajak apapun dari mereka, line, handphone, instagram dll. Ya saya memang mengatakan semua itu kepadamu, itu hanyalah sebuah pancingan bagi mereka. Mengapa mereka langsung panik ketika aku mengatakan semua itu?
Terus kok saya tahu kalau merk hapenya Asus?
Beberapa kali temanmu mengupload screencapture percakapan yang kalian lakukan, saya melihat dan bisa menebak apa merk handphone nya dari interface handphone nya.


Biar saya jelaskan sedikit, setiap merk smartphone mempunyai user interface. Coba lihat pada bagian icon jam, batre, sinyal dan wifi. Satu device dengan device yang lain itu berbeda, apalagi sebelumnya smartphone ku adalah asus, jadi sekali lihat saya bisa menebak bahwa smartphone nya adalah asus :)
Se simple itu.

Saya tahu etika dan saya tidak akan melakukan tindakan serendah itu. Sampai sekarang yang saya pikirkan mengapa mereka harus panik ketika saya berkata "saya tahu kok apapun yang mereka bicarakan". Coba pikirkan, mereka akan tenang kok kalau mereka memang tidak melakukan apapun, mereka tidak perlu panik.

Tentang bakso bakar :)
Saya tidak masalah jika nama saya disebutkan dalam sosmed mereka, harusnya tulisannya jangan dikecilkan supaya saya semakin famous :)
Ya saya aja kali yang melebih-lebihkan.
Coba dinalar, menurut ceritamu, temanmu ingin ikut ke bakso bakar tapi tidak diijinkan. kemudian temanmu berkata
"kalau nggak mau tak temenin minta temenin mbak fika, biar nggak keliatan jones, lagian kan kalian jarang meet up"
Anggap saja saya percaya dengan cerita mu bahwa temanmu benar mengatakan itu.
Kemudian dalam story nya juga dikatakan
"semoga ke bakso bakarnya beneran sendiri"
Terus saya berpikir?
Jadi sebenernya temanmu berharap kamu ke bakso bakarnya ditemenin mbak fika atau beneran sendiri (tanpa mbak fika)?
Mana yang menjadi isi hatinya saat itu? sudahkah kamu berpikir sejauh itu?

Tentang mengusik kehidupan orang lain :)
Pagi hari saya memutuskan untuk memblokir semua akun sosmed mereka. Lucu buatku ketika mereka berkata bahwa tidak mengusik kehidupanku tetapi mereka langsung tahu kalau sosmednya diblokir. Pikirkan, apakah mereka masih mencariku? Kangen atau bagaimana? hehehe
Apa karena kehilangan satu follower kemudian mereka mencari siapa yang mengunfollow mereka? Apakah mereka senganggur itu? hehehe

Loh ya, saya ini nggak bajak, tapi kok masih bisa tahu ya mereka update apa saja?
Sangat mudah, cari saja key word di google "how to see instagram story without path". Pasti akan menemukan banyak jawaban bagaimana kamu bisa melihat story orang lain meski kamu tidak memfollow ataupun memblokirnya.

Oh satu lagi, saya tersinggung dengan posting semacam ini.


Saya yang memberikan nama special "panda", kenapa panda? kalau kamu bertanya saya akan jelaskan makna dibalik panda :)
Saya yang memberikan nama panda mengapa mereka yang berkomentar?
Oh iya? ngomong-ngomong mereka tahu dari mana tentang panda?
apakah kamu ceritakan semua tentang kita kepada mereka? tentang bagaimana awal kita kenal, kemana saja kita pernah pergi, apa saja yang pernah kita lakukan bersama, bagaimana kita bersama merintis karang taruna, bagaimana kita menghadapi orang-orang yang ingin merebut kedudukanmu sebagai ketua, bagaimana kita saling menutupi kesulitan satu sama lain, bagaimana awal kita bermasalah, bagaimana kamu menemani aku ujian TA.
sudahkah kamu ceritakan itu semua kepada teman-temanmu? Oh mungkin aku salah ketika aku harus bercerita banyak hal kepadamu :)
Kepercayaan saya kembali dikhianati ketika saya menemukan orang yang saya rasa tepat :) tetapi perasaan saya salah.

