Kamis, 22 September 2022

Cara yang Ajaib

 Bekerja disalah satu instansi pemerintah, bukan hal yang pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Sampai disatu titik, semuanya itu mungkin saja terjadi. Tidak ada yang mustahil.

Dengan background keluarga yang sederhana dan tidak memiliki "koneksi orang dalam", harapan untuk menjadi pekerja di instansi pemerintah tentu sangat kecil. hanya benar yang dikatakan Firman Tuhan, apa yang tidak pernah didengar oleh mata dan yang tidak pernah timbul didalam hati, itu yang sudah disediakan Tuhan untuk kita.

Aku menikmati setiap hari aku bekerja, bertemu dengan berbagai masalah, orang baru. banyak pengalaman yang aku dapatkan setiap harinya. Suka dan duka yang sering aku rasakan, aku menikmati setiap harinya.

Sampai disatu titik, ada peraturan baru bahwa ada kemungkinan aku tidak bisa lagi lanjut bekerja di instansi ini. Ya, peraturan pemerintah memang terus berubah. sempat down dan putus ada, Puji Tuhan orang-orang disekitarku adalah orang-orang yang begitu menyayangi aku. Aku punya kekasih yang selalu memberikan dukungan, sehingga aku masih tetap bisa semangat setiap harinya.

Aku bercerita kepada beberapa rekan kerja disini. Ya, saat ini memang semua orang sedang menyelamatkan diri mereka masing-masing. Mencoba mendaftar di akun BKN, menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Entah cerita dan keluh kesahku terdengar seperti angin saja bagi mereka. Mulai nampak, mana yang peduli dengan aku dan yang tidak peduli dengan aku.

Yasudah, kalaupun memang hanya satu tahun aku berkarya di instansi ini, akubersyukur. Paling tidak aku punya teman-teman yang baru, pengalaman baru dan banyak hal baru yang aku pelajari disini.

Hanya Cara Tuhan yang ajaib yang saat ini aku nantikan. Ya, Tuhan pasti punya cara yang Ajaib.

Aku percaya bahwa Tuhan punya cara yang Ajaib dengan masa depanku.


Minggu, 17 April 2022

Setelah 5 Mei 2020

 Dua tahun, aku tidak menulis pada halaman ini. terlalu sibuk dengan aktfitas dan pekerjaan yang baru. Aku menikmati dunia baruku, dengan semua pekerjaan dan pencapaian yang aku kerjakan.

Dua tahun berjalan, aku mendapat dua kisah yang cukup berkesan dihidupku. Kehadiran dua orang secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu yang begitu singkat. Yang mengangkat aku sampai ke langit, kemudian melepaskan aku begitu saja. Aku sudah terbiasa dengan berbagai macam luka yang diberikan kepadaku. Menurutku kasih kepada sesama dan cinta Tuhan kepadaku, itu yang membuat aku tidak sedikitpun mempunyai rasa benci atau dendam kepada mereka yang telah melukai aku.

Atau?
jangan-jangan hanya aku yang merasa dilukai? mungkin bagi mereka hal itu biasa?
Atau?
memang aku yang dilukai oleh harapanku sendiri?

Orang pertama, aku pernah melihatnya dr jauh. dia adalah teman kuliahku yang tidak dekat denganku. aku hanya tau siapa namanya. selain itu,aku tidak peduli apapun tentangnya. dua tahun setelah kami sama-sama lulus, dia tiba-tiba datang kepadaku, seakan kami adalah teman dekat. Banyak pelajaran hidup yang dia berikan kepadaku. Hmm, mungkin termasuk bagaimana seharusnya aku menyikapi orang-orang baru yang mencoba masuk dalam kehidupanku. Memang tidak seharusnya aku membuka pintu untuk orang-orang baru.

Orang kedua, orang yang baru saja aku jumpai 2 minggu yang lalu. Aku senang karena dia menjadi salah satu alasan mengapa aku harus tertawa dan tersenyum.

Mungkin, saat ini aku belum bisa menuliskan lebih detil tentang orang kedua ini.
Jika memang dia special, mungkin jariku akau menulis sesuatu untuk dia. Jika memang dia tidak special, mungkin aku akan segera melupakannya.

Aku tidak tahu, dia special atau tidak. We never know. Until I write again in this site.

Jam komputer kantorku masih menunjukkan pukul 10.26 WIB artinya ini masih jam kerja, tapi entah aku hanya ingim bercerita tentang aku dan kisahku.


Selasa, 05 Mei 2020

Dominan

Ada istilah dominan dan submisif. Dominan berarti sesuatu yang berkuasa dan bisa memberikan banyak pengaruh ke lingkungannya. Bisa juga dianggap sebagai salah satu ciri seseorang yang tidak mudah tunduk atau takluk dengan sebuah kondisi.

Kalau di generalisasi secara gender, dominan biasanya identik dengan cowok dan submisif berarti identik dengan cewek. Bener gini ngga?

Ini adalah kali pertama saya menuliskan sisi dominan saya tanpa saya sadari. Kalau saya pikir-pikir, saya adalah perempuan yang maskulin alias dominan. Gimana caranya tau seseorang itu maskulin? Atau coba kita bahas dulu seorang cowok yang punya sisi maskulin kuat atau sisi maskulin yang rapuh.

Cowok itu senang dianggap maskulin atau dominan. Rebel, ngga suka diatur dan suka ngebantah. Tapi, sebenernya kita bisa banget tau mana cowok yang sisi maskulinnya kuat dan mana cowok yang sisi maskulinnya ternyata rapuh.

Kalau dari aku cukup mudah. Coba kalau dekat dengan seorang cowok, sampaikan sesuatu yang itu benar dan logis.

Contoh
"Kamu jangan telat makan ya, nanti kamu sakit"

Benar dan Logis.

Bedanya, kalau cowok yang beneran dia maskulin, dia akan terlebih dahulu mepertimbangkan apa yang dikatakan oleh lawannya, entah itu cewek atau cowok. Dia akan memperhitungkan pendapat itu kalau memang benar dan logis. Kalaupun memang mau ngebantah, dia akan memiliki sebuah data yang dapat dipertanggung jawabkan.

Contoh
"Iya terima kasih, tapi aku sedang mengurangi karbohidrat karena belakangan ini berat badanku naik, aku pun juga sedang menjaga kesehatan"

Kalau cowok yang sisi maskulinnya rapuh, nomor satu yang dia akan lakukan adalah ngebantah dulu. Apalagi kalau yang ngomong cewek, apapun yang diomongkan oleh cewek pasti salah dan akan menilai kalau cewek itu ingin menguasai kehidupannya :)

Contoh
"Aku ga suka diatur-atur"

Udah paham? Next kalau cewek yang dominan gimana?

Saya adalah cewek maskulin atau cewek dominan. Saya suka bikin ulah, rebel, suka ngebantah dan ngga mau nurut kalau dia asal ngomong. Bukan berarti saya ngga taat aturan, saya orang yang cukup disiplin dan taat aturan. Hanya untuk aturan-aturan yang buat saya itu logis.

Saya menyadari saya dominan sejak saya SMA. Saat itu papa mama saya sudah mendaftarkan saya disalah satu Sekolah Swasta dan sudah dibayar lunas. Hari pertama masuk saya bolos, saya ngga pernah mau ikut ospek, selesai masa orientasi saya masuk sehari dan keluar dari sekolah itu. Rebel dan ngga mau diatur. Saya pergi dan pilih sekolah sendiri, daftar sendiri. Alasannya cukup kuat. Pertama, saya ngga suka lingkungan sekolah, saya yang belajar jadi saya yang harus nyaman. Kedua, teman2 lingkungan sekolah punya habit atau kebiasaan yang kurang baik, ngerokok, pakaian ngga rapi dan saya ngga suka dengan style yang acak-acakan.

Kemudian masuk Kuliah Papa sudah daftarkan saya di salah satu Kampus Negeri di Bali. Udayana dan saya sudah sah menjadi mahasiswa Udayana. Minggu depan seharusnya saya berangkat ke Bali. Saya cancel semuanya dan saya daftar di Universitas Swasta di Kota Malang. Sampai Papa marah dan ngga mau dateng ke acara Parents Day's. It's OK, saya dateng sendiri. Alasan yang saya miliki juga cukup kuat. Pertama saya orang Malang, kalau saya ke Kota orang saya akan jauh dari teman-teman saya dan saya akan memiliki lingkungan baru disana, saya perlu adaptasi lagi. Kedua, nanti ketika lulus saya balik ke Malang saya akan kehilangan 4 tahun (kalau masa kuliah tepat waktu) masa saya menjalin hubungan sosial. Artinya ketika balik ke Malang nanti saya akan mulai dari 0 lagi. Ngga punya kenalan temen yang sekampus dan bakalan kesulitan buat sosialisasi ditambah saya yang cukup introvert. Beda kalau saya kuliah di Malang, kebanyakan relasi saya juga orang Malang dan ketika saya kuliah di Malang otomatis relasi saya juga akan makin kuat. Bener ngga?

