Kamis, 17 Maret 2016

Persiapan Akreditasi

Baru tahun ini secara langsung saya terlibat akreditasi di Universitas saya. Ribet dengan berbagai berkas yang harus disiapkan dan ditunjukkan kepada asesor (asesor adalah mereka yang akan memberikan penilaian kepada program studi disalah satu universitas). Belum lagi ada 3 program studi yang akan menjalani proses akreditasi dalam jangka waktu yang berdekatan. Kalau dibilang keberatan ya enggak juga, karena salah satu kontribusi saya kepada universitas dan "kerjaan" saya buat menyiapkan berkas akreditasi hehehehe.

Saya melihat dosen-dosen di Universitas saya kalangkabut dengan adanya akreditasi. Sampai yang fatal adalah beberapa mata kuliah harus ditiadakan karena proses akreditasi. Ya mahasiswa sih seneng-seneng aja karena kelasnya ditiadakan hehehehe.

Satu hal yang saya cermati dari proses akreditasi ini. Ya entah lah di luar benar dan salah, akreditasi ini merupakan kebijakan yang sudah lama diterapkan. Jadi saya yakin sudah dipertimbangkan matang-matang. Kenapa proses akreditasi hanya berlangsung dengan waktu yang sangat singkat? Hanya sekitar dua hari saja (ini yang terjadi di program studi saya). Artinya kegiatan belajar mengajar, lebih khususnya kualitas program studi di universitas hanya akan ditentukan dalam waktu dua hari saja. Apakah itu fair? ya entah lah. Mungkin anggapan saya kalau hal ini kurang fair juga salah, kalau salah silahkan tinggalkan komentar aja :)
Menurut saya, dalam waktu dua hari bukanlah penilaian yang akurat untuk menjudge sebuah program studi berkualitas atau tidak. Apalagi yang menilai bukanlah orang yang benar-benar mengenal bagaimana program studi tersebut secara baik. Kalau kepakaran saya tidak meragukan, karena yang ditunjuk sebagai asesor pasti mereka yang mempunyai kepakaran lebih.
Kenapa tidak dilakukan proses penilaian selama satu semester?
Dimulai dari mahasiswa melakukan proses KRS Online, validasi kepada dosen, proses perkuliahan yang sebenarnya, kualitas dosen dalam mengajar, kualitas staff yang melayani mahasiswa, kurikulum, ekstrakurikuler, fasilitas dan lain sebagainya.
Menurut saya akan lebih valid lagi hasilnya kalau penialaian dilakukan selama satu semester (selama asesor bersedia dan mendapatkan upah yang sesuai dengan kinerjanya)
Kalau asesor menilai dalam jangka waktu yang cukup lama, paling tidak untuk memberikan penilaian mengenai kualitas progra studi kan akan lebih baik lagi walaupun tidak akan ada penilaian yang sempurna.
Ya kalau dua hari mah memang yang ditunjukkan dan yang disediakan pasti yang baik-baik saja kan? :)
dan itu bukan menunjukkan hasil yang sebenarnya tentang kualitas program studi.

Ahhh apapun penilaian yang akan diberikan oleh asesor nantinya, paling tidak saya sudah memberikan kontribusi kepada program studi dan universitas. Nggak hanya bisa "nggedabrus" doank dibalakang hehehehe.

Hal yang lebih penting lagi sih sebenarnya, setelah akreditasi dan (jika) nilai akreditasinya naik, kualitas program studi juga ikut naik. Baik dari mahasiswa, dosen, kurikulum, cara mahasiswa belajar, cara dosen mengajar, fasilitas dan lain-lain. Ya semoga akan ada perubahan yang lebih baik lagi setelah akreditasi selesai. Supaya  mahasiswa yang terlibat (kayak saya) nggak sia-sia kontribusinya :) terlebih akan ada perubahan.