Mengenai aku mengundurkan diri dari kepengurusan?
Bisa saja saat itu memang aku salah mengambil keputusan, saya berbicara salah kepada orang yang salah. Kenapa kamu tidak pernah menanyakan kenapa aku melakukan hal itu?
Kenapa harus orang lain yang mengajakku untuk kembali?
Aku tidak sejahat itu akan membiarkan kamu dengan tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin, harapanku saat itu kamulah yang mengajakku untuk kembali :(
Oh ternyata bukan kamu.
Aku hanya memancing kamu, masihkan kamu peduli? Ah ternyata kamu sama sekali tidak peduli. Bahkan saat itu aku berpikir, hatimu terbuat dari apa? Sampai seperti itukan kamu memperlakukan aku?
Setelah saya kembali dengan niat bahwa aku tidak akan meninggalkan kamu dengan tanggung jawabmu sendiri, sama sekali tidak ada apresiasi dari mu. Oh poor me :(

Saya tidak tahu bagaimana Tuhan menciptakan hati dan perasaanmu. Atau mungkin kata Tuhan sudah tidak lagi menggetarkan hatimu.

Doa saya, semoga tulisan ini bisa membukakan pikiran dan hatimu.
Kalau kamu tanya, apakah aku cemburu? ya saya cemburu dengan masa lalu dimana kita masih baik-baik saja :)


Pragya, Abi, Alia dan Tanu


Judulnya kok nama orang?
Saya perkenalkan dulu, orang-orang tersebut siapa. Jadi nama-nama tersebut adalah tokoh-tokoh di india yang setiap sore ditayangkan disalah satu stasiun televisi swasta. Saya bukan pecinta film india sih, hanya saja saya sering menemani mama saya nonton india. Ya jadi sedikit banyak saya tahu karakter dari pemain di sinema tersebut.

Pragya : Wanita cerdas yang tidak terlalu cantik tetapi mempunyai hati yang baik. Pragya adalah istri dari Abi. Mereka awalnya tidak saling cinta tetapi karena dijodohkan oleh keluarga mereka Pragya dan Abi menjadi dua insan yang tidak terpisahkan.

Abi : Pria popular dikalangan wanita. Dia tampan dan baik hati, namun sayang dia mudah sekali dipermainkan emosinya oleh orang-orang disekitarnya yang hanya ingin memanfaatkan kebaikannya.

Alia : Cerita dalam film india itu Alia adalah adik dari Abi (pura-pura nya). Tapi dia sangat jahat, dia ingin merenggut semua kebahagiaan pragya. Hidupnya dipenuhi dengan kebencian kepada pragya, istri Abi.

Tanu : Tanu adalah wanita yang tidak kalah jahatnya. Dia hanya terobsesi untuk memiliki Abi, dia hanya iri kepada Pragya yang bisa menjadi istri Abi. Tanu adalah sahabat Alia, mereka berdua orang yang licik. Dia ingin memisahkan Abi dan Pragya.

Suatu ketika dua keluarga dipersatukan karena sebuah perjodohan, Pragya dan Abi. Awalnya mereka tidak saling mengenal, tetapi waktu yang membuat mereka terus bersama menumbuhkan perasaan cinta perlahan-lahan hingga mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta dan tidak ingin berpisah satu sama lain.

Abi dan Pragya mendapatkan dukungan penuh dari masing-masing keluarganya. Mereka sering tinggal bersama dalam satu rumah. Mereka saling berbagi perhatian dan memberikan dukungan satu sama lain.

Namun sayang, kisah cinta mereka tidak berjalan sesuai dengan kehendak mereka. Masalah demi masalah mereka hadapi bersama. Satu masalah dua masalah tiga masalah sampai puncak masalah ketika Alia dan Tanu mengusik kehidupan cinta Abi dan Pragya.

Tanu yang sangat terobsesi ingin memiliki Abi selalu menjatuhkan Pragya. Tanu pun mendapatkan dukungan dari sahabatnya Alia. Mereka berdua berusaha menjauhkan Abi dan Pragya dengan cara mempermainkan emosi Abi. Karena Abi begitu menyayangi Alia, dengan mudahnya Abi mempercayai apapun yang Alia katakan.