Alasan lain adalah bagaimanapun juga saya perempuan yang senang dekat dengan keluarga dan cukup rawan kalau saya harus di luar kota sendiri tanpa orang tua. Plus saya tipe orang yang susah percaya orang lain, bakalan susah saya bertemu dengan orang yang sungguh care dengan saya kecuali keluarga saya. Toh meskipun nantinya saya yakin bisa bertahan hidup di Kota orang tapi ada satu sisi yang ngga bisa digantikan adalah kedekatan dengan keluarga.

Sampai sini paham alasan kenapa saya ngebantah?

Satu lagi hal yang sampai sekarang masih saya inget, ke guru yang ngga masuk akal pun saya ngebantah. Ketika SMA saya SELALU bolos pelajaran agama hehe. Bukan berarti saya ngga beragama atau menentang hal-hal yang berbau agama. Tetapi cara penilaian yang menurut saya ngga masuk akal. Bayangin aja ya, saya ketemu sama guru agama seminggu sekali dan hanya 2 jam paling lama. Kemudian saya dikasih tugas menghafal ayat-ayat dan keimanan saya ke Tuhan dinilai dengan hanya sebatas angka diatas kertas. Yang bener aja orang yang ketemu saya seminggu sekali dalam waktu 2 jam bisa menilai keimanan saya?

Beda cerita kalau saya disarankan oleh seseorang yang itu bener dan logis. Bisa diterima dengan akal sehat, saya tentu saja akan dengan mudah bilang "iyaa terima kasih"

Contoh
"Kamu jangan mudah percaya sama orang karena ngga semua orang itu baik, kamu harus jaga diri"

Benar dan Logis.

Sebenernya, dominan atau ngga dominan itu bukan tentang masalah suka ngebantah dan sok berkuasan atau sok hebat. Tapi lebih ke apa alasan kamu tidak setuju dan bagaimana kamu bisa mempertanggung jawabkan tindakan yang kamu ambil.

Nah, saya kalau ngga dibatasi dengan pengenalan kebenaran Firman Tuhan, mungkin saya pun akan menjadi perempuan yang suka berontak dan bakalan jadi cewek yang sombong + tinggi hati. Kenapa? karena pada dasarnya saya adalag cewek dominan atau cewek maskulin.

Btw, maskulin atau feminim bukan hanya bicara tentang macho dan pakaian serba pink ya, tetapi juga tentang sikap dan pola pikir.

In the end, saya pun sadar kalau posisi saya bagaimanapun juga adalah perempuan yang ada masanya saya harus tunduk dengan otoritas :)

Jumat, 01 Mei 2020

Dua Sisi

Sebelum saya menulis sesuai dengan isi dari konten sesuai dengan judul, saya kembali mengubah kata ganti orang pertama yang dalam beberapa post adalah "aku", saya kembalikan menjadi "saya". setelah saya baca-baca kembali hasil tulisan saya yang menggunakan kata ganti orang pertama aku dan kata ganti orang pertama saya, rasanya lebih bagus kalau kata ganti orang pertama adalah saya.

"Kalau aku semakin dekat sama kamu, aku akan cemburu kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, mungkin juga karena hatiku yang terlalu sensitif" ucap salah satu rekan laki-laki saya.

Saya hanya berteman dengan dia, tanpa ada komitmen dan bagi saya hubungan kami seperti hubungan pertemanan saya dengan rekan-rekan yang lain. Lalu, saya cukup kaget ketika dia mengatakan hal tersebut. Kalau saya pikir-pikir, sejak kapan dia menganggap saya lebih dari yang lain?

Saya kembali flashback dan mengingat apa yang sudah saya lakukan kepada rekan saya ini, karena pada dasarnya orang tidak mungkin terluka kalau hanya dari satu sisi. Coba saya ganti istilahnya bukan terluka tetapi merasa kehilangan. Seseorang yang merasa kehilangan tidak mungkin hanya berasal dari satu sisi. Pasti ada sisi lainnya yang membuat seseorang tersebut merasa kehilangan.

Sama halnya dengan saya ketika saya merasa kehilangan seseorang yang saya kasihi, kalau tidak ada respon, tidak ada komunikasi yang cukup intens dengan seseorang tersebut tentunya saya pun tidak akan merasa kehilangan ketika sudah tidak ada komunikasi kembali.

Dari kejadian saya dengan salah satu rekan saya ini, saya kembali instropeksi diri saya sendiri, kalau memang seharusnya ada jarak dari awal. tidak perlu setiap hari saya lakukan komunikasi supaya sisi yang lain tidak merasa kehilangan.

Saya pun mulai menjaga jarak dengan beberapa rekan laki-laki saya yang seringkali menghubungi saya entah itu karena pekerjaan atau rekan kuliah. Ya, saya seorang perempuan teknik yang kehidupan saya sehari-hari didominasi laki-laki. Sebagian besar teman saya adalah laki-laki.

Terkadang saya juga tidak mengerti jalan pikiran laki-laki. Meski hampir setiap hari saya bergaul dengan laki-laki. Ada yang dia care kemudian menghilang, ada yang perhatian kemudian cuek, ada yang cuek sebenarnya ingin diperhatikan dan lain-lain.

Apapun itu, sesuatu bisa terjadi karena dua sisi. Sisi pemberi dan sisi penerima.
Seseorang tidak mungkin merasa diperhatikan jika tidak ada sisi yang memberi perhatian.
Seseorang tidak mungkin merasa kehilangan jika tidak ada sisi yang sebelumnya pernah ada :)

Minggu, 26 April 2020

Salah Junior atau Salah Senior?

Hampir genap 2 bulan saya kembali ngoding dan tiap hari ngoding, bukan ngoding yang abal-abal tapi ngoding yang beneran production dan include dalam project. Bahkan dalam kondisi hati yang kurang baik, maklum bagaimanapun saya terjun di dunia IT pun, saya tetap cewek. Kadang moody kadang ya ngga. Tapi kalau sudah di depan laptop dan ngoding, saya pastikan kalau hati dan pikiran saya ya untuk codingan didepan saya. Jadi, codingan didepan saya lebih memiliki hati saya ketimbang yang lain.

Saya bukan tipe orang kalau ngoding itu harus mahami dari 0, ngga hehehe. Kasih saya contoh file dan jalannya seperti apa, kasih saya waktu, bisa jadi waktu yang saya butuhkan lama, saya akan tracing sendiri dan saya pasti bisa buat semacam itu di kasus yang lain. Ini kerap kali saya sebut sebagai "The Power of Pokok e Ngunu". Saya sering, bahkan hampir ngga tau kenapa codingan saya jalan ehe ehe ehe :p

"Kok bisa jalan gini Fik?"
Me : Ngga tau, ya pokok e ngunu jalan

Bahkan ketika dalam project, saya dikasih satu framework frontend (dimana saya ngga familiar dengan yang namanya frontend), dimasukan dalam team project (langsung nyemplung project) dan disitu saya langsung digandengkan sama senior-senior yang udah puluhan tahun ngoding, nah saya? baru balik ngoding 2 bulan yang lalu. sebelumnya, ngga pernah ngoding sama sekali.

Seringkali pro dan kontra, kata orang kalau mau ngoding itu pahami dulu struktur dasarnya lalu bisalah masuk dalam project. Nah saya berpikiran andaikan saya bikin mobil, saya ngga perlu tau gimana cara bikin ban nya, saya perlu tau gunanya ban buat apa dan masangnya gimana, pembuat ban nya udah ada sendiri.

Nah kemarin ada satu team dalam kerjaan yang sebenernya saya orang paling baru yang nyemplung dalam team itu, ngos-ngos'an tentu saja, skill ngoding saya ngga sejago mereka yang udah lama, ada salah satu senior yang sudah lebih lama dari saya, cukup kaget ketika saya masuk dalam team develop. karena saya kebiasaan kerja dengan the power of pokok e ngunu jalan, ketika dikasih satu project dan saya udah pahami goalnya apa, saya kerjakan dengan nyari jalan semudah mungkin pokoknya sesuai dengan kondisi yang diminta.

Dibulan kedua saya gabung dengan team develop, senior saya tiba-tiba ngontak saya kalau dia sudah bukan lagi bagian dari team develop, saya masih ada dalam team develop. Secara skill, senior saya pasti jauh lebih matang, dia sudah cukup lama kerja dibidang IT.


Saya mesti merespon apa? dari awal, sepertinya dia udah mulai ngga enak kalau saya nanya masalah ini itu atau kendala ini itu. sedangkan saya, saya masih ada dalam team development. Bisa dibilang memang development project kali ini adalah project paling besar yang sedang dikerjakan.