So, intinya jangan setelah akreditasi terus buyar hehehehe :)

ehhh hujannya udah reda. Ayok pulang :)

NB : kalau ada kata-kata atau kalimat yang salah dalam tatanan bahasa harap maklum ya, nulis nya dalam keadaan lelah habis seharian kerja dan kuliah. Sambil nunggu hujan reda dari pada nganggur hehehehe. Nanti kalau sempat di edit lagi lah postnya :)

Senin, 29 Februari 2016

Sekedar Menanyakan Kabar

Pernah nggak kalian tiba-tiba tidak hadir dalam kerja atau kuliah terus ada yang menanyakan keadaan kalian?
Tulisan saya kali ini tentang pengalaman saya yang bolos kuliah (sebenarnya bukan bolos, hanya sedang ada keperluan lain saja) jadi saya berhalangan untuk masuk kuliah. Ada beberapa teman saya yang menanyakan keberadaan saya
"Fikk kemana tadi? kok gak masuk kuliah??"
Saya hanya menjawab "aku ada urusan mendadak hehehe"

Dibalik urusan mendadak sebenarnya ada urusan lain-lain yang belum saat nya diceritakan. Urusan yang cukup rumit, bikin lelah dan memaksa saya untuk tidak tidur hampir 48 jam non-stop. Mungkin tertidur 15 menit dan harus terbangun lagi.

Ada kisah yang unik dari rekan saya ketika menanyakan kabar. Ada yang sekedar "oalah tak pikir kamu kenapa" atau cuma ngeread message ny doank, bahkan ada yang kepo saya sedang ada urusan apa. paling unik itu adalah tipe yang terakhir, yang kepo dengan urusan saya.

Entah kebetulah atau apa ya, saya ini tipe orang yang susah dekat dengan orang lain. Saya cenderung dekat dengan orang yang "setipe" dengan saya. Salah satu tipe nya adalah orang yang nggak suka ribet. Jadi orang-orang yang dekat dengan saya bisa dihitung jari dan tidak semua dari mereka harus tau semua hal tentang saya :)

[ada prinsip yang saya ambil dari salah satu dosen saya, yang kebetulan setipe, nggak terlalu butuh banyak orang yang memahami, cuma butuh sedikit saja yang memahami dan yang tentu peduli]

Sebagian dari mereka ada yang berkata "oh jadi kamu gitu, ke temen sendiri gak mau cerita-cerita"

Memang!!!
memang saya nggak mau cerita-cerita, karena nggak semua orang bisa dekat dengan saya :)
kalau mau bilang Fika ini orangnya pilih-pilih. Ohhh ya jelas :D

Masalahnya bukan saya pilih-pilih atas dasar status sosial, kekayaan, kepintaran atau mungkin kekuasaan. Nooooo. Saya pilih-pilih karena saya tahu bahwa ada sebagian kecil yang benar-benar peduli dan ada sebagian yang hanya ingin tahu tanpa peduli. Kalau tahu pun mau apa? :)
Selain itu juga hubungan friendship.
Friendship ini adalah hubungan yang tidak berlaku untuk semua orang dihidup saya. Seleksinya ketat hehehehe. Saya terbuka dengan orang baru, siapapun dia yang ingin menjalin relasi dengan saya. Tapi bukan berarti porsi mereka itu sama :)
Karena seleksi yang ketat inilah yang berakibat, saya cuma punya sedikit teman yang peduli. Teman yang berhubungan baik sangat banyak, tapi belum tentu peduli.
Ada satu dosen, and he is the only one lecturer yang mempunyai hubungan friendship dengan saya :)
penilaian orang lain tentang dosen satu ini sih memang ada yang nggak baik, ya itu karena mereka juga tidak mengenal dia dengan baik :) hubungan dengan dosen-dosen yang lain cukup dekat, tapi tidak pada porsi friendship. Beliau juga masih satu-satu nya orang yang mempunyai hubungan friendship dengan saya selama 3 tahun kuliah di kampus saya hehehehehe. Kadang ya beliau ini jadi bapak, kadang jadi dosen, kadang jadi temen, kadang jadi kakak rohani juga, anaknya udah jadi adek (multi guna kan? hehehehehe)
Bukan hal yang mustahil kok untuk ada di posisi friendship saya. Hanya prosesnya lama dan saya butuh membangun kepercayaan terlebih dahulu.

Alasan berikutnya adalah this is privacy. Namanya juga privacy, saya hanya akan berbagi dengan mereka yang berkepentingan saja. Misalnya dosen yang pada hari itu mengajar mata kuliah yang saya berhalangan hadir, jadi saya harus memberikan penjelasan apa adanya. Itu pun masih dengan NB : jangan disebarkan ya informasinya. Harapannya supaya tetap menjadi privacy saya :)

Sooo, buat teman-teman yang menanyakan kabar saya karena saya tidak masuk kuliah. Terimakasih Banyak. Belum waktunya tahu tentang semua kejadian yang sedang saya alami. Tapi saya salut dengan kepedulian kalian. Kalian akan tetap menjadi teman baik saya :)

Selasa, 23 Februari 2016

Bertebaran Orang Baik

Kalau sekarang saya mau membuka tempat dimana saya kuliah karena disitulah kalian bisa menemukan banyak sekali orang baik :)
Saya kuliah di Universitas Ma Chung, salah satu universitas Swasta yang terkenal dengan mahasiswa yang sebagian besar adalah keturuna Tionghoa.