Sampai pada akhirnya Abi dan Pragya terpisah.
Saat ini Alia dan Tanu berbahagia karena telah berhasil memisahkan Abi dan Pragya. Alia dan Tanu berusaha dengan keras untuk menjauhkan Abi dari kehidupan Pragya.
Pragya hanya bisa berdoa kepada Dewa, meskipun saat ini Pragya tidak bersama dengan Abi tetapi Pragya percaya pada cinta yang dimiliki oleh Abi untuknya.

Bersambung.....

Senin, 08 Mei 2017

Tentang Mengendalikan Emosi dan Sosmed - Part 1

Kemarin malam adalah puncak emosi saya terhadap seseorang. Bodohnya saya malam itu adalah terpancing emosi anak kecil yang baru lulus SMA, eh tepatnya masih awal-awal kuliah. Sedangkan saya sudah menjabat dengan jabatan yang cukup baik dan banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan (termasuk akun server yang tiba-tiba di suspend -_-)

Malam kemarin akhirnya saya bercermin dan melihat diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya merasa, iya ya salah. Kenapa saya harus ikutan emosi dengan hal yang sangat tidak penting.

Ada seorang yang usianya 3 tahun diatas saya, saya bersyukur Tuhan pertemukan kami kembali diwaktu yang tepat. Dia membukakan dan membeberkan apa yang selama ini saya lakukan memang tidak 100% benar kok.
Awalnya masalah sosmed, ya saya juga nggak habis pikir kenapa ya saat sosmed saya dilihatin itu saya jadi marah? kenapa kalau dia share posting saya di sosmed saya jadi emosi?
Toh memang saya kok yang posting itu untuk public dan siapa saja memang sebenarnya punya hak untuk melihat apapun yang saya posting.

Kemudian saya cerita ke teman saya itu "loh saya itu loh beberapa kali posting hal-hal baik, posting Firman Tuhan, mengutip ayat-ayat alkitab, tapi saya loh masih dikata-kata in ........."
(nggak lolos sensor)

Entengnya dia menjawab, lah biarkan saja. Kamu posting baik, 100 orang terberkati dan 3 orang tidak suka. Ya itu wajar. Jangankan kamu, Ahok aja tuh Gubernur jelas kelihatan mata dia orang baik tapi masih aja banyak yang nggak suka. Apa kamu mau menghentikan kata-kata baikmu hanya karena 3 orang yang tidak suka dan menganggap kamu sok alim?

Ya ya, saya hanya angguk-angguk saja dan dalam hati berkata "kenapa gak dari dulu dia kembalinya?"

Kemudian saya masih mengeluh "tapi saya tahu semua isi sosmednya" sambil saya tunjukan semua yang pernah mereka biacarakan.
Ya enteng lagi dia menjawab. Kamu jadi tahu karena kamu cari tahu, coba dari awal kamu nggak usah cari tahu, ya pasti nggak tau. Lebih baik sama sekali tidak tahu apa-apa tapi hidup damai dari pada kamu mengetahui segala sesuatu tetapi membuat kamu gelisah.

"Loh, tapi itu nyangkut paut aku loh kak"

Ya biarkan saja. Memang kamu famous kok, nama kamu akan dikenang dalam kehidupan mereka. Entah jadi buruk atau baik, yang penting dikenang aja dulu. Liat tuh Ahok, dia akan dikenang terus entah jadi baik atau jadi buruk.

"Lah masak aku dibawa-bawa dan dikata-katain mau diem aja?"

Terus kalau km tanggepin selama ini kamu dapet apa? Masalahnya selesai? Yasudah diam saja, singa itu gak mungkin mengaung liat anjing menggonggong, dia sadar kalau singa tidak layak mengahadapi seekor anjing. Ya anggap saja mereka anjing menggonggong.