Secara hati pastilah saya ada rasa ngga enak, apalagi sampe saya di chat personal kalau dia sudah bukan lagi team development, saya bisa apa?
Pikiran positif saya, mungkin memang bagiannya udah selesai, jadi dia tidak lagi jadi team develop. Ngga lama setelah chat itu, dia bilang kalau dia merasa tersaingi. Astaga -_-

Saya?
bagi saya, saya dikasih tugas apa, akan saya kerjakan sampai titik darah penghabisan dan harus bisa. Kalau ngga bisa gimana? ya dikerjakan sampai bisa :)

Nasib orang sendiri-sendiri :)

Senin, 30 Maret 2020

When I back to Programming World

Iyaaa, nggak salah. Finally I am back to IT World. I code everyday.

Sebulan ini aku merasakan menjadi bagian dari orang-orang IT, cielah bagian hahaha. Hueeekkk padahal nyatanya susaaah banget wkwkwk. Keliahatan keren? dalemnya ngenes, tiap hari ketemu sama error yang kadang aku nggak ngerti juga error kenapa, random nambahkan code juga nggak tau kenapa jadi jalan hahaha.

Aku meninggalkan zona nyaman yang biasanya aku lakukan? zona nyaman? iyaa zona nyaman. Sebelumnya aku bekerja sebagai tenaga pengajar di kursusan robot yang bobot kerjanya nggak terlalu sulit. Bahkan tergolong sangat gampang untuk ukuran orang yang punya basic IT.

Tergeraklah hati hambaaaa, hmmm untuk kembali lagi ke dunia IT. ngoding lagi, everyday. Beberapa orang yang tahu akan bertanya
ngapain? kan udah enak toh ngajar, waktunya fleksibel dll dll dll...

sampai kapan? sampai aku umur berapa? ku pikir, sampai umur 30 tahun mentok aku bisa ngajar, apalagi di tempat kursusan robotik yang notabene banyak anak-anak dan pasti seiring berjalannya waktu, aku akan tergeser dengan yang lebih muda kalau aku nggak punya satu skill yang bisa diandalkan. nah skill yang bisa kuandalkan saat ini ya ngoding. diluar nulis sebagai hobi. aku pikir aku bisa bertahan hidup (hmmm bertahan hidup -_-) kalau skill ngoding ku bagus.

awalnya, aku sangat exited dengan dunia ngoding soalnya project pertama yang dikasih sesuai dengan bidangku sbg backend. yang dipikirkan hanya masalah API, query, kondisi data yang diterima dan yang akan dikirim. Nggak lama dari waktu aku kerja di bidang IT, dipindahlah aku ke frontend yang buanyaak sekali pakai JavaScript. JavaScript itu juga salah satu bahasa pemrograman. menurutku bahasa pemrograman yang cukup rumit dan ketika aku kuliah dulu, bahasa ini adalah bahasa yang aku hindari hehe. Eh malah sekarang setiap hari aku harus baca ini. Hueeekkkkk.....

Sebenernya aku masih diuntungkan, soalnya aku punya partner kerja yang sangat baik. baik banget, meski sering banget bully aku dan bikin aku kesel. dia pinter dan pasti mau nolongin kalau aku butuh sesuatu, cuma dalam proses nolongin itu yang ngeselin, dia tuh udah tau errornya apa, cuma nggak segera bilang aja, nunggu aku keliatan beneran bad mood, dia ketawa dulu baru dikasih tau di jam-jam mau pulang. Kadang kita sebagai programmer emang beneran nggak ngerti itu script errornya kenapa, variable yang mana dll.

Ditambah ketika WFH karena Covid 19, ketika aku ada error mau tanya siapa? sama temen pasti dibantuin tapi ya begitu, aku harus sabar karena dia cukup ngeselin.

Kenapa aku nulis tulisan ini?
Yaaaa, karena aku lagi stuck dibagian tertentu dan nggak ngerti mau ngapain hahahaha...

Rabu, 25 Maret 2020

Social Distance - Covid 19

Covid-19, berita dimana-mana dan himbauan "stay at home" atau "tetap dirumah". Dokter dan perawat kalang kabut, kehabisan stok ADP, kerja keras menangani pasien ODP dan PDP Covid-19. Masyarakat Indonesia juga dihimbau supaya tetap dirumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan membatasi aktifitas sosial secara fisik.

Bahkan, saya pun juga menjadi bagian orang yang akhirnya bekerja dirumah. Teman-teman yang ada di Malang dan ada di luar kota pun mungkin mengalami hal yang sama. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan melakukan banyak aktifitas dirumah.

Bagi sebagian orang yang cenderung ekstrovert ini sangat mengganggu. Bosan, nggak bisa ngapa-ngapain, bingung dirumah mau ngapain, cuma makan tidur makan tidur. Wajar, kebutuhan ekstrovert memang begitu. Mereka akan merasa lebih hidup kalau rame-rame, interaksi dengan banyak orang, bergaul dan menghadiri berbagai kegiatan yang "rame". Nggak jarang juga saya dapat WA dari teman berupa keluhan kalau dia itu bosan, di kos ngapain, nonton TV ya gitu-gitu aja dll dll dll.

Tapi, buat orang introvert (count me in), ini sangat membahagiakan hehe. Kita nggak perlu basa-basi sama orang yang nggak terlalu dekat dengan kita, nggak perlu menghabiskan tenaga ditengah kerumunan orang dll. Cukup stay at home, baca buku, nulis sesuatu, nonton anime/film, makan tidur dll. That's an awesome life for introvert. Nggak ada keluhan apapun ketika diminta stay at home.

Anyway, diluar pro dan kontra, suka nggak suka nya keadaan yang memaksa kita buat stay at home, ada beberapa hal yang bisa saya ambil. Terutama himbauan untuk Social Distance atau membatasi kegiatan sosial secara fisik. Bagi saya yang sudah biasa sendiri (kasian banget gue) hahaha, ini bukan masalah serius.

Atau memang ini adalah masa dimana semua orang sedang diajari untuk membiasakan dengan kesendirian. Mencukupkan diri sendiri, merasa cukup dengan diri sendiri. Segala sesuatu dirumah dan sendiri. Kerja dirumah, sendiri, papa mama juga nggak akan ngerti kalau ada error di pekerjaanku. Intinya adalah sendiri, entah pada akhirnya manusia itu akan sendiri atau menemukan soulmate yang pas untuknya. Honestly, bagi saya social distance bukan masalah baru. Pada akhirnya memang siapapun akan menghadapi keadaan "sendiri"

Bahkan ibadah pun sendiri hehe, memang ada ibadah online, tapi saya nggak melakukan ibadah online. Ini sangat relevan dengan keadaan saat ini. Ibadah dan hubungan dengan Tuhan tidak lagi dilihat dari bagaimana kita berpakaian ketika ke gereja, bagaimana gedung gereja yang kita datangi, seberapa banyak jemaat yang datang dll. Just you and Lord.

Saya cuma tersenyum ketika sebagian orang "mengeluh" karena dihimbau stay at home dan tidak ada ibadah secara fisik.
"yah, nggak bisa ke gereja"
"biasanya kalau ke gereja kan disana rame-rame" (hmm, ibadah rame-rame???)
dll
dll
dll...

I found something new why I always do everything alone and I'm so grateful.

ketika orang lain berempati "kamu sendirian saja ya?" dan itu lama-lama menjadi kebiasaan dan bukan sebuah masalah lagi, saat ini ketika orang bingung karena apa-apa harus sendiri, hal itu saat ini sudah tidak lagi menjadi masalah buat saya. Percayalah, ada sesuatu yang bisa disyukuri dalam setiap kejadian yang dialami.

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allat turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Selasa, 21 Januari 2020

that's not my fault or my fault?

kadang kita memang tidak pernah tau, ketika seseorang tertawa didepan kita nyatanya dia sedang menyimpan sesuatu yang besar juga tentang kita. entah itu sebuah kesalahan kita yang tanpa kita sadari atau mungkin juga hal lainnya.

ada sebuah perasaan sedih dan cukup kecewa ketika seseorang yang telah kita percayai begitu lama, tertawa dan seakan tidak pernah terjadi apapun nyatanya menyimpan berjuta misteri. menyimpan semua kesalahanku tanpa dia mau memberitahukannya.

sampai suatu ketika dia menjauh, dia berubah, bukan dia yang aku kenal dulu. jika dia mengatakan apa yang menjadi kesalahanku sejak awal, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini. hanya karena orang masa laluku yang kembali mengganggu kehidupanku, dia bisa bersikap seperti ini kepadaku?

jujur, aku sangat kecewa ketika dia tidak memberitahu apa yang menjadi salahku dari awal, dia tidak mengoreksi aku, dia membiarkan masalah menjadi besar kemudian dia mendiamkan aku seperti sekarang ini?

it's our end?

Rabu, 15 Januari 2020

Jealous

Tulisan pertama saya di blog ditahun 2020. Jealous.
Pembuka tulisan di blog setelah saya lama sekali tidak menulis disini, bahkan saya tidak sempat menulis kembali karena kesibukan pekerjaan dan kegiatan yang lain. Hanya saja, saya akan tetap menulis.

Pertengahan tahun lalu, sebuah hal terjadi dalam kehidupan saya. Saya bertemu seorang kawan lama yang saat ini bisa dibilang menjadi seseorang yang special buat saya. Seseorang yang kita pikirkan ketika membuka mata dan terakhir kali kita pikirkan sebelum menutup mata dimalam hari nyatanya memang menjadi seseorang yang rawan membuat kita menjadi down.