Tidak ada yang kebetulan kalau Tuhan menempatkan saya untuk kuliah di tempat yang bisa dibilang sedikit lebih mahal dibandingkan universitas swasta kota Malang yang lain (sedikit atau banyak itu relatif ya, saya bilang sedikit saja supaya tidak nampak terlalu signifikan hehe).

Kebaikan Tuhan tentunya kita rasakan setiap hari bukan? (saya memakai kata Tuhan saja supaya terkesan universal saja ya). Mulai kita bangun tidur sampai kita kembali beristirahat. Kalau saya pribadi nggak akan pernah bisa menghitung seberapa besar kebaikan Tuhan yang sudah terjadi dihidup saya. Bahkan saya berpikir bahwa kebaikan-kebaikan lain yang saya dapatkan asalnya dari Tuhan.

Fokus saya pada tulisan kali ini dan yang membuat saya terharu sampai meneteskan air mata saat ini ketika saya bertemu dengan banyak sekali orang baik di tempat saya kuliah.

[kalau saya boleh bercerita sedikit tentang kuliah saya, saya harus susah payah untuk bertahan dibangku kuliah, saya harus punya pekerjaan, saya harus dapat beasiswa, saya harus magang dan lain-lain pun saya kerjakan supaya saya bisa bertahan menyelesaikan study S1 saya, kemudian saya akan lanjut S2, S3, sampai nama depan saya akan mendapatkan tambahan Prof. Fika Handani. Ada cerita lain dibalik keinginan saya menjadi seorang Profesor wanita hehehe, next time saya akan bercerita dalam blog yang sama]

Susah payah bukan saya sendiri yang menanggung, orang tua, teman, dosen bahkan staff Universitas memberikan andil yang cukup besar dalam kehidupan perkuliahan saya. Beberapa poin yang saya tuliskan berikutnya adalah bagian yang sangat kecil dari kebaikan yang saya terima selama kuliah di Universitas Ma Chung

1. Bertahan sampai semester 2 dan semester-semester berikutnya karena dibiayai oleh Dosen Pembimbing Akademik.
Judulnya mellow banget ya? Hehehe. But it is true. Kalau sekarang saya bisa sampai duduk disemester 6 salah satu hal yang sangat berpengaruh adalah "saya dibayari dosen saya untuk biaya kuliah". Kebetulan Dosen ini adalah Dosen Pembimbing Akademik saya yang baru kenal saya satu semester karena saat itu saya masih semester satu dan masih dalam proses lanjut ke semester 2.

Ceritanya, saya memang kuliah ditempat yang mahal (mahal buat ukuran saya). Memang saya mendapat beasiswa, tapi beasiswa itu tidak akan mengcover semua kebutuhan kuliah saya. Bahkan untuk menutup biaya kuliah saja nggak cukup kok. Sesuai dengan kebijakan Universitas, mahasiswa harus melunasi tanggungan biaya semester sampai bulan tertentu untuk bisa melakukan KRS (buat yang nggak tau KRS, KRS itu adalah Rancangan Study yang harus disusun untuk perkuliahan satu semester berikutnya. Isinya kita mengambil mata kuliah yang kita sendiri kehendaki untuk study berikutnya). Tanggungan saya saat itu 7 digit angka yang harus dilunasi. Hal yang membuat saya punya tanggungan sebesar itu karena Papa saya sakit yang otomatis berpengaruh ke pembayaran kuliah saya. untuk 7 digit itu saya sudah mengajukan dispensasi kepada pihak Universitas, tapi akhirnya tidak disetujui.

Hari demi hari berjalan dan hari terakhir validasi untuk Dosen Pembimbing Akademik akan segera berakhir, sampai satu titik hari itu 14 Februari 2014 adalah hari terakhir validasi dan saya belum menyusuk KRS sama sekali. (saya ingat betul tanggalnya karena hari kasih sayang dan tanggal yg berkesan buat saya). Ditanggal yang sama pula, Dosen saya mengirim SMS ke saya dan menanyakan "kenapa kamu belum validasi? Kalau bisa hari ini jam 10 keruangan saya". Jangan tanya beliau tau nomor HP saya dari mana karena saya sampai sekarang juga nggak tau beliau dapat dari mana.