Ya sekali lagi saya angguk-angguk, setuju sambil dalam hati bilang
"iya iya selama ini saya salah nanggepin anak yang urusannya cuma sekedar kuliah saja, awal-awal lagi, belum juga setahun lulus SMA"

Saya kembali mengeluh

"kak, tapi ada teman dekat saya saat itu, dia cowok kak, dulu kami sangat dekat, tapi sekarang dia berubah"

Terus urusannya apa? Emang kamu nggak bisa ngapa-ngapain tanpa dia? Lah dia siapa kamu?

"Ya enggak, aku cuma heran aja dulu aku dan dia itu saling mengerti, saya denger ucapannya saja sekali saya bisa paham apa yang dimaksud, tapi sekarang saya nggak tau jalan pikirannya"

Semuanya akan dijawab oleh waktu, kebaikan dan keburukan orang itu yang bisa menjelaskan hanyalah waktu. Emang kamu punya salah apa sama dia? sampai dia bersikap seperti itu? Kalau kamu kenal sebulan dua bulan ya pasti kesannya baik

"aku nggak tau apa salah saya, beberapa kali aku nanya. aku ini salah apa toh, kok sikapnya jadi berubah gini? tapi dia selalu menjawab baik-baik saja, nggak pernah ada kata menyalahkan, sampai saya bingung sendiri"

Ya berarti emang kamu nggak salah. terus pas dia ngomong kamu gak salah kamu makin bingung ya?

"ya iya lah bingung, bayangin ya, dulu nih tiap hari ketemu, minimal seminggu sekali bisa dipastikan kami jalan-jalan keluar, lah terus sekarang dia tiba-tiba diam seribu bahasa kayak mulutnya habis dijahit aja"

Kamu nggak salah, dia juga nggak salah sih. Kamu bingung dengan sikapnya kenapa dan dia juga punya hak untuk tidak menyampaikan apapun ke siapapun. Ya kamu juga gak bisa maksa dia harus ngomong apa masalahnya dia ke kamu, siapa kamu? (jleb).
Apalagi setahuku kamu dari kecil rasa ingin tahunya besar, kalau gak beneran tau sampai dalem-dalemnya ya mbok sampai dia masuk kuburan juga tetep bakal kamu tanyain.

(saya ngakak dan emang bener sih ya, kalau saya belum tau detil tentang apapun ya gak bakal lega)

Tapi gitu itu dikurangin, janga diterus-teruskan. Kasian kamu sendiri nanti, capek jadinya. Mulai dipilah-pilah mana yang layak dipikirkan dan yang tidak layak dipikirkan.

"kak, tapi diluar aku punya salah apa enggak, aku sudah sering minta maaf kok"

ya baguslah, terus respon dia gimana?

"dia gak pernah ngrewes maafku, yang diinget pas aku marah-marah mulu, dia juga gak lihat kali aku marahnya kenapa. tapi kadang dia ya pernah jawab, maaf tentang apa lagi?"

kamu kok kayak Ahok Junior sih (sambil dia ngakak-ngakak)

"leh, apasih?"

Lah iya, kamu itu marah tapi yang dilihat marahnya, bukan penyebab kamu marah. kamu minta maaf nggak direwes, tetep aja dituntut haha.
Sama sih kayak Ahok, yang disorot itu marah-marahnya, salah satu kalimat aja sudah minta maaf tapi maaf nya gak direwes hehe.

"Lah iya sih ya, terus enaknya gimana kak?"

yaudah lah diamkan saja, toh kamu sudah minta maaf, direwes apa enggak itu urusannya. blokir aja sudah semua sosmednya.

"oke deh, besok tak blokir aja sosmednya, apa malam ini juga deh saya blokir"
(ya akhirnya jadilah peristiwa pemblokiran tersebut)

the end :)

masih belum sampai inti tulisan :)

Sabtu, 29 April 2017

Love Different Religion - Part 2

Sesuai dengan janji saya di post sebelumnya, saya akan melanjutkan pembahasan mengenai Love Different Religion Part 1. Sekarang saya akan berbicara yang Part 2. Sepertinya akan lebih menarik jika ceritanya disajikan dengan adanya kisah nyata. Oke saya akan menceritakan sekelumit kisah nyata bagaimana dua insan yang sedang jatuh cinta harus dibatasi dengan perbedaan keyakinan.