Kembali ke judul tulisan saya, dalam bahasa Indonesia artinya cemburu. Saya melihat dia menerima kopi dari seseorang yang lain dan dia sangat excited dengan pemberian tersebut. Dan sebenarnya, saat itu juga, diwaktu yang bersamaan saya membawakan dia bubur kacang hijau karena saya cukup khawatir dengan kesehatannya. Saya mengurungkan niat saya untuk masuk dan segara pulang.

Malam itu saya cukup merasa sedih, perasaan yang dirasakan umumnya wanita ketika melihat seseorang yang dikasihi dekat dengan perempuan lain. Saya menyimpan perasaan itu sendiri, bagaimana mungkin saya menyampaikan perasaan tersebut hanya karena emosi sesaat saya. Ditambah memang saya tidak berhak untuk cemburu.

Beberapa hari setelah dia menerima kopi dari perempuan lain, saya berniat mengirimkan kopi untuk dia. Awalnya dia menolak pemberian saya, mungkin karena memang pemberian dari saya bukanlah yang dia harapkan. Mungkin dia menunggu pemberian atau pertemuan dengan perempuan lain. Entah siapa.

Saya hanyut dalam pikiran dan perasaan cemburu. Bagaimanapun, saya perempuan dan saya tidak bisa bersikap santai melihat seseorang yang saya kasihi bersikap demikian.

Sorry, ini tulisan terburuk yang pernah saya posting disini hehehe.

Rabu, 02 Oktober 2019

He change my life

Saya ingin membagikan sebuah cerita, dimana kehidupan saya yang Tuhan ubahkan. Saya akan memulai cerita saya dari masa SMP sampai saat ini dengan pekerjaan yang Tuhan percayakan, sebuah pekerjaan yang baik dan pekerjaan yang sangat saya cintai.

Puji Tuhan...

Saya lahir dari keluarga yang sederhana, Papa Mama dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja. Saya merasakan belum punya rumah, tidak punya uang jajan, dijadikan bahan ejekan kanan kiri. Hanya saja, saya diberikan otak yang kata orang cerdas. Saya bersyukur untuk hal itu.

Ketika SD, SMP, SMA saya tidak pernah turun dari peringkat 3 besar Paralel (umum). Rangking terjelek saya semasa study adalah rangking 3. It is not bad. It is good enough. Saya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat sombong dan angkuh. Saya pikir, dengan mengandalkan kepintaran saya, semua orang bisa tunduk kepada saya.

Saya tidak pernah punya teman dekat semasa sekolah. Saya tidak membutuhkan teman dekat, tetapi teman yang butuh saya. Di masa-masa sekolah, saya tidak peduli kalau ucapan, sikap dan perilaku saya menyakiti hati orang lain. Bagi saya, kalau orang lain mau menjauh, silahkan. Mereka pasti butuh saya karena saya pandai. Hal itu berlangsung terus sampai kuliah dan masuk dunia kerja.

Someday, keadaan keluarga yang biasa saja, ucapan dan ejekan orang yang menyakitkan hati itu yang memaksa kita menjadi pribadi yang kuat. Dari mental sampai fisik. Ketika SMP saya sudah terbiasa mencari uang sendiri dan tidak meminta uang jajan ke orang tua, saya menjadi guru les untuk anak SD (sekali lagi karena saya mengandalkan kepintaran saya). Saya menggadaikan jam main dan senang-senang supaya saya bisa dapat uang jajan.

Oh, saya melupakan sesuatu. Ketika saya masih SD, papa saya sudah mengajarkan saya mandiri dalam hal financial. Ketika saya masih kelas 2 SD, saya sudah merasakan panas-panasan jualan balon terbang. Jadi papa saya yang menunggu saya di sepeda dan saya diminta keliling menjajakan balon. Saya menawarkan mainan ke anak-anak seusia saya :")

Merinding ah nulisnya... :")

Ketika duduk di bangku SMA saya menjadi tukang ojek. it is true :)
Sebelum bertebaran ojek online seperti sekarang, saya sudah pernah jadi tukang ojek. Customer saya itu adalah ibu-ibu yang akan berangkat kerja ke pabrik rokok. Mereka sudah masuk kerja jam 5 pagi. Kebayang kan saya harus bangun dan prepare jam berapa? Setelah mengantar saya lanjut ke Sekolah. Saya tidak pulang dulu karena hemat bensin, kalau saya pulang saya harus pakai bensin dua kali lipat.

Udah punya motor? berarti orang punya dong?
No no... Motor itu juga saya dapatkan dari hasil buruh disalah satu konveksi pabrik jaket. Saya menjadi kurir antar barang disiang (sepulang sekolah) sampai sore hari bahkan malam. Dan upahnya saya pakai untuk membayar kredit motor second yang saya pakai.

Dari kerja keras itu kebutuhan pribadi saya cukup. Bahkan lebih yang kemudian saya investasikan untuk membeli mesin jahit sendiri. Ketika saya duduk di kelas 3 SMA, saya sudah punya 16 mesin jahit. That's why aku nggak pernah mikir pacaran semasa SMA, karena kehidupan ini cukup keras bagiku. Dibalik itu semua juga ada pertolongan orang tua dan dukungan dari mereka. Mama saya menolong saya untuk mengkoordinir ibu-ibu setempat untuk bekerja ditempat saya.

Dari titik itu saya sudah tidak pernah khawatir dengan financial keluarga saya. Kami menjadi keluarga yang cukup, bahkan lebih. Papa memutuskan merantau ke Bali supaya saya bisa lanjut kuliah.

Masalah kerja keras sudah biasa saya lakukan dan saya tidak pernah mengeluh akan hal ini. Di kampus pun saya menjalankan bisnis saya, banyak organisasi yang memesan kaos di tempat saya bahkan kaos di kampus pun memesan ditempat saya. Agak bermain politik di kampus hehe.

Saya sudah berubah? Belum... saya belum berubah..
Saya masih sombong dan angkuh. Saya sudah tidak kurang, financial saya sudah cukup, saya punya otak yang cerdas, saya didekati dengan banyak laki-laki (meskipun tidak ada salah satu dari mereka yang menarik buat saya) yang membuat saya merasa di atas angin.

Sampai pada suatu moment, saya mengalami kekeringan rohani. Saya bergereja, saya jemaat yang aktif dan saya menjadi orang yang sangat sibuk pelayanan. Hampir setiap hari saya ke gereja. Tetapi, saya tidak mengalami pertumbuhan secara rohani. Saya hanya sie sibuk, kerohanian saya tidak bertumbuh yang ada malah meorosot.

Siapa peduli?
Orang-orang disekitar saya masih memandang saya menjadi pribadi yang hebat. Saya masih melanjutkan kegiatan kuliah, pelayanan yang menyibukan dan bisnis yang berjalan dengan baik. Saya masih bisa mengimbangi pergaulan teman-teman saya. it is enough?

Big No. I still need Jesus.

Satu hal yang perlu saya tekankan disini adalah satu kali Tuhan sudah nangkap kamu, sampai mati kamu akan terus ada dalam genggamanNya. Hanya butuh respon yang benar ketika kita menginginkan sebuah terobosan terjadi.

Suatu ketika Tuhan kembali tangkap saya menjadi satu pribadi yang baru. Saya mengalami berbagai proses. Kepandaian dan kecerdasan saya tidak berguna tanpa ada sikap hati yang benar.

Saya memutuskan untuk pelan-pelan manrik diri dari kesibukan yang sia-sia. Terjadi guncangan ya tentu saja, saya yang dulunya dinilai "rohani banget", dibilang "fika lagi sakit". Wait, sakit?
Dan ini bener terjadi, ketika saya pelan-pelan menarik diri supaya tidak menimbulkan rasa nggak enak saya dianggap sebagai pribadi yang lagi sakit -_-

Tuhan bener-bener ngajari saya bagaimana saya belajar untuk mau tunduk. Sebelumnya saya pribadi yang tidak mau dan tidak akan tunduk, jangan harap ada laki-laki yang bisa menundukan kemauan saya, kalau laki-laki itu mau sama aku, dia yang harus tunduk sama saya. Sampai segitunya dan itu bener.

Roh kudus memampukan saya untuk benar-benar menyangkal dan melepas "ke-aku'an ku". Selama roh kudus memproses kehidupanku, tiada hari tanpa nangis. Tunduk pada aturan atau paling tidak memiliki respon yang benar itu hal paling sulit yang pernah saya alami. Bukan saya yang mampu, tetapi Roh Kudus yang memampukan.

Tuhan pula yang mengajari saya untuk mau rendah hati. Yang sebelumnya saya tidak mau melakukan hal-hal remeh, tetapi sekarang kalau Tuhan yang suruh saya ngepel lantai, ngelap kaca atau apapun akan saya lakukan.