Karena saya mendapat pesan seperti itu saya pun datang tepat waktu keruang beliau. Saya menceritakan semua kendala saya kenapa saya belum menyusun KRS dan belum validasi. Saat itu juga Dosen saya bertanya "uang mu kurang berapa?" Saya menjawab sejumlah 7 digit tadi. Dan hanya dengan kepercayaan, beliau memberikan 7 digit tadi ke saya dan berpesan "Segera transfer ke Yayasan, urus ke bagian keuangan, susun KRS dan validasi kesini lagi. Kamu pakai saja uangnya, kembalikan kalau kamu sudah ada". Saya speechless dan datang ke bank untuk transfer uang itu dengan berlinang air mata sepanjang jalan.

[sebenarnya ada satu cerita lagi. saya sudah mendaftar di universitas lain yang biayanya tidak semahal universitas saya saat ini hehehe]

2. Pengalaman yang tak ternilai dari para staff Universitas
Kalau bilang staff universitas, staff itu banyak. Bahkan saking banyaknya saya kenal mereka tapi saya nggak tau namanya hehehe. lebih tepatnya saya lupa namanya. Ada salah satu direktorat yang sangaaaaaaaattttt berkesan selama saya kuliah disini. Direktorat ini memang direktorat yang dekat dengan mahasiswa karena urusan mereka adalah seputaran mahasiswa. Terlebih saya yang suka berkenalan dengan orang baru, sangat interest untuk mengenal mereka lebih dekat.

Ngopi, makan indomie, jalan-jalan, diskusi, rapat dll agenda yang sering kami lakukan bersama. Sampai satu titik yang mana saya diberikan sebuah kepercayaan memimpin event Universitas Terbesar sepanjang masa hehehehe. Jadi ditahun kedua (semester 3), karena saya diberikan tanggung jawab dan kepercayaan dalam hal ini, saya jadi punya pengalaman bagaimana rasanya mahasiswa tahun kedua yang belum tahu apa-apa untuk mempresentasikan event ini yang biayanya 9 digit angka didepan pimpinan Universitas.

Ahhh, iu hanya sebagian kecil pengalaman. Karena capeknya saya menghandle event ini (yang juga dibantu banyak pihak) finally saya harus masuk IGD untuk yang pertama kalinya hehehe. Tekanan darah saya terlalu rendah dan terlalu sering pulang malam, akhirnya saya sakit pada paru-paru saya hehehe. Mereka tinggal diam? Nooooo, mereka menemani saya dan keluarga daya. It is awesome moment :)

3. Dosen yang sudah seperti seorang Bapak bagi saya
Kalau moment ini saya rasa akan berlangsung sampai saya lulus nanti hehehe. Dosen yang udah kayak Bapak sendiri wkwkwkwk. Banyak yang iri, tentu saja karena kedekatan kami. Kami bisa dekat mungkin karena kami punya beberapa kesamaan (moody, simple, sederhana dll).

Awal kedekatan kami terbilang cukup unik hehe, awalnya karena saya ini bukan mahasiswa yang pinter-pinter banget. Jadi saya suka gangguin dosen ini untuk meminta bimbingan private tentang hal yang saya masih belum ngerti. Saking seringnya, dosen ini lama-lama hafal dan dalam hatinya pasti bilang "yahhhh fika lagi -__-"
Kalau belajar aja ya pasti bosen kan, kami menyelingi belajar kami dengan bercandaan sederhana yang lama-lama bercandanya jadi gak karuan hehehehehe.
Beliau ini ya tempat curhat, tempat cari inspirasi, tempat ngadu dll. Seringnya sih beliau tempat memperbaiki mood kalau saya lagi bad mood.
Lama-lama semua udah tau kalau saya yang paling dekat dengan beliau. Sampai suatu saat beliau cuti dan yang dicariin itu saya "Fik. bapak mu kemana?" Hahahahahaha.....