Based on true story
Ada sebuah keluarga, yang mana ibunya berasal dari keluarga nasrani dan ayahnya berasal dari keluarga muslim. Ketika saya bertanya kepada sang anak
"kok bisa mama papa mu menikah meski beda keyakinan?"
"entahlah, kayaknya dulu mama ngalah sama Papa"
"Loh, terus skrg gimana?"
"Dulu ketika menikah, mama pindah agama, ikut seperti keyakinanya Papa"
"hmm, terus?"
"Ditengah-tengah perjalanan rumah tangga, mama kembali ke agama nasrani, bagaimanapun keyakinan akan tetap menjadi keyakinan"
"Oh, iya sih ya. lantas, kamu sendiri bagaimana?"
"Saya mau ikut keyakinan papa tapi mama gak ngebolehin, saya mau ikut keyakinan mama tapi papa gak ngebolehin"
"Laaah, sekarang kamu gimana dong?"
"Saya milih diam saja demi kedamaian di keluarga saya"

Cerita diatas kayak sinetron ya? tapi itu bukanlah sebuah sinetron atau lelucon yang kadang dianggap bercanda saja. Heleh, cinta beda keyakinan. Yaudahlah jalanin aja, toh kalau jodoh nggak kemana. So, akan ada berapa banyak Hak Asasi Manusia yang akan terenggut?

Okelah, anggap saja memang hak asasi kita dari awal sudah direnggut. Kita dikasih nama dan kita dipilihkan agama tanpa kita bisa menengok agama yang lain.
Apakah itu salah? Kita bisa melihat dari sisi salah dan sisi benar. Dilihat dari sisi Hak Asasi Manusia tentu saja itu salah jika keyakinan dipaksakan kepada orang lain. Dilihat dari sisi kasih, tidak ada orang tua yang tidak mengasihi anaknya, semua yang dilakukan oleh sang orang tua pasti yang terbaik untuk anaknya.

Coba sekarang posisikan kehidupan kita ada diposisi sang anak dalam cerita. Apa yang dia rasakan ketika dia akan menyembah sang khalik saja harus menghadapi pertentangan dari kedua orang tuanya?
Kasihan? Iya, tentu saja. Saya juga kasihan sama anak itu, tapi saya bisa apa? Saya tak bisa melakukan apapun.

Oke, jadi saat ini kalian masih ada diposisi Love In Different Religion?
Sekali lagi, saya setuju kok dengan Love Different Religion, tetapi jika ditanyakan apakah saya akan menjalaninya? Saya akan menjawab tidak.
Katakanlah memang cinta itu buta dan kita tidak bisa memilih kita akan jatuh cinta kepada siapa (hal yang paling sia-sia adalah menasehati orang yang sedang jatuh cinta). Tapi kita tetap punya mata dan pikiran bukan?

1. Buka Mata
bukankah sudah nampak jelas kalau jalan yang akan kamu hadapi adalah jalan yang nantinya rumit. Ibaratnya kamu sedang jalan dijalan yang didepannya sudah ada badai yang menanti. Terus kamu sudah lihat badai itu nyata, tapi kamu membutakan pandanganmu sendiri dari badai yang siap menerpamu?

2. Buka Pikiran
ya saya tahu kalau kadang orang yang sedang jatuh cinta tidak bisa berpikir dengan jernih. seperti yang sudah saya tulis di post sebelumnya, jika akan memulai hubungan pastikan tidak sedang berbunga-bunga. Bagaimanapun pikiran akan tetap jalan dan sebenernya kita itu sudah sangat sadar dengan apa yang dilakukan adalah salah, kalau memang masih mau jalan ya anggap saja masih belum punya penguasaan diri yang baik.

Tidak ada yang pernah salah dengan cinta, yang salah adalah ketika cinta membuat kita semakin jauh dengan sang pencipta, membenci orang tua yang sudah membesarkan kita dan cinta yang membuat kita kehilangan pengendalian diri. Itu bukan cinta, itu hanyalah sebuah obsesi, jika kalian berhasil pun, itu tidak akan berarti apapun bagi kalian :)

Posting berikutnya saya akan berbagi tentang pengendalian diri.

So always keep shining and be blessed

FH