Prosesnya berapa lama?
Tiga sampai Empat tahunan. Lama sekali buat saya. jatuh bangun, naik turun, nangis, gulung-gulung, teriak-teriak, guling-guling, salto, tiarap, push up, smack down -____-

Jadi kalau saat ini saya punya keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, financial yang baik itu bukan hasil usaha saya. Itu hanya bonus dari respon yang benar kepada Tuhan.

Tenang saja, penyertaan Tuhan itu Ya dan Amen. Jadi gini, kalau Tuhan belum mendapatkan sepenuhnya dari dirimu, Tuhan akan terus kejar, sampai Tuhan mendapatkan sepenuhnya dari dirimu, sepenuhnya dari hatimu, segenap dari akal budimu.

Responi segera :)

Jumat, 02 Agustus 2019

Sebuah Keputusan

Entah bagaimana ceritanya, ada satu kesempatan saya kembali berkomunikasi dengan seseorang. Sekian lama saya hanya berdoa dalam diam dan mengamati dari dunia maya. Ya, saat itu saya tidak memiliki keberanian mengungkapkan. Ketika saya memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang seharusnya saya katakan pikiran buruk saya dan hal-hal yang menjadi ketakutan saya sama sekali tidak terjadi. Saya masih bisa berteman dengan dia, masih menjalin komunikasi dengan baik.

Keputusan pertama mungkin bisa dibilang adalah keputusan yang tepat.

Keadaan kedua adalah saya dihadapkan pada pilihan saya harus bertahan dengan perasaan saya atau saya harus pergi dan melupakan perasaan saya?
Jika bertahan saya tidak memiliki jaminan bahwa dia memiliki perasaan yang sama.
Jika saya pergi, hubungan saya dan dia tidak akan menjadi semakin baik, meskipun itu hanya sebatas teman saja.
Berat......
Secara manusia, saya ingin memilih pilhan yang kedua. Saya pergi, hilang dan melupakan segala perasaan yang berhubungan dengan dia. Tetapi keputusan ini, saya tidak bisa lakukan sesegera itu. Beberapa hari saya diam dan memikirkan keputusan apa yang akan saya ambil. Akan lebih mudah jika saya menghapus semua komunikasi dengan dia, saya membuka hati untuk orang lain dan melanjutkan kehidupan saya. Saya belum menemukan keputusan dan jawaban sampai saat ini.

Lalu? Apa yang terjadi?
Saya masih diam dan mencoba menguatkan diri saya ketika dia tiba-tiba datang dalam komunikasi yang baik.
Sedih? Tentu saja :)
Saya masih sedih karena saya memilih bertahan dan belum menemukan sebuah jawaban. Saya harus pergi atau saya harus bertahan?

Saya tidak tahu apa saja yang terjadi semalam, tetapi dua hari ini saya merasakan sesuatu yang membuat hati saya bersedih. Pikiran saya tertuju pada dia, apa yang saya lakukan teringat dia. Entah apa yang terjadi dengan dia saya juga tidak memiliki jawaban. Atau mungkin sebenarnya saya sudah kehilangan dia? Atau mungkin dua hari ini ada orang lain yang sudah bersama dia? Atau apa?

Keputusan!
Lagi dan lagi saya dihadapkan pada sebuah keputusan yang harus saya ambil.

Selasa, 23 Juli 2019

Terbaik (Yudisium)

Saya baru saja menyelesaikan pengukuhan Yudisium Strata 1 beberapa jam yang lalu. Saya berada di posisi duduk paling depan dan bersama dengan rekan cowok. Dalam barisan paling depan, saya yakin kalau saya adalah orang yang paling cantik karena dalam deret itu hanya saya satu-satunya perempuan hehe. Saya memandangi satu per satu dosen dosen yang pernah membimbing saya dalam perkuliahan. Saya mengingat moment apa saja yang pernah saya alami bersama dengan beliau. Sangat banyak, salah satunya adalah Kepala Program Studi saya, merupakan satu-satunya dosen yang pernah mengajak saya berdoa diruangannya karena saat awal masuk kampus banyak pergumulan dalam studi (tidak selancar keliahatannya).

Sebelahnya lagi ada dosen saya yang lain, saya cukup kagum dengan pembawaannya yang tenang dan cukup unik. Kemudian saya menoleh ke samping kanan ada dosen pembimbing utama saya, melihat saya dan tersenyum, sebelumnya menyapa saya dan berkata "akhirnya kamu bisa selesai". Barisan kanan agak belakang ada dosen penguji saya, saya memandangnya dari kejauhan dan bersyukur karena bantuan beliau saya "diijinkan" lulus.

Undangan jam 8 pagi dan prosesi yudisium jam 10 pagi, saya sengaja mengamati sekeliling saya, mungkin hari-hari terakhir saya ada diruangan ini dan tidak lama lagi saya akan menjadi alumni, oh atau sebenernya saya sudah alumni?

Tiba waktunya pengukuhan yudisium. Nothing Special, kanan kiri saya bukan lagi kebanyakan teman satu angkatan saya. Kebanyakan mereka mahasiswa 2 tahun dibawah saya. Ya, saya memang lulus satu tahun lebih lama karena sibuk bekerja sampai tidak ada fokus untuk melanjutkan skripsi dan baru baru saja mengurus keperluan Yudisium, satu tahun setelah Sidang Kompre.

Saya dipanggil dan IPK saya memang masih bisa dikatakan baik. Saya maju ke depan dengan perasaan sedikit gugup. Saya berjabat tangan dengan Kepala Program Studi dan beliau mengatakan "Akhirnya kamu selesai ya". Saya hanya tersenyum dan tidak tahu harus merespon apalagi. Setelah semua peserta Yudisium dipanggil satu per satu, mulailah pembacaan lulusan-lulusan terbaik.

Tidak ada nama saya di jajaran lulusan terbaik hehe. Ya siapa juga yang akan menjadikan saya lulusan terbaik, lulus satu tahun lebih lama dan mengurus keperluan Yudisium dua tahun setelahnya. Saya fokus bekerja dan bekerja, banyak hal yang harus saya dahulukan ketimbang urusan Yudisium. Bukan saya meremehkan Yudisium, hanya ada prioritas lain yang sedang dikerjakan, seperti menulis di sela-sela kebosanan.

FYI, saya tidak menemukan dosen pembimbing 2 saya hadir. Mungkin beliau sedang ada agenda lain, padahal saya berharap bisa bertemu dan mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau. Ada satu moment juga ketika saya kembali ke tempat duduk saya setelah menerima SKL, saya ditegur oleh Seorang Dosen Prodi lain "Fika, akhirnya kamu lulus". Dosen yang pernah mendebat saya sampai nangis didepan umum, dihadapan jajaran staff kampus dan mahasiswa, salah satu dosen yang menguatkan mental saya.

Selesai prosesi Yudisium dan makan-makan, saya bergegas ke kantor dan hanya mengambil beberapa foto bersama teman satu angkatan. Sesampai dikantor saya berganti pakaian kerja dan mulai kembali fokus bekerja, saya melihat map berisi Surat Keterangan Lulus, tanpa ada predikat terbaik. Manusiawi, saya sempat sedih dan kecewa ketika tidak ada nama saya dijajaran mahasiswa terbaik.

Bukan untuk menyombongkan diri saya, tetapi dari kecil saya selalu ada dijajaran anak yang selalu "dibanggakan". Dari SD - SMA, saya ada dijajaran siswa teladan dan berprestasi. Rangking terburuk saya ada diposisi 2 dan itupun sangat jarang saya ada di rangking 2. Semasa awal kuliah saya sempat menjadi kandidat Student Of The Year, menjadi ketua pelaksana event terbesar kampus dan lain sebagainya. Itu juga yang membuat saya mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan kebanyakan staff dan dosen kampus.

Saya tidak pernah ditolak dalam pergaulan. Teman-teman di sekolah, di kampus dan dimana saja bisa menerima saya dengan sangat baik. Mungkin karena saya saat itu mengandalkan kepintaran saya yang tidak seberapa ini hehe. Sampai pada masa memang saya sangat membatasi lingkaran pertemanan saya karena suatu hal.

Saya cukup stress kali ini ketika nama saya tidak ada dijajaran mahasiswa terbaik.

The value from the story.
Saya mencoba untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan memang berputar, saya tidak harus selalu berada diatas. Ketika saya ada dibawah dan menjadi sosok yang biasa-biasa saja, saya harus bisa menerimanya. Padahal, ratusan mahasiswa yang lain senang-senang saja karena hanya bisa lulus. Mereka berfoto ria dan tertawa, sedangkan saya? Hahaha, lucu sekali sesuatu yang membuat saya agak tergoncang siang ini.

Berhati-hatilah dengan sikap hati ketika seringkali berada diatas, seseorang yang selalu berada di atas akan merasa cukup stress ketika satu kondisi tidak berada diposisi teratas. Hati-hatilah dengan pikiran bahwa "aku lebih baik dari mereka", bisa saja itu yang akan membunuh mood baikmu seharian.