4. Teman sekampus yang selalu care
Tidak akan lengkap kehidupan ini tanpa ada teman. Dengan ekspresi saya saja, sebagian besar teman saya bisa mengetahui suasana hati saya hahahaha. Kayak paranormal aja ya. Ya mereka tahu kapan saya bisa diajak bercanda dan kapan saya sedang serius. Saya menyadari kalau saya ini orang yang pilih-pilih kalau berteman. Pergaulan akan menentukan perilaku mu :)
Saya cuma punya beberapa teman saja, atau tepatnya yang saya anggap teman untuk saya bisa bercerita dan berbagi pengalaman. Tapi saya acungkan jempol buat teman-teman saya yang baiknya ngalah-ngalahi kebaikan saya ke mereka. Saran saya, pilih-pilihlah salam berteman, tapi hal ini bukan berarti anda adalah orang yang sombong.

5. Pejabat Kampus (Wakil Rektor) yang Humble nya luar biasa
Sepele, bapak ini tahu kalau saya magang di gedung yang sama dengan beliau. Hujan yang deras memberikan pengalaman buat saya dan beliau. Setelah beliau ngajar dan saya selesai kuliah dan harus kembali ke kantor, saya dihadang oleh Hujaaaaaan. Dengan ramah yang luar biasa beliau ini menawarkan "kamu mau bareng saya? saya bawa mobil supaya tidak kehujanan"

Saya tidak tahu seberapa banyak wakil rektor yang akan melakukan hal ini kepada mahasiswanya :)

6. Silent but Always Care
Buat dia yang diam dan cuek tapi saya tahu dia pedul dan memperhatikan saya :)

Tulisan ini hanya sepenggal dari kebaikan-kebaikan yang saya terima. Saya cuma mau berpesan bahwa masih bertebarang orang baik disekitar kita. Jadilah Baik :)

Jumat, 19 Februari 2016

Tidak Harus Sama!

Menggunakan sosial media secara terus menerus adalah hal yang salah. Hmmm, pro kontra mengenai statement ini bukan? Saya setuju kalau menggunakan media sosial secara terus menerus DAN tidak pada tempatnya bukanlah hal yang baik. Iya memang sih, bayangkan aja kalau kita sedang bersama dengan teman, sahabat atau keluarga tapi kita juga sibuk dengan gadget kita. Membuat orang yang bersama dengan kita "sebel" dengan sikap kita bukan?

Kalau boleh jujur, saya salah satu orang yang nggak bisa lepas dari gadget saya. Bahkan ada satu kisah ketika saya pergi makan siang bersama dosen favorite saya, saya tetap membawa gadget saya dan memainkan gadget ketika saya ngobrol santai dengan beliau. Beliau sih nggak masalah dengan sikap saya (atau seharusnya sebel hanya tidak diungkapkan saja), cuma yang jadi masalah adalah etika saya yang saya nilai sendiri kurang baik untuk siang itu. Saya pun baru menyadari hal itu ketika makan siang bersama dengan dosen saya telah usai. Saran saya jangan dicontoh sikap semacam ini.

Saya bukan pecandu media sosial, yang saya rasa saat saya menuliskan sesuatu di media sosial atau blog semacam ini itu merupakan bentuk luapan emosi saya. Toh saya juga jarang sekali bahkan bisa dibilang tidak pernah membuat sebuah tulisan yang merugikan orang lain :)

Saya akan baik-baik saja walaupun situs media sosial di tempat saya bekerja di block. Asalkan jangan internetnya saja yang dimatikan hehehehe. Hanya saja, saya ini orang yang cepat dalam memberikan respon terhadap sesuatu. Bahkan saya menilai diri saya sendiri menjadi orang yang mudah dihubungi dengan via apapun. Mulai dari BBM, Line, Whatsup, Email atau SMS sekalipun.

Saya pengangguran? BIG NO! saya punya banyak pekerjaan untuk dilakukan walaupun saya juga cepat memberikan respon kepada orang yang menghubungi saya. Jadi kalau saya dibilang pengangguran karena bisa merespon dengan cepat, ya saya sedikit tersinggung. Alasan saya untuk merespon segala sesuatu dengan cepat itu berawal dari pekerjaan saya sebagai pemilik konveksi yang baru saja berkembang. Kalau ada orang order barang dan saya merespon dengan lama saya akan kehilangan kesempatan dalam pekerjaan saya. Rutinitas itu yang akhirnya membentuk saya jadi orang seperti ini. Bahkan sampai sekarang saya tetap jadi orang yang fast response walaupun kadarnya tidak untuk mereka yang sekedar menanyakan "kamu lagi apa?" atau "kamu sudah makan apa belum?".