Bersyukurnya saya karena saya bisa belajar menerima untuk tidak selalu menjadi yang terbaik saat ini, saat saya masih muda dan saat saya tidak terlalu jatuh, meskipun saya tidak ada di puncak lagi.

Pada intinya, saya bersyukur karena saya sudah bisa menyelesaikan study saya :)

Selasa, 12 Maret 2019

Membayangkan "Penderitaan" Naik Gunung

Saya orang yang sangat senang mendengarkan cerita beberapa teman saya yang naik gunung. Mereka menceritakan puasnya mereka sampai di puncak dan melihat pemandangan yang indah. Tidak sedikit juga dari mereka yang menceritakan kebersamaan bersama teman ketika naik gunung, masak di puncak gunung, berbagi dan lain sebagainya.

Apakah saya ingin naik gunung?
Ya, saya ingin naik gunung. Melihat keindahan alam dan merasakan kebersamaan dengan teman. Saya ingin foto dengan background pemandangan dan langit yang luas, pakai pakaian ala-ala gunung, pakai sepatu ala-ala gunung. Membayangkan saja rasanya perfect sekali.
Apakah saya pernah naik gunung?
Nggak hahaha.

Kalau saya membayangkan enaknya saja saya naik gunung, saya pasti sangat ingin naik gunung. Melihat orang yang posting foto naik gunung, sudah pasti saya ingin naik gunung.
Saya belum pernah naik gunung tetapi saya punya beberapa teman yang suka naik gunung. Menurut pandangan saya, banyak positifnya bergaul dengan orang yang suka naik gunung.
Pertama, mereka adalah orang yang nggak gampang ngeluh.
Kedua, orang yang suka naik gunung kebanyakan adalah orang-orang yang pandai menghargai orang lain.
Ketiga, yang menurut saya paling penting, mereka berpikiran terbuka dan suka berteman plus terbiasa bertemu dengan orang baru atau pengalaman baru.

Saya pribadi akan sangat siap menerima semua hal positif dari naik gunung. Tetapi saya coba berpikir, apakah saya siap menghadapi penderitaan naik gunung? Jawabannya tidak haha.
Tidak banyak teman yang menceritakan hal negatifnya naik gunung, bahkan jeleknya naik gunung tidak terupload di sosial media. Beberapa alasan saya yang menjadikan saya tidak siap jika saya harus naik gunung misalnya

1. Kulit saya bisa gosong wkwkwk. Saya bukan cewek yang rajin-rajin banget perawatan sehingga saya lebih cenderung untuk menjaga kulit saya. Saya tidak pakai cream pemutih tapi saya memutuskan untuk menjaga kebersihan kulit saya. Bukan berarti saya anti panas matahari, nggak juga.
2. Saya belum siap jika saya harus sakit perut mendadak dan mau bab dimana? Untuk membayangkan saja udah manyun-manyun sendiri hahaha
3. Kehabisan Supply baik tenaga, makanan, listrik mungkin dll. Apalagi, saya cewek yang nggak tahan laper. Saya bisa nahan ngantuk tapi saya nggak bisa nahan laper hehe.

Sekali lagi, saya sama sekali tidak beranggapan bahwa naik gunung ini negatif, tapi saya pribadi belum siap mental menghadapi hal negatifnya. Saya hanya siap dengan hal positifnya saja.

What's the value from the story?

Kalau kita melihat kesuksesan orang lain, seakan kita sangat mau menjadi orang itu. Kalau saya melihat keindahan pemandangan yang teman saya dapatkan ketika sampai puncak, saya juga mau sampai puncak. Masalahnya, saya hanya nggak mau mengalami penderitaan yang mereka alami sebelum sampai ke puncak. Masalahnya, kita belum tentu mau menjalani tingkat disiplin yang tinggi seperti orang-orang sukses pada umumnya.

That's why, saya selalu melihat dibalik puncak dan kesuksesan seseorang pasti ada "penderitaan" yang dilalui.

Jumat, 08 Maret 2019

Keane dan Rayner

Kali ini saya akan bercerita tentang kegiatan saya selama 4 bulan terakhir dan tidak selalu saya tuliskan. Masih di profesi yang sama yaitu seorang pengajar.

Ada murid saya bernama Keane dan Rayner. Keane adalah murid kelas 1 SD sedangkan Rayner masih TK B. Kebetulan mereka adalah anak-anak yang sudah ikut bimbingan belajar dari pembukaan learning center tempat saya bekerja. Saat itu, teacher yang mengajar hanya ada saya dan owner. Otomatis kelas akan lebih banyak saya yang handle.

Saat itu, saya merasa dapat mengajar anak jenis apapun. Dari yang diam sampai yang bawel. Di awal saya masih semangat, jadi apapun kondisi muridnya saya mencoba menikmati. Termasuk kelas Keane dan Rayner.

Awal mula saya mengajar dan anaknya masih anak-anak baru saya masih bisa mengendalikan anak-anak itu dengan baik, materi bisa saya sampaikan meski saya agak jengkel karena beberapa kali nggak dianggep hehe.

Sampai pertemuan kedua, ketiga masih aman karena masih tergolong baru tetapi sudah mulai kelihatan karakter aslinya anak-anak ini. Mereka adalah anak yang aktif dan suka main, jadi saya kadang merasa kelelahan kalau saya harus menuruti mereka main. Sampai satu moment saya nggak sanggup lagi mengikuti keinginan mereka main, saya mau mengajar anak sesuai dengan konsep kelas yang sudah saya siapkan. Beruntungnya, kedua anak ini bukan anak yang bisa diajak untuk menjalani kelas sesuai dengan konsep saya, sampai satu titik mungkin anaknya sebel saya dilempar duplo blocks dan kena kepala saya.

Namanya anak-anak, saya akan salah kalau sampai memasukkan kejadian ini sampai hati. Sampai akhir kelas akhirnya saya terbawa suasana BT. Saya coba komunikasikan kalau saya nggak sanggup untuk ambil kelas ini.

Nggak lama dari kejadian itu ada partner yang baru dan ternyata dia bisa sangat asik ketika dia berproses di kelas Keane dan Rayner. Saya dan owner masih heran "kok kelasnya bisa se-asik itu ya?"
Nggak terjadi masalah apapun dan materi yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh anak.

The value from the story

Kadang saya merasa kalau saya bisa menghadapi semuanya sendiri, dengan kecakapan dan pengalaman saya mengajar yang sudah cukup lama. Ketika saya bertemu dengan anak bertipe seperti Keane dan Rayner dengan cara belajar mereka yang sangat aktif, honestly saya jadi kuwalahan. Bahkan saya mengatakan pada diri saya sendiri kalau saya memang nggak sanggup dengan tipe anak seperti ini.

Rekan kerja baru yang awalnya saya rasa dia nggak akan bisa, saya aja nggak bisa masak dia bisa? ternyata dia malah bisa membawa suasana kelas menjadi lebih hidup. That's amazing.

Begitulah hidup, nggak ada yang sempurna. Toh meskipun saya sudah merasa cakap mengajar dan merasa bisa mengajar, saya masih tidak sempurna. Masih banyak hal-hal yang saya perlu poles lagi. Atau memang sebenarnya akan ada titik-titik tertentu yang saya tidak bisa lakukan dan memang harus dilakukan oleh orang lain :)

Minggu, 03 Maret 2019

Mensyukuri Hal Bodoh

Kejadiannya memang sudah lama, lebih dari sebulan yang lalu. Saya mendapat undangan dari rekan saya yang akan menikah. Kebetulan, rekan saya ini sudah kenal saya sejak lama dan sekarang menjadi partner kerja yang fokus dibidang pendidikan robot.

Kemudian saya duduk disalah satu meja yang sesuai dengan kode undangan. Karena saya single #ehh jadi saya berangkat bersama dengan sahabat cowok saya. Kebetulan sahabat saya ini anak kos, jadinya lumayanlah bisa makan gratis.

Saya sepakat dengan teman kantor yang lain supaya duduk satu meja, karena saya yang berangkat paling belakangan, ya saya ngikuti aja dimana mereka duduk. Saya nggak masalah dengan tempat duduk atau apapun yang ada disana.

Karena acara belum juga di mulai, jadilah saya cek story Whatsapp dan salah satu kenalan saya membuat story kalau dia sedang ada ditempat yang sama. Sebenarnya, kami pernah satu komunitas, entah karena saya yang terlalu sombong atau memang jenis privasi dia yang level dewa, saya nggak pernah tau anaknya ini bentuknya seperti apa.

Dengan PD nya karena saya merasa kenal dengan teman saya ini, saya menjawab story WA nya dengan santai
"wah aku juga ditempat yang sama, kamu di sebelah mana"
Dan jawaban dia adalah
"Lah kan aq depan mu"

Dan benar, depan saya persis adalah seorang yang wujudnya laki-laki dan dia itu yang pernah chating dengan saya dari lama tapi saya yang baru sekarang tau bentuk aslinya.