Saya tidak harus menjadi sama dengan mereka yang mematikan semua HP dan internet ketika bekerja. Kalau memang yang lain mau fokus dengan pekerjaan tanpa terganggu HP ya silahkan. Saya setuju dengan hal itu, tapi bukan berarti saya setuju dan harus diterapkan kepada saya.

Menjalankan konveksi saya dengan orderan yang bisa datang kapan saja, pekerjaan magang saya untuk memenuhi kebutuhan kuliah saya dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa itu bukan hal mudah (semudah membalik telapak tangan) untuk dijalani :)

Saya cuma mau menjadi diri sendiri saja, tanpa saya ikut-ikutan karena komentar kalau saya adalah pengangguran yang bisa balas chat dengan cepat :)

Rabu, 17 Februari 2016

Membuat Bahagia (Masih Tentang Monyet di Pinggir Jalan)

Seminggu ini sudah rutin saya berangkat lebih pagi dari sebelumnya membawa 2-3 buah pisang yang saya berikan kepada monyet di pinggir jalan, aku mau kasih nama monyet ini Si Jack. (Jika terjadi kesamaan nama itu hanya kebetulan semata :p )

Si Jack, sudah mulai hafal dengan saya yang setiap pagi berhenti didepan kandangnya dan memberikan pisang. Kalau saya datang Si Jack langsung berdiri dan menunggu saya mengambil pisang dari dalam tas sambil melihat dan senyum (senyum khas nya monyet yang menggemaskan itu).

Karena kandang Si Jack memang berada ditengah jalan, otomatis banyak yang melihati saya ketika saya berhenti didepan kandang Si Jack selama seminggu ini (I don't care with their opinion about my new activity). Ada yang sekedar menengok kearah saya, ada yang melihat sambil tersenyum dan ada yang tidak peduli sama sekali hehehehe.

Pagi ini (18 Februari 2016), saya berhenti tidak sendiri. Ketika saya berhenti dikandang Si Jack awalnya saya sendirian saja. Memberikan pisang pertama dan melihat Si Jack mengupas pisang dan memakannya. Tidak berselang lama, ada 2 ibu-ibu datang dan berhenti disebelah motor saya. Mereka tidak membawakan makanan, tapi saya tahu kalau mereka juga punya rasa peduli kepada mahluk ciptaan Tuhan. Awalnya saya sempat berpikir kalau Si Jack adalah milik mereka tapi ternyata bukan.

Saya melontarkan pertanyaan
"ini punya siapa ya buk?"
"Wah saya juga nggak tau, kasian ya mbak ditaruh disini campur sampah. kok gak ditaruh dikebun binatang atau dimana gitu ya mbak?"
"yang ngasih makan siapa buk?"
"Ya sesukanya orang mbak, kalau ada yang kasihan yang dikasih makan tapi kalau enggak ya gak ada mbak, mbak sendiri ngapain disini mbak?"
"Oh saya kebetulah lewat, mau ke kampus. sekalian saya bawakan pisang buk, hampir seminggu ini lah saya berenti disini terus"
"Hmmm, kalau begitu mbak ngasih makan pagi saya yang sore mbak, rumah saya agak jauh sih dari sini, sekitar 20menit'an. jadi kita gantian ngasih makan monyet ini"
"Ooh iya boleh buk, cuma saya kalau Sabtu Minggu libur ke kampusnya, saya masih belum tau bisa atau enggak 2 hari itu. rumah saya ya lumayan jauh dari sini, sekitar 30menit hehehe, didaerah Wagir" 
"Gapapa mbak, sabtu minggu nanti biar saya aja yang ngasih makan, orang-orang ini berdosa kok mbak ngurung monyet disini tapi gak dirumat"
"hehe iya buk"

Bukannya saya sok baik atau gimana sih, untuk ngasih makan monyet ini setiap pagi saya cuma mengeluarkan 10 ribu rupiah untuk satu minggu (dengan kualitas pisang yang layak makan, dan Si Jack makan 2-3 pisang setiap pagi selama satu minggu). Dibandingkan dengan pengeluaran saya untuk makan 3 kali sehari, penggunaan listrik, penggunaan air, pulsa, paket internet, jajan, pergi main sama temen, penggunaan barang-barang elektronik, kendaraan, bedak, lotion, shampo, sabun, deodoran, pewangi, pakaian dan mungkin kalau kalian bisa ngelist kebutuhan saya yang lain akan menjadi lebih banyak lagi kan?