Malu jelas lah, karena saya jelas jelas nanya keberadaan orang yang ada didepan saya. Tapi saya nggak salah, salah dia aja ngapain pasang DP whatsapp yang nggak jelas? kan saya jadi nggak tau #WanitaNggakPernahSalah

Kalau kata temen sebelah saya "kalau aku jadi kamu, pasti aku langsung cabut pulang"

Saya nggak akan mungkin meninggalkan acara sebelum semuanya selesai. Sepulang dari acara saya mendatangi dia dan mengajaknya ngobrol.

I don't know why, sejak obrolan pertama saya dengan dia di depan gedung pernikahan itu, tidak ada sedikitpun perasaan was was dan curiga. Saya merasa bahwa dia baik baik saja dan dia adalah orang baik. Seminggu kemudian dia datang ke kantor dengan membawa pengetahuan dia tentang kelistrikan dan lain-lain.

Kemudian dia datang lagi dengan membawa ilmunya yang lain. Saya yakin pada dasarnya dia adalah orang baik meskipun dia pernah berkata kalau dia bukan orang baik. Saya juga nggak tau kenapa dia nggak ada temen deket padahal berteman sama dia itu menyenangkan :)

What the value from the story?

Kita nggak pernah tau kapan dan dimana kita bisa bertemu dengan orang yang unik. Bahkan lewat hal terbodoh sekalipun. Saya masih bersyukur saat itu saya membalas story nya karena saya jadi bisa ngobrol dan tau bentuk aslinya, meskipun dibalik itu saya malu juga lah -_-
Mungkin 90% dia nggak akan nyapa saya duluan kalau bukan saya yang melakukan hal bodoh duluan hehe

Karena dia handalnya kelewatan dibidang elektronika, tapi dia selalu bilang "biasa aja", ini kok saya merasa jadi tertampar kalau dihadapkan manusia macem gini. Diem nggak banyak omong, tapi karya dia yang berbicara.

Sesuatu yang sangat saya syukuri ketika saya bisa bertemu dengan orang baik lainnya :)

Kamis, 28 Februari 2019

Jejak Hidup

Kemarin malam, saya berencana menjenguk ayah teman saya yang sedang sakit. Beliau dirawat dirumah sakit, tidak jauh dari rumah saya. Karena saya pulang kerja dan langsung mampir kerumah sakit, hampir sampai dilokasi saya kelupaan kalau saya tidak membawa apapun untuk dia. Saya putuskan untuk lanjut ke sebuah toko roti dan membawakan satu kardus roti. Ketika saya sampai di rumah sakit, saya di info supaya saya lewat belakang saja karena jam besuk sudah habis. Masih bisa jenguk kalau saya lewat pintu belakang.

Saya sempat salah beberapa tempat, dan saya putuskan buat telfon saja. Diarahkanlah saya via telfon sampai ketemu dengan dia. Saat itu, saya tidak ada janji dengan teman yang lain, kecuali dia. Saya berangkat sendiri karena teman saya ini adalah teman yang duduk sebangku dengan saya selama saya SMA. Sejak kelas 1 SMA. Dia cowok dan memang saya lebih suka berteman dengan cowok sejak kecil.

Pikiran saya awalnya, hanya saya yang akan datang menjenguk papa nya karena saya teman baiknya dari jaman SMA. Saya tidak pernah tau kalau ternyata ketika saya datang sudah banyak teman SMA lain yang ada di situ. Karena saya anak IPA yang suka main dengan anak IPS, bully untuk saya masih sama dari jaman SMA
"weee, arek IPA nyasar"
Ya karena nggak banyak anak IPA yang suka main dengan anak IPS, kecuali saya. Teman yang ada disitu memang semuanya anak IPS kecuali saya, tapi mereka masih ingat kalau pulang sekolah main kerumah anak IPA. Ya nggak mungkin belajar, pelajarannya saja sudah beda. Kecuali pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Saya duduk bersama gerombolan teman lama, agak keki karena saya lama juga nggak nongkrong bareng mereka. Awalnya saya memang agak kesulitan mencerna cara bercanda mereka. Ya setelah sekian tahun lulus SMA dan lingkungan berteman saya juga otomatis berubah, cara saya bercanda dan menyikapi joke juga berubah.

Setelah saya datang, rupanya masih banyak teman-teman SMA yang datang. Saya berpikir, apakah setiap hari selama dia merawat ayahnya di rumah sakit selalu ada teman yang datang?
Nggak lama teman akrab saya datang dan langsung menyapa saya, karena kami memang sudah klik dari jaman SMA.
"kamu dari rumah?"
"iya, tiba-tiba di ajak"

Teman yang lain chat saya via whatsapp, memberi info kalau dia nggak bisa datang hari itu karena urusan study. Dia akan datang hari sabtu dan menginap di Rumah sakit.

What's the value from the story?

Saya berteman dengan teman saya ini sudah lama. Hanya karena kami sebangku ketika kelas 1 SMA dan dia adalah teman pertama saya di SMA (karena saya anak pindahan). Tapi saya bisa tetap berteman baik bertahun-tahun berikutnya. Ketika masuk dipenjurusan, kami sudah beda jurusan, dia masuk jurusan IPS dan saya masuk jurusan IPA. Kami hanya sebangku selama satu tahun saja. Tapi jejak hidup satu tahun dari dia bisa membawa saya yang capek pulang kerja meluangkan waktu untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Saya tidak pernah kenal ayahnya, saya hanya berteman baik dengan teman saya.

Ketika melihat teman lain yang sudah ada di sana sebelum saya datang dan yang masih berdatangan lagi, saya pikir dia adalah teman yang meninggalkan jejak hidup yang baik. Mereka adalah teman yang kurang lebih 9 tahun nggak bareng-bareng setiap hari, tapi masih datang menjenguk.

Teman saya ini adalah teman yang sangat sederhana. Jauh dari tempat tongkrongan mewah, kadang hanya ngopi dipinggir jalan. Tetapi dia juga tidak keberatan menolong teman yang lainnya.

Pelajaran penting adalah menjadi pribadi yang baik dan sederhana lebih penting dari kamu punya banyak uang. Mungkin kamu akan senang ketika kamu punya banyak uang, tapi uangmu tidak akan menjamin orang sekitarmu akan mencintai kamu. Ketika kamu punya banyak uang, temanmu akan sangat banyak, tetapi bagaimana ketika kamu dalam posisi down? Apakah teman mu masih ada?

Ketika kamu punya banyak uang, kamu dapat membeli apapun yang kamu mau, kamu bisa mendapatkan perempuan manapun yang cantik yang kamu inginkan, kamu dapat menggait laki-laki ganteng yang kamu inginkan. Tetapi ketika uang itu nggak ada lagi (semua yang ada dibawah kolong langit ada masanya), atau uangmu tidak bisa mengantar kamu kerumah sakit ketika kamu sakit, uangmu tidak bisa menemani makan malam bersama dengan orang yang mencintai kamu, uangmu tidak bisa bercanda dan tertawa lepas dengan joke receh. Siapakah yang akan menemani kamu? Jika bukan orang-orang yang mencintai kamu karena jejak hidupmu yang baik.

Selasa, 26 Februari 2019

Sebuah Musim

Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin.
Semua yang ada di kolong langit ada masanya.
Musim tidak hanya musim semi yang semuanya indah
Musim tidak hanya musim panas yang cukup berat
Bukan juga selalu musim gugur, melihat dedaunan yang berguguran
Musim dingin pun tidak selalu ada

Akan datang kembali musim semi. semua indah tetapi indah tidak akan selalu indah
Kepastian sebuah keindahan yang selalu ada dan tidak kenal musim adalah kasih Tuhan

Nikmatilah sebuah kasih~
Kasih Tuhan

Senin, 28 Januari 2019

Orang Kulit Putih? Kasian Ya?

Kemarin malam, saya menemani seorang rekan lama ngopi. memang saya sudah sangat lama nggak ngopi dengan rekan saya. Saya dikenalkan dengan rekan-rekan ini ketika saya masih aktif sekali berorganisasi di kampus. Kemudian saya sibuk bekerja dan saya nggak ingin kehilangan lingkaran saya.

Kemudian saya berbincang dengan seseorang yang pemahamannya cukup saya kagumi. Baik dalam segi memandang keberagaman dan memandang realitas sosial. Sampai satu titik kami berdiskusi tentang pekerjaan seseorang.

"Mbak, kalau mbak lihat pemuda ganteng yang kulitnya putih kerja bangunan apa yang mbak pikirkan?"
"Ya, mungkin lebih baik dia jadi model atau artis"
"berarti kalau yang kulit hitam kerja bangunan gpp mbak?"

Saya hanya tertawa ketika pernyataan saya dibalik

"Kalau mbak melihat perempuan kulit putih jualan di pasar? mbak kasian nggak?"
Saya nggak mau kejebak dengan statement yang sama
"Nggak, saya biasa aja, dia juga gpp kerja jualan di pasar"

Kami sama-sama tertawa karena saya sudah menyadari apa yang sebenarnya dimaksud oleh rekan saya.