Ya tapi kan kamu manusia Fik, Si Jack kan binatang?
Terus kalau Si Jack binatang apakah dia layak diperlakukan seperti itu? bukannya Si Jack ini sama-sama ciptaan Tuhan ya?

Apa saya masih bisa dibilang baik dengan perbandingan kebutuhan seperti tadi? Hehehehe. Baik karena Tuhan terlebih dahulu baik. Saya bisa bernafas setiap hari tanpa harus membayar. Kalau sekali nafas aja bayar saya udah miskin sejak dulu hehehehe.

Bahagia hari ini karena saya masih bertemu dengan orang yang sama-sama mau peduli dengan sesama mahluk Tuhan (hewan). Saya masih berharap bisa bertemu dengan orang lain yang sama-sama peduli, dan harapan lebih lanjutnya bertemu dengan orang yang tahu bagaimana caranya supaya Si Jack bisa pindah kandang ke kandang yang lebih baik.

[kalau boleh sih saya mau pelihara, cuma rumah masih tinggal dirumah orang tua dan saya tahu pasti tidak akan diijinkan, Papa pernah bilang "silahkan ngasih makan, tapi jangan minta supaya dibawa pulang" Ahhh yasudah lah, Papa udah ngasih lampu merah]


Selasa, 16 Februari 2016

Peraturan Telefon (Doing Silly Thing)

[Again, saya lagi capek ngerjakan rutinitas dikantor dan memilih untuk ambil waktu sebentar buat nulis hehehe]

Sebenernya bikan capek sih, hanya bosan saja dengan rutinitas yang saya lakukan setiap hari dikantor. Datang - Nyalakan Komputer - Cek Email (walaupun udah jelas sinkron dengan Smartphone) - Buka Sosmed sekilas (langsung tutup) - angkat2 telfon sampek bosan - coding (kalau pas iseng dan atasan lagi gak liat).

Sesuai dengan judulnya, saya lagi pengen curhat dengan gaya telfon orang-orang dikantor saya (dari unit lain yang membutuhkan sesuatu dari unit saya).

Jadi percakapan telefonnya salah satunya begini
(kriiiing... kriiing... kriiiing)
Fika : Halo selamat pagi (tergantung pagi, siang atau sore)
X : Halo fik, eh minta tolong Pak X suruh benerin komputer tempat saya yaa, makasi fik..
Fika : emmm.. ini...
(jbraaaaaakkk) langsung tutup telefon dari sononya

Kalau enggak begini
(kriiiing... kriiing... kriiiing)
Fika : Halo selamat pagi (sekali lagi tergantung waktu)
Y : Halo fik, Pak X ada?
Fika : Oh lagi keluar, ada pesan yang mau disampaikan?
Y : Gini aja deh nanti kalau udah dateng suruh telfon balik saya ya, makasi fik.
Fika : emmm.. ini...
(jbraaaaaakkk) langsung tutup telefon dari sononya

Sudah bisa menebak apa masalahnya? Hehehehehe. Kalau bisa menebak mungkin anda adalah orang yang pernah mengalami nasib seperti saya hehehehe.
Ya mana tau saya itu telfon dari siapa?
Iyaa mereka taunya kalau telfon ke unit tempat saya bekerja kalau suara nya cewek bukan lain adalah "Fika" (iya saya satu2nya cewek di unit tempat saya bekerja dan jelas saya yang paling cantik) hehehehe. Lah saya? Yang telfon sampai puluhan dan saya masih belum genap sebulan ada di unit ini hehehehe. Saya tuh cuma bisa mengenali 2 orang saja tanpa mereka harus mengatakan itu siapa (satu wakil rektor yang suaranya ketara banget dan satu lagi pimpinan unit kemahasiswaan yang sering ngobrol), yang lainnya mah hehehehe.. kagak tau.. :p

Pengen deh saya buat peraturan yang disebarkan lewat email Kampus
"Dear all staff, pimpinan dan seluruh civitas ***, tolong yaaa kalau telfon sebutkan nama dan dari unit mana, karena di unit saya yang sering angkat telfon cuma saya dan saya nggak hafal suara orang sekampus" Hehehehehehe

Ini postingan cuma bercandaan, jangan dianggap serius. I just Doing Silly Thing. hehehehe :)



Kamis, 11 Februari 2016

Monyet Di Pinggir Jalan

Sebulan terakhir ini saya berangkat ke kampus selalu diantar oleh Papa. Ya karena sekalian sih tempat kerja Papa dan kampus saya sejalan yaudah deh mending jadi satu aja. Karena Papa yang bawa kendaraannya Papa melewati jalan pintas yang memang jalan itu jauh lebih efektif dibandingkan lewat jalan besar biasanya.

Dipinggir jalan yang saya lewati itu ada kandang Monyet (monyet ini beneran monyet, bukan karena saya pengen nyindir, tapi saya memang mau bercerita tentang monyet). Setelah sebulan lamanya saya berangkat dan pulang selalu melihat monyet itu yang terkurung didalam kandang (entah apa dosanya jadi harus dikurung), saya mulai merasa kasihan pada mahluk Tuhan yang nggak berdosa ini.

[kalau kalian orang Malang dan pengen liat beneran coba lewat jalan pintas yang menghubungkan antara Lembah Dieng dan Villa Puncak Tidar, kalau ada kandang dipinggi jalan nah itu satu-satu nya kandang sepanjang jalan itu]

Kemarin sih sebelum pulang saya minta Papa berhenti sebentar diwarung yang jual Pisang ketika Papa jemput saya dikampus. Terus Papa tanya
"Kok tumben? biasanya kan suka Apel bukan Pisang?"
"Enggak Pa, ini mau beliin monyet yang dikandang sana, besok pagi mau aku kasih makan"
"Ohh..." (dengan muka nya Papa yang biasa-biasa aja)

Besok paginya, tepatnya hari ini (12 Februari 2016) saya ngajak Papa berangkat lebih pagi dari biasanya, ya seperti tujuan sebelumnya saya mau ngasih Pisang buat si monyet.

Untuk yang pertama kalinya saya berhenti di Kandang Monyet itu. Saya speechless ketika saya benar-benar melihat keadaan monyet itu
1. Bau Kandang monyetnya bener-bener nggak enak (musim hujan, becek, campur kotoran monyet, sampah dibawah kandang karena yg ngasih makan selain saya mungkin ada bungkus plastiknya)
2. Kondisi Kandangnya Jelek (ayunan patah, besi kandangnya berkarat)
3. Kondisi monyetnya kasian, kulit tubuhnya banyak yang terluka (keliatan merah-merah seperti terlalu lama duduk dan tinggal ditempat yang lembab)

Monyet itu menerima pisang yang saya kasih dan melambaikan tangannya (may be mau bilang, xie xie wo ai ni cieeeee.. wkwkwkwk apa an sih). Tapi karena pagi ini pertama kalinya saya dateng ke kandangnya dan liat si monyet secara langsung jadi saya mah nggak berani jabanin lambaian tanggannya yang posisi pengen salaman sama saya.

Saya sih nggak yakin dengan perasaan kasian saya ke si monyet, karena saya nggak tau tuh monyet memang seharian disitu atau sebenernya ada yang punya cuma kalau pagi-sore ditaruh situ atau seperti apa saya nggak tau pastinya. Saya hanya berpikir dia ini sesama mahluk Tuhan yang tetep harus dihargai keberadaannya.

Pikiran saya saat itu
1. Kenapa si monyet ini nggak dilepas aja ke hutan supaya bebas aja sih?
2. Ya kalau memang hutannya udah habis taruh aja di kebun binatang atau suaka marga satwa udah jelas ada yang merawat kan?

[Mungkin yang ngasih makan bukan cuma saya ya, terbukti banyak sampah plastik dibawahnya yang sepertinya bekas orang lain ngasih makan sampahnya ketinggalan disitu. Usul kongkrit kalau memang ada temen-temen yang minat ngasih makan monyet dipinggir jalan kasih aja buah, jangan yang berbungkus plastik karena plastiknya malah semakin numpuk sampah disana]

Maybe perasaan kasian ini semakin kuat karena saya juga pecinta binatang, apapun. Kecuali yang berbahaya semacam buaya, macan, harimau (bukan berarti benci, cuma takut aja sih hehe, kalau mereka bisa baik yang saya bakalan baik juga).

Buat yang punya kalau memang tulisan ini salah ya saya minta maaf karena saya tahunya cuma tahu dari apa yang tiap pagi dan sore saya lihat hehehe. Good Luck Nyeeet!