Ya benar, selama ini pikiran saya masih terjajah. Masih ada pengaruh dalam pikiran saya kalau perempuan kulit putih harus bekerja ditempat yang bersih, pakai pakaian yang rapi, punya pasangan yang ganteng dll. Seakan perempuan yang kulit hitam nggak layak mendapatkan itu semua. Perempuan kulit hitam layak kerja panas-panas, layak jadi pesuruh tapi yang kulit putih nggak layak.

Sama hal yang pikiran saya yang masih terjajah ketika saya memandang orang yang kerja bangunan lebih cocok yang kulit hitam, kalau kulitnya putih lebih cocok kerja dikantor atau mungkin jadi artis. Saya jadi layak mentertawakan diri saya sendiri.

Moral life from the story

Seberapa sering sih kita berpikir demikian? seakan kulit putih lebih terhormat dari kulit hitam. Saya pun baru menyadari itu semua kemarin malam ketika saya ngobrol. Ngobrol lebih jauhnya, sebenarnya diskriminasi perbedaan warna kulit tidak berasal dari Indonesia loh. Tetapi kenapa bisa bertumbuh di Indonesia? Bahkan secara tidak langsung saya punya pikiran kolot seperti itu sebelumnya.

Saya sudah sadar, how about you?

Minggu, 27 Januari 2019

Murid saya Namanya Michael

Berjalan 3 bulan, saya menikmati proses saya belajar menjadi seorang pendidik. Saya bertemu dengan banyak murid.Setiap anak memiliki posisi sendiri dihati saya. Salah satunya yang saya ingin tuliskan adalah seorang Michael.

Oh, sebelumnya saya akan ceritakan terlebih dahulu bagaimana sistem mengajar ditempat saya bekerja. Disini masih ada 2 teacher full time yang mengajar anak. Satu teacher difokuskan untuk bagian oprasional dan saya fokus dibagian kurikulum (mematangkan materi yang akan disampaikan ke anak). Dua teacher ini bisa saling bergantian. Misal, saat ini teacher A sedang repot masalah kurikulum, nah dia bisa digantikan dengan teacher B selama teacher B tidak ada kelas lain. Intinya, satu murid bisa diajar oleh beberapa teacher secara bergantian.

Kebetulan, Michael dari awal sampai saat ini hanya saya teacher yang mendampingi proses belajar dia. Dari dia ada di level 3 sampai saat ini dia ada di level 4. Michael salah satu murid yang berkesan buat saya. Bahkan kadang dia lah yang menularkan semangatnya ke saya.

Hampir setiap datang dia dengan wajah yang charming.
"Hai miss, kelas kita dibawah atau diatas?" pertanyaan yang selalu muncul kalau dia sudah datang
"Hari ini saya kelasnya sama siapa?"

Kebetulan, Michael seringkali kelas sendiri dan pernah berpartner dengan temannya yang level dan kelasnya sama. Selama saya mendampingi proses belajar, saya memperhatikan bahwa Michael ini adalah anak yang sering kali mengalah. Bahkan, saya khawatir kalau anak ini nggak akan mau berpartner dengan temannya karena kebetulan si teman ini suka merebut dan agak susah bekerja sama. Sebagai teacher yang saya lakukan hanya berusaha menjaga jalannya kelas supaya tetap kondusif.

Minggu berikutnya Michael datang kembali dan pertanyaannya masih sama, kelas diatas atau dibawah? hari ini saya kelas sama siapa?
Dan kebetulan Michael kelas sendiri saat itu, saya sampaikan
"hari ini Michael kelasnya sendiri ya, soalnya temennya kelasnya ganti jadwal"
"yah padahal saya lebih suka kalau ada temannya"

Jujur, kalau saya ada diposisi Michael saya akan lebih senang jika saya menjalani kelas sendiri, saya tidak perlu berbagi part lego, saya tidak harus mengalah. Si teman Michael ini seringkali membuat saya kasian sama Michael kalau kelasnya barengan.

Kemudian saya tanyakan ini pada Michael
"Kok Michael lebih suka kalau ada temannya? Padahal kan part mu suka direbut dan dia kadang-kadang nggak mau gantian"

"iya emang miss, saya sering ngalah, tapi kan saya bisa belajar sabar dan saya suka berteman jadi saya suka kalau ada temannya"

Toh meskipun saya teacher, saya tidak gengsi untuk mengakui bahwa dalam hal kesabaran dan berteman Michael jauh lebih unggul dari saya. Thank you Michael :)


Selasa, 15 Januari 2019

Mentertawakan Mahasiswa

Hari minggu lalu saya mendapatkan undangan dari bapak lurah. kebetulan saat itu yang menyelenggarakan acaranya adalah mahasiswa dari salah satu kampus swasta kota Malang yang tidak akan saya sebutkan berasal dari universitas mana.

Diundangan tersebut tertulis agendanya adalah peningkatan sumber daya manusia dan UMKM dengan pengenalan IT. Judulnya saja ada peningkatan sumber daya manusia dan menyinggung ranah UMKM. Saya tertarik, barangkali ilmu dari mereka adalah pengetahuan baru buat saya.

Saya datang 30 menit lebih lambat dari undangan karena saya sadar saya sedang hidup di Indonesia. Dan ketika saya datang hanya ada sederetan mahasiswa keren dengan menggunakan almamaternya. Kemudian saya memandang ke arah mereka dengan harapan saya akan disapa dan diajak masuk mengikuti acara. Harapan saya dipatahkan haha. Ternyata mereka cuek seakan saya nggak ada disana. Akhirnya saya kembali pulang. Untungnya rumah saya nggak terlalu jauh dari balai desa.

Masih beritikad baik, saya kembali sekitar 2 jam setelah saya pulang dan ternyata acara baru saja dimulai. Dan isi acaranya zonk!

Pertama nggak ada modul tertulis, mereka hanya ceramah didepan. ngomong kesana kesini, seakan hal yang disampaikan udah yang paling bener dan paling bermanfaat. Mungkin bukan terletak pada manfaatnya tetapi sasaran yang salah. Selama acara saya ngantuk dan nggak sanggup menyelesaikan sampai acara benar-benar selesai.

Kedua materinya pengenalan blog. Dan saya sudah menjadi seorang blogger sejak 10 tahun lalu. Disini, sikap hati saya kembali di uji dengan posisi saya diajarin caranya bikin email dan bikin blog. Berasa udah pengen bukain blog saya aja deh -_-

Nggak lama mereka beralih ke materi lain dan masih tanpa modul tertulis. Materi berikutnya tentang membuat website dan situs yang dibuka adalah situs mainstream banget www.w3school.com anak IT mana yang nggak kenal situs ini?
"jadi kalau blog tadi kan cara gampangnya, tapi kalau mau buat web yang CUSTOM kita harus pakai bahasa pemrograman HTML, CSS, JAVASCRIPT"
Saya sih paham apa itu html, css dan kawan-kawannya. Tapi halo, kamu tuh ngomong dimana pakai bahasa plamet begitu?
Lanjut
"kalau kita sudah CODING, kita tinggal HOSTING dan menentukan DOMAIN kita"
honestly saat itu saya posisikan diri sebagai orang yang bener-bener awam dengan IT dan saya akan plonga-plongo dengan istilah tersebut.
Nggak lama mereka melanjutkan
"kalau sudah tinggal akses ke SERVER dan upload file kita ke server"
(dan semua ocehan itu nggak ada praktek, penjelasan apa itu HTML, CSS, Server, Domain, Hosting. Murni ngomong di depan pakai mic)

Nih, kalau saya nggak sekolah IT dan mengikuti acara kayak gini berasa ngomong sama alien hehe. Disana ada 5 anak perwakilan karang taruna termasuk saya yang fokus karena tahu apa yang mereka bicarakan, 4 lainnya makan dan ngobrol hahaha.

Balik ke masalah undangan yang saya terima, UMKM nya disebelah mana? yang mereka sampaikan adalah "nah, nanti kalau sudah punya barang dari UMKM yang bisa dijual bisa dibuatkan web atau blog nya"
Eeeeetttt daaaaah bocaaaah!
Kalau saya jadi pelaku UMKM buat apa capek-capek kelola web atau blog, jual aja [alai


Saya menarik kehidupan saya 2 tahun ke belakang ketika saya masih menjadi mahasiswa. Saya beruntung karena saya mendapatkan beberapa pengajar meskipun mereka bukan dosen saya secara langsung yang mengajarkan bagaimana pemetaan masalah, berproses dengan masyarakat, menentukan akar masalah, mengenali potensi politik, budaya, sosial dan ekonomi, masih banyak lagi sehingga hari ini saya merasa bisa mentertawakan mahasiswa seperti itu. Ah menggemaskan.

Terimakasih bapak-bapak SC lantai 2 yang dulu saya juga agak kesel kalau diajak diskusi masalah latar belakang, akar masalah yang panjang. Saya sadar kalau saya akan ditertawakan masyarakat kalau saat itu saya nggak dibimbing untuk berpikir sampai ke akar-akar masalah :)